Akhir tahun memang selalu membawa hal yang sama, harapan. Ya, dari sekian banyak makhluk hidup di bumi, harapan akhir tahun mereka untuk menyambut tahun yang baru, hanya satu. Lebih baik daripada tahun sebelumnya. Padahal, jika dilihat-lihat lagi, tahun baru tak banyak memberi sesuatu yang berbeda, apalagi lebih baik, cih. Utamanya untukku. Entahlah, mungkin aku yang terlalu egois, aku tak peduli. Karena inilah yang aku rasakan.
Berbicara tentang harapan, aku tentu saja punya, tapi dulu. Setelah mengetahui bahwa intensiku tak pernah terkabul, aku mulai bosan dengan satu hal bodoh yang disebut harapan itu. Aku sempat berpikir, mungkin Tuhan hanya akan mengabulkan harapan yang diinginkan banyak orang terlebih dahulu, bukan harapan satu orang sepertiku yang memang kutahu berbeda dari harapan kebanyakan orang di sekitarku. Namun, banyak orang juga berkata bahwa Tuhan akan mengabulkan harapanmu, jika itu adalah yang terbaik untukmu. Astaga, apakah itu berarti harapanku adalah bukan sesuatu yang terbaik untukku? Bukankah aku yang tahu apa yang terbaik untukku? Apalagi soal peraasaan. Bukankah hanya aku yang benar-benar bisa merasakan apa yang aku rasakan? Aku takut jika terus-terusan seperti ini, aku mulai tak percaya pada Tuhan.
“Periksa dulu, ya.”. Astaga! Aku benar-benar bosan dengan kalimat yang selalu keluar dari mulut seorang pria tinggi dengan masker di wajahnya itu. Dia selalu mengatakan hal itu 3 kali sehari, bahkan bisa saja lebih. Siapa yang tidak akan bosan mendengar kalimat seperti itu setiap hari selama 3 tahun?! Lalu, pria itu akan segera melakukan hal yang sangat membosankan menurutku, mulai dari meletakkan thermometer di ketiakku, hingga memasukkan beberapa cairan ke tubuhku melalui sebuah jarum yang sangat kubenci. Aku merasakan banyak sekali yang Ia lakukan padaku, tapi entahlah, aku tak bisa melihatnya. Hanya merasakan dan mendengar. Bahkan, keberadaanku di sini juga aku ketahui karena sejak awal aku berada di sini, hingga kemarin, orang-orang, yang mungkin keluargaku, telah mengucapkan Happy New Year padaku sebanyak tiga kali.Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini. Hal terakhir yang aku ingat hanyalah saat Reynand memelukku, saat itu aku berada di rumah Reynand, karena kemarinnya aku tiba-tiba pingsan di jalan. Selanjutnya, entah apa yang terjadi, tiba–tiba aku telah terbaring di sini. Belum dengan keadaanku yang sekarang ini, namun, masih dalam keadaan sadar, tapi, seluruh tubuhku terasa lemas, tak bisa aku gerakkan. Hanya satu tindakan fisik yang bisa aku lakukan saat itu, berkedip. Aku menatap khawatir kepada ibuku saat itu. Bingung, panik, takut, sedih, sakit, semua bercampur menjadi satu. Dan sepertinya ibuku mengerti. Ia memberikan penjelasan tentang keadaanku saat ini. “Tadi kamu pingsan, hidungmu berdarah, dan Reynand membawamu ke sini”, jelasnya. Hanya penjelasan singkat memang, tapi sudahlah, aku juga sudah terlalu lelah dan tubuhku lemah walaupun hanya untuk sekedar mendengar penjelasan Ibuku. Jadi, kuputuskan untuk tertidur.
Hanya itu yang bisa aku ingat sebelum akhirnya aku sekarang terbaring sangat lama di tempat tidur sialan ini. Tak bisa berbuat apa-apa selain mendengar, merasakan sentuhan, menangis dalam diam, dan merindukan Reynand. Ya, memangnya apa lagi yang bisa dilakukan wanita koma yang malang sepertiku ini. Ingin rasanya cepat mati, namun, aku masih teringat betapa Reynand dengan sabarnya menungguku di sana dan betapa orang-orang di sekitarku merindukanku juga. Itu menjadi sedikit menyebalkan bagiku, namun bagaimanapun juga, aku harus bersyukur dan berterima kasih kepada mereka yang masih mengharapkan kehadiranku, walaupun mereka tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Utamanya Reynand. Aku begitu mencintainya, mungkin hampir setara dengan rasa cintaku kepada orangtuaku, atau lebih.
Jujur saja, ada hal yang tak aku suka dari orangtuaku. Hanya satu. Mereka tak menyetujui hubunganku dengan Reynand. Padahal Reynand adalah pria yang nyaris sempurna, untukku. Tatapan mata coklatnya begitu teduh, dan menenangkan. Well, mata inilah yang berhasil membuatku menyukai Reynand untuk pertama kalinya. Ya, aku menyukainya saat dia pertama kali menusukkan tatapannya tepat ke bola mataku. Ditambah sifat dan sikapnya padaku, aku jadi begitu yakin dan tak ragu lagi untuk menyukai bahkan mencintainya. Dia tak pernah menuntutku apapun, dia selalu bisa mengerti dengan segala keadaanku. Ahh, aku sungguh sangat merindukannya, saat-saat bersamanya telah menjadi saat-saat paling berharga di hidupku.
Jujur saja, ada hal yang tak aku suka dari orangtuaku. Hanya satu. Mereka tak menyetujui hubunganku dengan Reynand. Padahal Reynand adalah pria yang nyaris sempurna, untukku. Tatapan mata coklatnya begitu teduh, dan menenangkan. Well, mata inilah yang berhasil membuatku menyukai Reynand untuk pertama kalinya. Ya, aku menyukainya saat dia pertama kali menusukkan tatapannya tepat ke bola mataku. Ditambah sifat dan sikapnya padaku, aku jadi begitu yakin dan tak ragu lagi untuk menyukai bahkan mencintainya. Dia tak pernah menuntutku apapun, dia selalu bisa mengerti dengan segala keadaanku. Ahh, aku sungguh sangat merindukannya, saat-saat bersamanya telah menjadi saat-saat paling berharga di hidupku.
—
“Adela, aku mencintaimu.”, Reynand berdiri di hadapanku dengan tatapan yang tajam menusuk bola mataku. Aku gugup, senang, takut, kaget, dan entah rasa apa ini namanya, aku tak bisa mendefinisikannya. Siapa yang tidak akan merasakan apa yang aku rasakan kini, kalau mengalami apa yang aku alami sekarang? Aku masih diam, tak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa tersenyum, dan dengan satu tarikan nafas panjang, aku ungkapkan perasaanku. “Aku juga.”. Ya, hanya itu. Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku yang kelu saat ini. Reynand tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, dan langsung memelukku erat. Sangat erat. “Aku mencintaimu, Rey.”, kataku di dalam pelukannya. “Aku lebih mencintaimu,”, tutur Reynand dengan suara parau tapi lembut.
Itulah peristiwa awal kami pacaran. Sebenarnya, dia ataupun aku tak pernah berbicara soal pacaran, namun, karena kami sudah saling mencintai, kami anggap saja bahwa kami ini berpacaran. Tapi, status bukanlah hal yang penting bagi kami, asal kami sudah saling mencintai dan nyaman serta bisa mengerti keadaan satu sama lain, kenapa harus mempermasalahkan status lagi.
Itulah peristiwa awal kami pacaran. Sebenarnya, dia ataupun aku tak pernah berbicara soal pacaran, namun, karena kami sudah saling mencintai, kami anggap saja bahwa kami ini berpacaran. Tapi, status bukanlah hal yang penting bagi kami, asal kami sudah saling mencintai dan nyaman serta bisa mengerti keadaan satu sama lain, kenapa harus mempermasalahkan status lagi.
Aku dan Reynand sering menghabiskan waktu bersama di sebuat toko ice cream sederhana, bernama Sweet House. Tempat yang sangat bersejarah bagi kami. Ya, Reynand menyatakan perasaannya di depan toko ice cream ini, tepat setelah kami usai merayakan ulang tahun kami yang ke 18 dengan makan ice cream bersama. Ya, kami lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama, 12 November 1997. Sungguh hebat bukan? Kami memang ditakdirkan untuk bersama. Setidaknya, itulah yang aku dan Rey yakini.
Sebelumnya, kami juga sering ke toko ini, untuk sekedar menikmati ice cream bersama, membayar taruhan, ataupun hanya berbagi cerita. Sampai-sampai, sebelum kami pacaran, kami sudah dikira pacaran oleh si penjaga toko. Kami sering bersama, karena kami berada di universitas yang sama. Walaupun berbeda fakultas. Rey ada di fakultas hukum, sedangkan aku di fakultas seni dan sastra. Jadi, kami sering menghabiskan waktu bersama.
Reynand adalah tipe pria yang cuek, namun romantis. Tapi kurasa, dia hanya bisa romantis kepadaku, dan itu pun hanya aku yang bisa merasakan keromantisannya. Karena dia sungguh berbeda. Sangat unik, dan aku menyukai hal itu. Pernah, saat aku dengannya harus menghadiri undangan ulang tahun universitas lain bersama-sama, kami ke sana naik angkutan umum, dan pulangnya terpaksa harus jalan kaki, karena tak ada angkutan umum, dan lagipula jarak universitas dengan rumahku tak jauh, meskipun terbilang cukup jauh dengan rumah Reynand.
“Kenapa harus jalan kaki?”, tanyaku ngos-ngosan. “Bukannya kita bisa menunggu angkutan umum dulu? Atau meminta teman lain menjemput.”, sambungku. Memang belum terlalu jauh kami berjalan, tapi, untukku yang jarang berolahraga, sebentar saja sudah lelah, ditambah lagi dengan sinar matahari sore yang begitu menyengat kulit.
“Iya, kapan lagi kita bisa berjalan kaki berdua.”, jawabnya sambil tetap melangkah tanpa menatapku. Aku hanya tersenyum. Benar juga, gumamku. Kami terus saja melangkah. Cukup sulit untukku mengimbangi langkahnya yang cepat dan panjang-panjang. “Hah, hey, pelan-pelan Rey!”, teriakku yang mulai tertinggal di belakang. Reynand tiba-tiba berlari ke arahku dan berjongkok di depanku, memunggungiku. “Aku gendong saja. Dasar lamban!”, Katanya. Aku tentu saja kesal dikatai lamban. “Tidak mau.”, tolakku dan langsung berjalan setengah berlari meninggalkannya. “Baiklah, kalau Adela tidak mau.”, teriak Reynand yang tiba-tiba saja sudah berlari melesat di sebelahku, Dan kontan saja, hari itu, kami benar-benar seperti orang gila. Kejar-kejaran di pinggir jalan, hingga sampai di rumahku dengan keringat yang sepertinya setengah dari stok keringatku sudah keluar hari ini.
“Sana, masuklah! Maaf membuatmu lelah hari ini.”, kata Reynand dengan tangan yang sedikit mengacak-acak rambutku. “Tak apa, aku senang.”, kataku tersenyum. Aku langsung masuk ke rumah, dan tak lupa melambaikan tanganku pada Reynand yang segera berlalu dari depan rumahku.
“Iya, kapan lagi kita bisa berjalan kaki berdua.”, jawabnya sambil tetap melangkah tanpa menatapku. Aku hanya tersenyum. Benar juga, gumamku. Kami terus saja melangkah. Cukup sulit untukku mengimbangi langkahnya yang cepat dan panjang-panjang. “Hah, hey, pelan-pelan Rey!”, teriakku yang mulai tertinggal di belakang. Reynand tiba-tiba berlari ke arahku dan berjongkok di depanku, memunggungiku. “Aku gendong saja. Dasar lamban!”, Katanya. Aku tentu saja kesal dikatai lamban. “Tidak mau.”, tolakku dan langsung berjalan setengah berlari meninggalkannya. “Baiklah, kalau Adela tidak mau.”, teriak Reynand yang tiba-tiba saja sudah berlari melesat di sebelahku, Dan kontan saja, hari itu, kami benar-benar seperti orang gila. Kejar-kejaran di pinggir jalan, hingga sampai di rumahku dengan keringat yang sepertinya setengah dari stok keringatku sudah keluar hari ini.
“Sana, masuklah! Maaf membuatmu lelah hari ini.”, kata Reynand dengan tangan yang sedikit mengacak-acak rambutku. “Tak apa, aku senang.”, kataku tersenyum. Aku langsung masuk ke rumah, dan tak lupa melambaikan tanganku pada Reynand yang segera berlalu dari depan rumahku.
“Ibu, aku kembali.”, suaraku lantang saat baru saja menginjakkan kakiku di keramik dingin rumahku. “Apa yang tadi itu Reynand?”, Ibuku langsung bertanya. “Iya,”, jawabku singkat. Aku tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, seperti biasa. “Adel, sudah berapa kali ibu katakan. Kamu nggak boleh terlalu dekat dengan Reynand! Apalagi kalau sampai-sampai kamu menyukainya! Jangan sampai.”, kata ibuku sedikit berteriak kepadaku. Perempuan paruh baya ini selalu saja mengatakan hal itu, entah apa alasannya. “Kenapa Bu? Kenapa tak boleh? Aku sudah terlanjur mencintainya. Kami sudah pacaran.”, kataku dengan nada pelan di kalimat terakhir. Kontan Ibuku terkejut, dan langsung menghampiriku, meninggalkan sesuatu yang entah apa yang Ia kerjakan di dapur. “Apa? Adela, ka- ka, kamu, apa yang kamu lakukan?”, kata ibuku sedikit terbata-bata, matanya terlihat berkaca-kaca. “Kamu tak menurut pada Ibu?”, sambungnya. “Maaf Ibu, aku terlanjur jatuh cinta padanya. Dia pria yang baik, Bu. Apa yang salah darinya? Kenapa aku tak boleh bersamanya? Aku ingin tetap pada pendirianku. Maaf membantahmu, Bu.”, sahutku dan langsung berlari masuk ke kamarku.
Aku benamkan kepalaku di bantal. Samar-samar aku dengar Ibu menangis. Aku masih bingung, apa alasan ibu tak mengizinkanku bersama Reynand. Sudah sejak dulu, sejak Rey pertama kali mengantarku pulang. Setiap aku menanyakan alasannya, Ibu tak pernah mau mengatakannya. Sudah tak terhitung berapa kali aku menanyakannya, dan tak pernah diberikan penjelasan yang pasti oleh ibuku. Itu mungkin yang membuatku bosan, dan sekarang, aku sudah hampir tak peduli lagi dengan larangan itu. Aku tak mau tahu, toh, ibuku juga tak mau memberitahu.
Pertengkaran kecil memang sering terjadi antara aku dan ibu, apalagi kalau bukan karena Reynand. Jika dikata durhaka, mungkin iya. Kata itu memang pantas aku sandang. Tapi bagaimanapun juga, aku telah memilih jalanku. Aku masih menyayangi ibuku, bagaimanapun juga, Ia tetaplah ibuku.
“Ibu, apa ibu masih tak menyetujui hubunganku dengan Reynand? Kami sudah 2 tahun bersama, Bu.”, tanyaku, berharap.
“Adel, kamu tak boleh bersama Reynand! Ibu tak peduli sudah berapa lama kalian bersama!”, jawab Ibu dengan tatapan tajam kepadaku. Lagi-lagi Ibu tak mau merubah pendiriannya. Kurasa aku juga mewarisi sifat Ibu.
“Tapi, kenapa Bu? Ibu harus mengatakannya sekarang. Sudah berapa lama Ibu menyembunyikannya? Tidakkah aku harus tahu sekarang?”, tuntutku.
“Adela, maafkan ibu, Ibu sebenarnya tak ingin melarang kalian bersama, tapi ada sesuatu yang membuat kalian tak boleh bersama!”, Ibu berkata dengan tatapan kosong.
“Iya Ibu, apa itu? Aku sudah lelah menantikan semua ini! Katakanlah Bu, kumohon”, suaraku sedikit bergetar. Kulihat Ibu masih diam, sedikit cairan bening mulai berkumpul di pelupuk matanya. Aku yang tak sabar menggoncangkan tubuhnya, “Ibu! Katakan Bu..”, Ibu masih saja diam, setelah beberapa menit ku menunggu, akhirnya mulut Ibu sedikit terbuka. “Maaf Adela, Ibu masih tak sanggup mengatakannya.”, Ibu langsung pergi meninggalkanku.
Sial. Aku mulai membenci semua ini! Aku benci, aku lelah terus menunggu jawaban Ibu! Hanya Ibu yang bisa memberitahuku. Ayah? Mana mungkin! Dia terlalu sibuk mencari uang di luar sana, yang katanya untuk menghidupi kami, anak dan istrinya. Tapi nyatanya, kabar saja tak pernah sampai ke rumah! Ibu saja yang berusaha keras, dan untuk kuliahku, aku bekerja paruh waktu di sebuah restoran. Hal ini juga yang membuatku tak punya alasan untuk membenci Ibu, meskipun sebenarnya aku tak terlalu menyukainya.
Reynand sebenarnya tahu kalau hubunganku dengannya tak direstui Ibuku. Pernah dia yang bertanya langsung kepada Ibuku, tapi sama saja. Tak ada jawaban pasti untuk itu.
“Bagaimana ini? Aku takut kalau saja terjadi hal buruk kepada kita jika Ibuku terus saja tak setuju.”, kataku kepada Reynand saat kami menikmati satu cup ice cream di Sweet House.
“Lalu, apa kamu ingin mengakhirinya begitu saja?”, tanya Reynand pelan sambil menunduk.
“Tentu saja tidak, itu sama saja dengan bunuh diri bagiku. Kamu terlalu berharga untuk aku lepas, Rey.”, kataku dengan sedikit tersenyum padanya.
“Kamu terlalu berlebihan, Adela, sepertinya aku akan lebih menderita daripada kamu, jika saja hal itu terjadi. Tapi, aku tak akan membiarkannya terjadi.”, Reynand menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya, dan memberikan senyuman yang mampu membuat energy positif seketika memenuhi tubuhku. Ditambah tangannya yang menggenggam tanganku begitu erat dan hangat. “Rey, terima kasih. Aku harap, perkataanmu itu benar.”, bisik batinku.
“Adel, kamu tak boleh bersama Reynand! Ibu tak peduli sudah berapa lama kalian bersama!”, jawab Ibu dengan tatapan tajam kepadaku. Lagi-lagi Ibu tak mau merubah pendiriannya. Kurasa aku juga mewarisi sifat Ibu.
“Tapi, kenapa Bu? Ibu harus mengatakannya sekarang. Sudah berapa lama Ibu menyembunyikannya? Tidakkah aku harus tahu sekarang?”, tuntutku.
“Adela, maafkan ibu, Ibu sebenarnya tak ingin melarang kalian bersama, tapi ada sesuatu yang membuat kalian tak boleh bersama!”, Ibu berkata dengan tatapan kosong.
“Iya Ibu, apa itu? Aku sudah lelah menantikan semua ini! Katakanlah Bu, kumohon”, suaraku sedikit bergetar. Kulihat Ibu masih diam, sedikit cairan bening mulai berkumpul di pelupuk matanya. Aku yang tak sabar menggoncangkan tubuhnya, “Ibu! Katakan Bu..”, Ibu masih saja diam, setelah beberapa menit ku menunggu, akhirnya mulut Ibu sedikit terbuka. “Maaf Adela, Ibu masih tak sanggup mengatakannya.”, Ibu langsung pergi meninggalkanku.
Sial. Aku mulai membenci semua ini! Aku benci, aku lelah terus menunggu jawaban Ibu! Hanya Ibu yang bisa memberitahuku. Ayah? Mana mungkin! Dia terlalu sibuk mencari uang di luar sana, yang katanya untuk menghidupi kami, anak dan istrinya. Tapi nyatanya, kabar saja tak pernah sampai ke rumah! Ibu saja yang berusaha keras, dan untuk kuliahku, aku bekerja paruh waktu di sebuah restoran. Hal ini juga yang membuatku tak punya alasan untuk membenci Ibu, meskipun sebenarnya aku tak terlalu menyukainya.
Reynand sebenarnya tahu kalau hubunganku dengannya tak direstui Ibuku. Pernah dia yang bertanya langsung kepada Ibuku, tapi sama saja. Tak ada jawaban pasti untuk itu.
“Bagaimana ini? Aku takut kalau saja terjadi hal buruk kepada kita jika Ibuku terus saja tak setuju.”, kataku kepada Reynand saat kami menikmati satu cup ice cream di Sweet House.
“Lalu, apa kamu ingin mengakhirinya begitu saja?”, tanya Reynand pelan sambil menunduk.
“Tentu saja tidak, itu sama saja dengan bunuh diri bagiku. Kamu terlalu berharga untuk aku lepas, Rey.”, kataku dengan sedikit tersenyum padanya.
“Kamu terlalu berlebihan, Adela, sepertinya aku akan lebih menderita daripada kamu, jika saja hal itu terjadi. Tapi, aku tak akan membiarkannya terjadi.”, Reynand menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya, dan memberikan senyuman yang mampu membuat energy positif seketika memenuhi tubuhku. Ditambah tangannya yang menggenggam tanganku begitu erat dan hangat. “Rey, terima kasih. Aku harap, perkataanmu itu benar.”, bisik batinku.
Setelah kurang lebih tiga hari setelah pertengkaran kecil terakhirku dengan Ibu, sekarang semuanya mulai sedikit membaik, aku ingin menanyakannya lagi. Aku kumpulkan segala keberanianku, tidak banyak yang membuatku takut, hanya satu. Bayangan bahwa setelah ini aku pasti akan bertengkar lagi dengan ibu. “Bu,”, panggilku pelan. Ibu rela menghentikan sejenak pekerjaan rutinnya di dapur, lalu duduk di depanku, hanya untuk menanggapi panggilanku. “Ya?”
“Bisakah Ibu mengatakannya sekarang? Siapa tahu dengan alasan yang Ibu berikan, Aku bisa berubah pikiran.”, aku mencoba meyakinkan ibu.
“Ibu tak yakin, Ibu rasa kamu sudah terlalu mencintai Reynand, mungkin salah Ibu juga, tidak dari dulu mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi, terlalu berat bagi Ibu untuk berkata yang sebenarnya.”, Ibu menunduk, seperti biasa.
“Katakan saja Bu.”
Ibu menarik nafas panjang dan terdiam dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya bibir tipisnya itu bergerak. “Adel, maafkan Ibu, semua ini salah Ibu. Kamu dan Reynand benar-benar tak boleh bersama, apalagi pacaran. Dan kemungkinan terburuk adalah kamu menikah dengannya. Ibu mohon jangan sampai hal itu terjadi.”, Ibu menghentikan kalimatnya, dan dengan sekali tarikan nafas panjang, “Karena Reynand adalah saudaramu. Dia saudara kembarmu. Ayahmu dulu yang membawanya, namun Ibu juga tak mengerti kenapa dia bisa di sini dan seperti ini sekarang. Maafkan Ibu, Adel.”, Ibu membenamkan kepalanya ke kedua telapak tangannya, lalu menunduk, sesenggukan.
Deg. Seketika saja jantungku seakan berhenti berdetak. Tubuhku serasa melemah. Apa ini? Lidahku kelu, tak sanggup berkata apapun. Perkataan ibu tadi, serasa telah menusuk bagian terdalam di hatiku. Kurasa air mataku telah berkumpul, terbendung di pelupuk mataku, hampir menetes. Entah perasaan apa yang aku rasakan kini. Kata-kata apapun, sebanyak apapun, tak bisa kugunakan untuk mendeskripsikannya. Kukumpulkan tenagaku sedikit demi sedikit, “A a apa? I I Ibu bercanda, kan?”, mataku tak mampu lagi menahan air yang semakin lama kian banyak. Air mataku meluruh mengalir di pipiku. Begitupun Ibuku. Air matanya mengalir deras, Ibu menangis, hampir sesenggukan. “Maafkan Ibu, Adel. Ibu tak mampu mengatakannya dari dulu. Ibu sayang padamu. Ibu ingin mengatakannya, tapi, Ibu tak ingin merenggut kebahagiaanmu. Apa yang harus Ibu lakukan? Ibu tak bisa membahagiakanmu. Reynand. Hanya Reynand, saudaramu itu yang mampu melakukannya. Hanya dengan membiarkanmu dengan Reynand, yang dulu bisa Ibu lakukan. Ibu ingin melihatmu tersenyum, bahagia. Tapi, sekarang sudah cukup. Kamu dan Reynand tetaplah saudara. Kamu tak bisa menjalin hubungan yang lebih daripada itu dengannya. Ibu minta, cukup sayangi dan cintai dia sebagai saudaramu, tak lebih.”
“Cukup Ibu! Aku tak bisa. Aku tak mau.”, aku berteriak dalam tangisku. Aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Aku berlari meninggalkan Ibu sendiri. Entahlah, aku tak tahu kemana aku harus berlari. Yang aku ingat hanya kenangan-kenangan manisku dengan Reynand, dan itu sedikit menyakitkan dengan mengetahui bahwa aku dan Rey sebenarnya saudara kembar. Mungkin kami terpisah karena ayah dulunya yang mengajak Reynand, dan dulu Reynand pernah bilang bahwa dia sempat tinggal di panti asuhan. Sudahlah! Aku tak peduli dan aku tak mau peduli dengan semua kenyataan ini.
“Apa ini?”, bisikku dalam hati. Kakiku tiba-tiba melemah dan gelap! Aku tak melihat apapun di sekelilingku. Yang aku rasakan hanya sepertinya ada sepasang tangan yang memelukku saat ini. Tapi, aku mengenal baunya. Aroma yang selalu bisa menenangkan dan membuatku bahagia. “Reynand,”, bisikku pelan.
“Bisakah Ibu mengatakannya sekarang? Siapa tahu dengan alasan yang Ibu berikan, Aku bisa berubah pikiran.”, aku mencoba meyakinkan ibu.
“Ibu tak yakin, Ibu rasa kamu sudah terlalu mencintai Reynand, mungkin salah Ibu juga, tidak dari dulu mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi, terlalu berat bagi Ibu untuk berkata yang sebenarnya.”, Ibu menunduk, seperti biasa.
“Katakan saja Bu.”
Ibu menarik nafas panjang dan terdiam dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya bibir tipisnya itu bergerak. “Adel, maafkan Ibu, semua ini salah Ibu. Kamu dan Reynand benar-benar tak boleh bersama, apalagi pacaran. Dan kemungkinan terburuk adalah kamu menikah dengannya. Ibu mohon jangan sampai hal itu terjadi.”, Ibu menghentikan kalimatnya, dan dengan sekali tarikan nafas panjang, “Karena Reynand adalah saudaramu. Dia saudara kembarmu. Ayahmu dulu yang membawanya, namun Ibu juga tak mengerti kenapa dia bisa di sini dan seperti ini sekarang. Maafkan Ibu, Adel.”, Ibu membenamkan kepalanya ke kedua telapak tangannya, lalu menunduk, sesenggukan.
Deg. Seketika saja jantungku seakan berhenti berdetak. Tubuhku serasa melemah. Apa ini? Lidahku kelu, tak sanggup berkata apapun. Perkataan ibu tadi, serasa telah menusuk bagian terdalam di hatiku. Kurasa air mataku telah berkumpul, terbendung di pelupuk mataku, hampir menetes. Entah perasaan apa yang aku rasakan kini. Kata-kata apapun, sebanyak apapun, tak bisa kugunakan untuk mendeskripsikannya. Kukumpulkan tenagaku sedikit demi sedikit, “A a apa? I I Ibu bercanda, kan?”, mataku tak mampu lagi menahan air yang semakin lama kian banyak. Air mataku meluruh mengalir di pipiku. Begitupun Ibuku. Air matanya mengalir deras, Ibu menangis, hampir sesenggukan. “Maafkan Ibu, Adel. Ibu tak mampu mengatakannya dari dulu. Ibu sayang padamu. Ibu ingin mengatakannya, tapi, Ibu tak ingin merenggut kebahagiaanmu. Apa yang harus Ibu lakukan? Ibu tak bisa membahagiakanmu. Reynand. Hanya Reynand, saudaramu itu yang mampu melakukannya. Hanya dengan membiarkanmu dengan Reynand, yang dulu bisa Ibu lakukan. Ibu ingin melihatmu tersenyum, bahagia. Tapi, sekarang sudah cukup. Kamu dan Reynand tetaplah saudara. Kamu tak bisa menjalin hubungan yang lebih daripada itu dengannya. Ibu minta, cukup sayangi dan cintai dia sebagai saudaramu, tak lebih.”
“Cukup Ibu! Aku tak bisa. Aku tak mau.”, aku berteriak dalam tangisku. Aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Aku berlari meninggalkan Ibu sendiri. Entahlah, aku tak tahu kemana aku harus berlari. Yang aku ingat hanya kenangan-kenangan manisku dengan Reynand, dan itu sedikit menyakitkan dengan mengetahui bahwa aku dan Rey sebenarnya saudara kembar. Mungkin kami terpisah karena ayah dulunya yang mengajak Reynand, dan dulu Reynand pernah bilang bahwa dia sempat tinggal di panti asuhan. Sudahlah! Aku tak peduli dan aku tak mau peduli dengan semua kenyataan ini.
“Apa ini?”, bisikku dalam hati. Kakiku tiba-tiba melemah dan gelap! Aku tak melihat apapun di sekelilingku. Yang aku rasakan hanya sepertinya ada sepasang tangan yang memelukku saat ini. Tapi, aku mengenal baunya. Aroma yang selalu bisa menenangkan dan membuatku bahagia. “Reynand,”, bisikku pelan.
—
Ahh, sungguh bahagia mengingat kenangan-kenangan masa laluku, meskipun sedikit menyakitkan. Dan sekarang, aku masih terbaring di sini. Dengan penyakit yang entah apa namanya, yang jelas, tubuhku lemah, aku tak punya cukup tenaga bahkan untuk sekedar sadar sekalipun. Mungkin ini akibat karena aku tak mendapat restu dari Ibuku. Entahlah, aku juga tak mau terlalu percaya akan hal-hal seperti itu. Tapi, aku sedikit percaya bahwa saudara kembar yang berbeda gender seperti aku dan Reynand sepertinya ditakdirkan untuk saling mencintai. Karena aku mengalaminya.
Sekarang, Reynand juga sering menjengukku ke sini, meskipun hanya di saat Ibu tak ada. Aku memang tak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakan kehadirannya, aku masih bisa mencium aroma khasnya. Sungguh menenangkan. Aku juga masih bisa merasakan kehangatan tangannya saat dia menggenggam tanganku ataupun mengusap pipi dan rambutku. Suaranya yang lembut namun tegas itu juga masih sering aku dengar, dan selalu mengatakan hal yang sama setiap dia ke sini. “Adela, bertahanlah, aku sungguh merindukanmu. Cepatlah bangun, ayo makan ice cream bersama lagi. Tidakkah kamu merindukan hal itu? Aku masih dan selalu mencintaimu, Adela. Bertahan dan cepatlah bangun.”
Hmh, aku sungguh sangat merindukannya. Entah sampai kapan aku harus menahan dan memendam kerinduan ini. Terus merindukannya, menyayanginya, dan mencintainya dalam diam.
Hmh, aku sungguh sangat merindukannya. Entah sampai kapan aku harus menahan dan memendam kerinduan ini. Terus merindukannya, menyayanginya, dan mencintainya dalam diam.