Niko seorang lelaki yang mampu membangkitkan semangat dalam hidupku, yang mampu meluluhkan hatiku. Aku tak selalu dapat berjumpa denganya. Perantara telepon kasih ini tumbuh semakin besar. Perhatianya ucapanya mampu menggambarkan sikapnya yang begitu besar menyayangiku. Kami tak selalu berjumpa setiap ada waktu untuk bertemu pertemuan kita menjadi momen yang spesial meski hanya bercanda mengobrol, jalan bersama dapat menyatukan cinta kami selama 3 tahun. Selama itu pula kehidupanku penuh warna tapi sekejap setelah ku mengetahui yang terjadi hancur sudah harapanku ternyata jauh sebelum kepergian ayah niko beliau telah menetapkan pendamping hidup untuk putranya yang juga telah ditetapkan hari pernikahanya, hati ini pun terasa hancur ketika mengetahuinya tetapi keputusan niko untuk meneruskan hubungan kita juga teramat besar karena sebenarnya perempuan tunanganya itu tidaklah niko harapkan.
Suatu malam kami bertemu yang kuanggap sebagai malam trakhir dirinya untuku. Niko membawaku ke rumah penginapan dia tau hatiku amatlah terluka aku pun mengerti dia berusaha menguatkan aku sesampainya di tempat itu kami saling terdiam lalu dia memeluku mengusap air dari mataku. Dia mendekat memeluk dan berbisik cintaku tetap hanya untukmu. Aku mencoba tersenyum meski hati ini terluka tak ada kalimat yang dapat aku ungkapkan seperti terasa putus asa akan berakhirnya hubungan kami.
Waktu berganti dinginya malam semakin menjadi niko masih di luar dan aku pun beranjak masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya ada satu tempat tidur lalu kurebahkan tubuh ini, air mataku pun tak dapat terbendung lagi. Niko menyusulku dia duduk di sampingku mencoba menenangkanku, dia temani aku sampai aku tertidur..Di tengah malam aku terbangun aku lihat wajah lugu kekasihku yang begitu besar mencintaiku entah apa yang aku lakukan aku memeluknya dengan erat aku menciuminya dan dia pun terbangun. Dia membalas pelukanku menciumku tak lepas keningku dari kecupan mesranya tubuh ini pasrah entah apa yang menutupi pikiranku kenyataanya yang terjadi niko mendekapku penuh kasih, tubuhnya memeluk erat memberi kehangatan padaku, untuk pertama kalinya aku lihat dia meneteskan air mata dia berkata aku selalu milikmu sayang. Kami terbawa suasana kami pun melakukanya, dan kami pun tertidur bersama.
Menjelang pagi aku terbangun kutatap dia begitu besar diding pemisah antara kami, saat itulah keputusan terberatku lalu kutinggalkan surat utuknya. kutuliskan “aku akan belajar mengiklaskan dirimu untuknya tetapi hatiku selalu milikmu. Aku pergi sayang suatu saat aku kan kembali dan berharap melihatmu bahagia bersamanya, sayangilah dia seperti sayangmu kepadaku”.
Aku pergi, dengan kepergian yang memang sudah kurencanakan, kupergi ke negeri orang, terakhir kudengar kabar kini dia mempunyai keluarga kecil bahagia dan disini cintaku tetap setia hanya untuknya sampai kutemukan siapa pemilik hati ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar