Kamis, 08 Desember 2016

coffe love

“Cinta” yah, si gadis cantik yang bernasib malang, itulah panggilan yang pantas untukku. Memang aku hidup di keluarga berada, semua kemewahan mengelilingiku, punya teman yang banyak, dikejar sama cowok-cowok, mempunyai rumah 3 lantai, pembantu 8 orang, fasilitas lengkap, dan apa yang aku mau bisa aku dapatkan, tapi satu impian sederhanaku yang tidak pernah bisa aku dapatkan yaitu sebuah “Kasih sayang” mama dan papa.
“Jojo” satu nama yang selalu menetap di pikiranku. Sahabat kecilku yang tak tahu kemana perginya. Jojo dan keluarganya sangat baik padaku, bersama mereka aku bisa merasakan apa itu cinta dan kasih kekeluargaan, tapi saat usiaku menginjak 9 tahun tepatnya 11 tahun yang lalu jojo dan keluarganya pergi bagai ditelan bumi tanpa kabar sama sekali. Bahkan wajah jojo pun tak lagi kuingat.
“Dasar wanita tidak tahu di untung” Suara keras yang selalu terdengar oleh telingaku
“Kamu laki-laki bajingan, udah punya anak masih aja selingkuh sama abg” Teriak mama pada papa yang dari tadi memakai emosi
“Kurang ajar kamu” brukk, tangan papa mendarat ke pipi mama dan menamparnya.
Pertengkaran itu sudah tidak asing lagi bagiku, pertengkaran yang selalu aku saksikan saat mama dan papa libur kerja ataupun pulang kerja. Keluargaku tak sebaik keluarga-keluarga di luar sana. Papa adalah seorang pemilik “Perusahaan listrik” terbesar di indonesia, mama adalah produser di salah satu production house terbesar di indonesia dan mama juga pemilik hotel berbintang di bali dan di lombok.“Mah aku boleh minta sesuatu gak sama mama?” Tanya ku pada mama yang sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.
“Boleh donk sayang, kamu mau minta apa? Mobil baru? Laptop baru? Atau apa? Bilang aja” Jawab mama begitu perhatian tapi tetap saja fokus pada dokumen-dokumen kerjanya.
“Aku hanya minta sejam dari 24 jam waktu mama untuk bersenang-senang atau bercerita denganku” Kataku sambil memegang tangan mama.
“Sayang, mama banyak kerjaan, kalau kamu mau liburan bilang aja, mau ke hongkong, bangkok, singapur, paris atau ke mana aja pasti mama turuti tapi kamu sediri yah, mama lagi sibuk banget” Kata mama yang sangat membuatku kecewa, tanpa sepatah kata pun aku pergi ke luar dari ruangan mama dan berjalan menuju ruangan kerja papa. Hari ini hari minggu tetapi mama dan papa masih sibuk bekerja walaupun di rumah.
“Pah aku boleh minta sesuatu gak?” pertanyaan itu aku ulangi lagi pada papa.
“Mau minta apa sayang? Sebutin aja” Jawab papa yang juga sibuk pada laptop putih besar milik papa
“Ini kan hari minggu, kita liburan yah? Sejam atau dua jam aja pah” Kataku sambil menunduk takut akan jawaban papa yang pasti akan mengecewakan.
“Sayang, kamu gak liat yah papa lagi apa? Papa gak bisa kemana-mana dulu, papa lagi sibuk banget nih, kamu ajak teman-teman kamu aja yah” Yah aku sudah menduga akan kata-kata yang keluar dari mulut papa, aku melangkahkan kakiku tanpa sepatah kata pun aku keluar disertai air mata. Ku ambil sepedaku lalu aku pergi meninggalkan rumah yang bagai neraka itu.
Tidak bisa dipungkiri lagi, yah kemana lagi aku pergi kalau bukan ke “cafe coffee” favorit, cafe yang tidak terlalu besar tapi sangat membuatku nyaman, cafe itu terletak di pinggir danau. Aku memarkir sepedaku dan masuk ke dalam cafe itu lalu duduk di bangku pojok favoritku.
“Segelas coffee late kesukaan ratu cinta” Kata toby seorang cowok pelayan cafe yang sangat lemot tetapi selalu membuatku tersenyum
“Sepiring cake coklat buat sih cantik cinta” Kata lala sih cewek berambut ikal yang selalu berlaku konyol.
“Cinta pasti suka coffee late buatan gue donk, dari pada cake coklat ikal buatan sih cewek ikal” Toby mengejek lala.
“Enak aja, kaca mana kaca? Gak sadar? Lu juga ikal kaliii.. Gue tabok juga lu” Balas lala lalu memukul kepala toby menggunakan baki.
“Udah udah.. Enak dua-duanya kok” Kataku sambil ketawa melihat kelakuan lucu kedua sahabatku itu.
Di cafe inilah kutemukan bahagiaku. Seluruh pelayan cafe sudah menjadi keluargaku. Tapi tanpa terasa air mataku tiba-tiba menetes membasahi pipiku.
“Lu kenapa cin?” Tanya lala dan toby serentak..
“Gak apa apa kok” Kata ku lalu menghapus air mata ku tetapi terus saja mengalir. Toby dan lala pun tak sampe hati menggangguku akhirnya mereka pun pergi..
Aku sangat sedih akan perlakuan kedua orangtuaku.
“Nih” seorang pria yang memberiku sapu tangan lalu pergi kembali ke pojok cafe, pria itu adalah “Joshua” pria tampan sih pelayan cafe itu yang selalu memandangiku dari pojokan, pria itu selalu memberiku sapu tangan saat aku menangis, sapu tangan yang ia berikan tak terhitung lagi, dan aku meletakan sapu tangan itu di sebuah kotak besar di kamarku. Pria itu memang baik, tapi ia sangat pendiam tidak sama seperti pelayan lain yang nyerocos sana sini. Selama aku mengenalnya belum ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya selain “Nih” saat memberikan sapu tangan padaku.. Air mata selalu membasahi pipiku, rasanya hanya ingin menangis dan menangis.
“Ting-ting-ting” suara petikan gitar terdengar di telingaku.. Aku membalikan badanku dan ternyata semua pelayan cafe menari dan menyanyi lagu “Price tag by jerssie j” untuk menghibur ku.. Senyum terpancar oleh wajahku..
“Ini kami persembahkan untuk sahabat kami cinta” kata seluruh pelayan cafe itu setelah bernyanyi untuku..
“Makasih yah, kalian adalah keluargaku” kataku lalu kami semua berpelukan.. Kesederhanaan seperti ini lah yang aku impikan dari dulu..
Di tengah keseruan itu aku menoleh ke “Joshua” yang hanya duduk di pojok cafe lalu melempar senyum padaku..
“Senyum itu? Senyum yang tak asing lagi bagiku!! Tapi siapa dia? Ini pertama kali aku melihat senyumnya tapi senyum itu sangat membuatku nyaman” Batinku mulai bercampur aduk, pikiranku mulai melayang ke masa lalu tapi aku setelah aku mengorek-ngorek masa lalu itu di ingatanku tetap saja aku tidak mengingat senyum yang tak asing lagi bagiku itu…
Berhari-hari aku berdiam diri untuk bernostalgia, rasa penasaran itu terus muncul di hatiku, hingga aku membuka sebuah album 11 tahun yang lalu, kutemukan foto jhojo yang sedang senyum memegang secangkir coffee.
“Aku tahu” Pintaku langsung mengambil tas dan pergi menuju cafe coffee tempat ku berjumpa dengan joshua.
Aku menengok kiri kanan, di pojok-pojok cafe, kucoba menelusuri cafe itu namun tidak kutemukan batang hidung joshua.
“Lala, kamu lihat joshua gak?” tanyaku pada lala yang sedang membuat coffee pesanan orang
“Joshua? Di cafe ini gak ada nama joshua” Jawab lala yang sedang sibuk dengan coffee pesanan orang.
“Yang biasa buat kopi di pojok itu” Pikiranku mulai bingung dengan jawaban lala.
“Cinta lo udah berbulan-bulan nongkrong di cafe ini dan gue udah berbulan-bulan kerja di cafe ini, tapi kagak ada manusia yang namanya joshua di cafe ini ini apalagi yang buat coffee di pojok situ, yang ada jono satpam depan komplek gue” Jawaban lala sedikit bergurau.
“Lala, ini bukan saatnya bercanda, gue serius” Kata ku mulai kesal dengan kata-kata lala yang suka bercanda
“Gue juga serius cinta” Lala langsung ninggalin aku.
“Sapu tangan” Dua kata tergambar di pikiranku, sapu tangan yang diberikan joshua padaku.
Aku langsung berlari ke rumahku setibanya di sana aku mengambil sebuat kotak berwarna merah di bawah ranjang.
Kubuka satu persatu sapu tangan yang sangat banyak itu. Mataku mulai berkaca-kaca dan tanpa kusadari air mataku sudah mengalir deras saat membaca isi sapu tangan tersebut. Terdapat satu kata per sapu tangan itu. Kususun hingga menjadi sebuah kalimat yang bertuliskan “Teruslah tersenyum dan jangan menangis cinta saat mata itu tersenyum itu tandanya aku bahagia hapus air matamu dengan sapu tangan ini, air matamu juga tanda kesedihanku, aku selalu ada bersamamu, dunia kita berbeda tetapi cintaku tidak akan pernah berubah jojo sayang cinta”
Ternyata jhojo sudah meninggal 11 tahun yang lalu saat aku mengalami kecelakaan dan aku buta, ia mendonorkan matanya tanpa sepengetahuanku, saat itu ia juga sedang mengalami sakit ginjal yang sudah sangat parah.
“Dia sudah pergi jauh tetapi bayangnya selalu menjagaku” Sahutku di pinggir danau di temani secangkir coffee late kesukaanku.
Jhojo atau pun joshua dia lah lelaki terhebat dalam hidupku, kita berbeda dunia tetapi dia selalu menjagaku, waktu yang mempertemukan, waktu juga yang memisahkan, di cafe inilah kutemukan bayang jhojo dan sahabat-sahabat yang luar biasa. Hidupku begitu pahit seperti pahitnya coffee tetapi aku tahu cara menikmatinya biar terasa manis dan enak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar