Hembusan angin membelai lembut pipi chubbynya, ketika kedua tangan ini memeluk tubuhnya dan mengusap jilbab kelabunya.
“Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua bebanmu. Ada aku yang akan mendengarkan semua gundahmu.” Sungguh aku tak suka melihatnya seperti ini. Aku tak sanggup melihat permata itu keluar dari persembunyiannya. Seberat apapun bebannya, aku rela jika harus menggantikannya. Menanggung semua masalah yang dia hadapi. Karena aku … sahabatnya. 12 tahun kebersamaan kami melewati semuanya. Baik suka maupun duka, membuatku sangat mengerti dan ikut merasakan apa yang saat ini ia rasakan.
“Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua bebanmu. Ada aku yang akan mendengarkan semua gundahmu.” Sungguh aku tak suka melihatnya seperti ini. Aku tak sanggup melihat permata itu keluar dari persembunyiannya. Seberat apapun bebannya, aku rela jika harus menggantikannya. Menanggung semua masalah yang dia hadapi. Karena aku … sahabatnya. 12 tahun kebersamaan kami melewati semuanya. Baik suka maupun duka, membuatku sangat mengerti dan ikut merasakan apa yang saat ini ia rasakan.
—
Semuanya bermula di taman ini. Taman penuh kenangan. Saat itu ia melangkah ke arahku, menebar senyum manisnya. Senyum yang selalu membuatku rindu.
“Gimana? Ada nggak bukunya?” tanyaku saat ia duduk di sampingku.
“Buku ya? Ada (mengambil sesuatu dari tas jingganya) ini kan?” ia memberikan buku itu masih dengan senyum manisnya. Ya, dari tadi aku memang menunggunya membawakan sebuah buku untuk menyelesaikan tugas kami.
“Kenapa?” batinku bertanya. Tak biasanya ia begini.
“By, tadi kamu sarapan apa?”
“Ya nasi lah. Ada-ada aja kamu Li. Kenapa sih?” Nampaknya ia bingung, mengapa aku bertanya seperti itu padanya.
“Aku kira kamu salah makan. Habis dari tadi kamu senyum-senyum sendiri.” Candaku.
“Apa sih kamu. Kenapa? Nggak suka sahabatnya bahagia?” jawabnya ketus.
“Gimana? Ada nggak bukunya?” tanyaku saat ia duduk di sampingku.
“Buku ya? Ada (mengambil sesuatu dari tas jingganya) ini kan?” ia memberikan buku itu masih dengan senyum manisnya. Ya, dari tadi aku memang menunggunya membawakan sebuah buku untuk menyelesaikan tugas kami.
“Kenapa?” batinku bertanya. Tak biasanya ia begini.
“By, tadi kamu sarapan apa?”
“Ya nasi lah. Ada-ada aja kamu Li. Kenapa sih?” Nampaknya ia bingung, mengapa aku bertanya seperti itu padanya.
“Aku kira kamu salah makan. Habis dari tadi kamu senyum-senyum sendiri.” Candaku.
“Apa sih kamu. Kenapa? Nggak suka sahabatnya bahagia?” jawabnya ketus.
Ternyata sewaktu ia sedang mencari buku itu di perpustakaan kota, ia bertemu dengan seseorang. Seseorang? Ya, seseorang. Aku belum tahu siapa namanya. Wiby tak menjawab pertanyaanku waktu itu. Entahlah. Masih ada waktu untuk mengetahui siapa seseorang itu.
“Aku ke dapur dulu ya.” Pamitku padanya. Saat ini dia berada di kamarku. Menyelesaikan tugas akhir tahun bersama. Dia hanya mengangguk dan tetap fokus pada tumpukan kertas tugas. Aku hanya dapat tersenyum saat menatap wajah seriusnya.
“Uhuk… Uhukkk” Aku tersedak saat ia menabrak kursi yang aku duduki, ketika aku sedang meneguk segelas air putih.
“Kenapa?” tanyaku sebal.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau dia ada disini?”
“Dia siapa?” Aku masih tak mengerti dengan arah pembicaraannya.
“Kak Ilham lah. Siapa lagi memangnya?” jawabnya lirih.
“Kak Ilham? Trus kenapa kalau ada kak Ilham? Hubungannya?” Aku bingung akan sikapnya. ‘Uuupss’ ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
“Oh aku tau. Jangan-jangan yang kemarin itu… Kak Ilh…” Ucapanku terpotong karena ia keburu membekap mulutku saat kak Randy, kakakku muncul dari balik pintu.
“Kalian lagi apa sih? Kedengaran tuh dari luar.” Tegur kakakku.
“Ha? Yang bener kak?” Wiby tak percaya, pasalnya kak Randy sering menggoda aku dan dia. Kami bertiga memang sudah dekat sejak kecil.
“Yaiyalah. Masa kakak bohong. Nggak percaya? Tanya tuh sama Ilham” kakakku. ‘Hahahaha’ Aku tak dapat menahan tawaku saat melihat muka merahnya, menahan malu dan marah.
“Kenapa By?” Tanya kakakku sambil tersenyum.
“Tau ah” Ia menghentakkan kaki lalu berlalu dari hadapanku.
“Kenapa dia? Tumben seperti itu, biasanya kalem-kalem aja waktu kakak godain.” Kakakku semakin penasaran. Aku hanya menaikkan bahu, tanda tak tahu, lalu beranjak dari kursi yang tadi kududuki.
“Aku ke dapur dulu ya.” Pamitku padanya. Saat ini dia berada di kamarku. Menyelesaikan tugas akhir tahun bersama. Dia hanya mengangguk dan tetap fokus pada tumpukan kertas tugas. Aku hanya dapat tersenyum saat menatap wajah seriusnya.
“Uhuk… Uhukkk” Aku tersedak saat ia menabrak kursi yang aku duduki, ketika aku sedang meneguk segelas air putih.
“Kenapa?” tanyaku sebal.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau dia ada disini?”
“Dia siapa?” Aku masih tak mengerti dengan arah pembicaraannya.
“Kak Ilham lah. Siapa lagi memangnya?” jawabnya lirih.
“Kak Ilham? Trus kenapa kalau ada kak Ilham? Hubungannya?” Aku bingung akan sikapnya. ‘Uuupss’ ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
“Oh aku tau. Jangan-jangan yang kemarin itu… Kak Ilh…” Ucapanku terpotong karena ia keburu membekap mulutku saat kak Randy, kakakku muncul dari balik pintu.
“Kalian lagi apa sih? Kedengaran tuh dari luar.” Tegur kakakku.
“Ha? Yang bener kak?” Wiby tak percaya, pasalnya kak Randy sering menggoda aku dan dia. Kami bertiga memang sudah dekat sejak kecil.
“Yaiyalah. Masa kakak bohong. Nggak percaya? Tanya tuh sama Ilham” kakakku. ‘Hahahaha’ Aku tak dapat menahan tawaku saat melihat muka merahnya, menahan malu dan marah.
“Kenapa By?” Tanya kakakku sambil tersenyum.
“Tau ah” Ia menghentakkan kaki lalu berlalu dari hadapanku.
“Kenapa dia? Tumben seperti itu, biasanya kalem-kalem aja waktu kakak godain.” Kakakku semakin penasaran. Aku hanya menaikkan bahu, tanda tak tahu, lalu beranjak dari kursi yang tadi kududuki.
Pagi ini aku hanya bersantai, menikmati hari-hari libur panjang. Melepas semua penat yang kurasakan saat menjalani tugasku sebagai seorang pelajar. Penuh dengan tugas, tugas dan ulangan. Semua itu memang tak terlepas dari kewajibanku sebagai seorang pelajar. Kutekuni semua aktivitas itu dengan penuh rasa syukur mengingat tak semua orang dapat bersekolah sepertiku. Saat aku sedang menikmati semua ini, tiba-tiba datanglah seseorang yang mengagetkanku.
“Kamu by, Aku kira kak Randy.” Ternyata dia Wiby.
“Huft, Sebel deh”
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Biasalah” jawabnya singkat.
“Berantem lagi?” Aku sudah hafal dengan kebiasaannya, datang tiba-tiba dengan keluhan seperti itu.
“Siapa yang berantem? Dia dulu yang mulai. Semuanya berantakan gara-gara DIA” jawabnya dengan menekan kata DIA.
“Nggak baik lho berantem sama saudara sendiri. Dia kan saudara kamu tho.” Aku berusaha untuk menasehatinya.
“Iya sihh. Ah.. Males aku bahas tentang dia” Seperti biasa juga, ia pasti mencoba mengalihkan pembicaraaan ketika aku akan menasehatinya.
“Ya mungkin cara kamu salah dalam menghadapi tingkahnya. Inget, dia kan masih kecil belum tahu banyak hal. Harusnya kamu yang lebih sabar. Beri dia kasih sayang. Jangan terlalu serius saat menghadapinya. Mungkin dia seperti itu karena mencari perhatianmu. Dia juga butuh kasih sayang dari kamu, kakaknya.” Aku tetap mencoba untuk menasehatinya, siapa tahu sikapnya bisa berubah. Aku hanya mengkhawatirkan hubungan kakak-beradik satu ini. Mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele.
“Iya deh iya aku coba” Tanpa kami sadari kak Randy sudah duduk di sampingku. “Ciye adik kakak udah pinter ceramah nih.” ledek kakakku.
“Apa deh”
“Eh liburan kali ini ke rumah nenek di puncak yukk. Kangen nih” ajak kakakku.
“Boleh tuh kak. Aku juga udah kangen sama nenek. Nah by, kamu mau ikut apa nggak? Daripada di rumah, kerjaannya cuma berantem”
“Oke deh. Nanti aku izin dulu sama orangtuaku.”
“Kamu by, Aku kira kak Randy.” Ternyata dia Wiby.
“Huft, Sebel deh”
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Biasalah” jawabnya singkat.
“Berantem lagi?” Aku sudah hafal dengan kebiasaannya, datang tiba-tiba dengan keluhan seperti itu.
“Siapa yang berantem? Dia dulu yang mulai. Semuanya berantakan gara-gara DIA” jawabnya dengan menekan kata DIA.
“Nggak baik lho berantem sama saudara sendiri. Dia kan saudara kamu tho.” Aku berusaha untuk menasehatinya.
“Iya sihh. Ah.. Males aku bahas tentang dia” Seperti biasa juga, ia pasti mencoba mengalihkan pembicaraaan ketika aku akan menasehatinya.
“Ya mungkin cara kamu salah dalam menghadapi tingkahnya. Inget, dia kan masih kecil belum tahu banyak hal. Harusnya kamu yang lebih sabar. Beri dia kasih sayang. Jangan terlalu serius saat menghadapinya. Mungkin dia seperti itu karena mencari perhatianmu. Dia juga butuh kasih sayang dari kamu, kakaknya.” Aku tetap mencoba untuk menasehatinya, siapa tahu sikapnya bisa berubah. Aku hanya mengkhawatirkan hubungan kakak-beradik satu ini. Mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele.
“Iya deh iya aku coba” Tanpa kami sadari kak Randy sudah duduk di sampingku. “Ciye adik kakak udah pinter ceramah nih.” ledek kakakku.
“Apa deh”
“Eh liburan kali ini ke rumah nenek di puncak yukk. Kangen nih” ajak kakakku.
“Boleh tuh kak. Aku juga udah kangen sama nenek. Nah by, kamu mau ikut apa nggak? Daripada di rumah, kerjaannya cuma berantem”
“Oke deh. Nanti aku izin dulu sama orangtuaku.”
Mentari telah terbit di ufuk timur, itulah hari keberangkatan kami ke rumah nenek.
“Mana nih Wiby? Kok belum dateng?” Kakakku bertanya padaku. Memang saat ini kami sedang menunggu Wiby, mungkin dia sedang bertengkar dengan adiknya seperti biasa.
“Nah itu dia” tawaku belum hilang saat membayangkan saat ia bertengkar dengan adiknya, sang pujaan hati sudah muncul dari balik gerbang rumahku.
“Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Maaf tel…” Ucapannya terpotong ketika melihat seseorang berwajah oriental dan berkulit sawo matang itu keluar dari sebuah mobil.
“Kenapa ada dia?” bisik Wiby.
“Lho emang kenapa? Orang yang ngajak dia itu kak Randy. Masa aku larang, Aku kan juga ajak kamu. Adil kan?” Aku tahu ia akan bertanya seperti itu jika mengetahui kalau kak Ilham juga ikut berlibur bersama kami.
“Maaf ya nunggu lama. Akunya kesiangan” tukas kak Ilham saat mengetahui kalau kami siap berangkat.
“Santai aja ham. Wiby juga baru datang kok.” Jelas kak Randy sambil melirik Wiby.
“Kamu juga ikut by?” Tanya kak Ilham. Wiby hanya dapat melemparkan senyum getirnya.
“Mana nih Wiby? Kok belum dateng?” Kakakku bertanya padaku. Memang saat ini kami sedang menunggu Wiby, mungkin dia sedang bertengkar dengan adiknya seperti biasa.
“Nah itu dia” tawaku belum hilang saat membayangkan saat ia bertengkar dengan adiknya, sang pujaan hati sudah muncul dari balik gerbang rumahku.
“Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Maaf tel…” Ucapannya terpotong ketika melihat seseorang berwajah oriental dan berkulit sawo matang itu keluar dari sebuah mobil.
“Kenapa ada dia?” bisik Wiby.
“Lho emang kenapa? Orang yang ngajak dia itu kak Randy. Masa aku larang, Aku kan juga ajak kamu. Adil kan?” Aku tahu ia akan bertanya seperti itu jika mengetahui kalau kak Ilham juga ikut berlibur bersama kami.
“Maaf ya nunggu lama. Akunya kesiangan” tukas kak Ilham saat mengetahui kalau kami siap berangkat.
“Santai aja ham. Wiby juga baru datang kok.” Jelas kak Randy sambil melirik Wiby.
“Kamu juga ikut by?” Tanya kak Ilham. Wiby hanya dapat melemparkan senyum getirnya.
Tak terasa, kami telah sampai di kediaman nenek tercinta. Disuguhi dengan pemandangan desa yang masih murni yang menyejukkan jiwa karena memang belum banyak terjamah oleh mesin perusak bumi. Udara pun masih sejuk terasa. Air sungai yang masih jernih, menandakan kedamaian desa ini. Sungguh, aku tak ingin jika harus meninggalkan semua ini apalagi jika suatu saat nanti semua ini akan musnah –tak ada yang abadi. Ahh sudahlah, toh nenek telah menanti di depan pelataran rumah tuanya yang masih terlihat kokoh dan terawat. Mengingatkan aku pada liburan sekitar 7 tahun yang lalu, sudah lama rupanya.
“Assalamualaikum nek” salam yang tak pernah lupa kami ucapkan, sesuai yang telah orangtuaku ajarkan.
“Nenek. Lily kangen sama nenek. Hikss nenek apa kabar?” aku langsung memeluk beliau dengan perasaan rindu, senang dan sedih –bagaimana tidak? Beliau tinggal sendiri di rumah ini.
“Kabar nenek baik cu. Ow Randy nenek juga rindu denganmu cucuku yang paling gagah” kata nenek setelah berpelukkan denganku dan memeluk Ilham.
“Ehm, nek… Randy di sebelah sini” Randy menegur.
“Lho, oalaah Randyy. Nenekmu telah pikun rupanya.”
“Huahahhaa” Kami semua tertawa tak terkecuali nenek.
“Oh iya nek, kenalin ini Wiby –sahabat aku, nah yang tadi nenek peluk itu kak Ilham –sahabat kak Randy” aku tak lupa mengenalkan mereka. Tak lama, kami telah terhanyut dalam kebahagiaan di desa nenek. Sungguh indah tuhan.
“Assalamualaikum nek” salam yang tak pernah lupa kami ucapkan, sesuai yang telah orangtuaku ajarkan.
“Nenek. Lily kangen sama nenek. Hikss nenek apa kabar?” aku langsung memeluk beliau dengan perasaan rindu, senang dan sedih –bagaimana tidak? Beliau tinggal sendiri di rumah ini.
“Kabar nenek baik cu. Ow Randy nenek juga rindu denganmu cucuku yang paling gagah” kata nenek setelah berpelukkan denganku dan memeluk Ilham.
“Ehm, nek… Randy di sebelah sini” Randy menegur.
“Lho, oalaah Randyy. Nenekmu telah pikun rupanya.”
“Huahahhaa” Kami semua tertawa tak terkecuali nenek.
“Oh iya nek, kenalin ini Wiby –sahabat aku, nah yang tadi nenek peluk itu kak Ilham –sahabat kak Randy” aku tak lupa mengenalkan mereka. Tak lama, kami telah terhanyut dalam kebahagiaan di desa nenek. Sungguh indah tuhan.
Tak terasa sudah dua minggu kami menghabiskan liburan di desa nenek. Liburan kali ini kurasa penuh dengan kenangan dimana semua peristiwa dapat kulewati bersama sahabat tercinta. Banyak kenangan yang dapat kuabadikan menggunakan kameraku ini. Mulai dari kepanikan Wiby ketika diarynya akan dibaca kak Randy, Kak Randy yang selalu tertawa saat mendengarkan cerita nenek tentang masa kecilku dan kak Randy yang dipenuhi hal-hal lucu, kak Ilham yang diam-diam curi-curi pandang pada Wiby -untuk yang satu ini aku masih sangat belum percaya, semua pemandangan indah yang disajikan desa sang nenek pun tak luput dari jepretanku. Suatu peristiwa terjadi saat kami bermain di sebuah sungai –masih di desa nenek.
Disana, saat kami bermain air tiba-tiba kak Ilham mengungkapkan perasaannya pada Wiby disaksikan olehku, kak Randy dan hamparan pematang sawah serta aliran sungai yang mengalir tenang. Waktu terasa lambat berjalan, daun yang lepas dari rantingnya pun berayun dengan tempo yang amat lambat –kaya slow motion gitu. Masih kuingat ekspresi muka Kak Ilham saat menunggu untaian kata yang akan keluar dari bibir Wiby, demikian juga dengan diriku. Hingga akhirnya…
“A… Ak… Aku ssebenarnya juga sayang sama kakak (kulihat senyum di pipi kak Ilham) tapiii.. untuk saat ini aku masih belum berfikir untuk menjadi putri di hati seseorang, dalam artian ini aku belum bisa menerima kakak. Aku masih ingin menikmati masa-masa dimana aku bebas seperti kupu-kupu dan terbang bersama sahabatku, Lily.” Ia menjawab dengan nada gugup dan mata yang berkaca-kaca –sepintas ia menatapku. Itulah sekiranya peristiwa yang masih kuingat. Saat itu pula senyum kak Ilham luntur. Mungkin kak Ilham kecewa dengan keputusan Wiby. Dengan berat hati kak Ilham menyunggingkan senyum sambil berkata, “Hm ya gak papa kok. Mungkin aku terlalu cepat mengungkapkan perasaan ini. Tapi sungguh, hati ini akan selalu terbuka untukmu, Wiby. Aku terima keputusanmu.” Rupanya kak Ilham cukup bijaksana dalam mengatasi masalah ini. Tetapi aku makin bingung dengan Wiby. Ada apa dengannya? Kukira ia menyukai kak Ilham. Jika iya tapi mengapa ia menolak? Entahlah.. hanya tuhan dan Wiby yang tahu jawabannya.
Disana, saat kami bermain air tiba-tiba kak Ilham mengungkapkan perasaannya pada Wiby disaksikan olehku, kak Randy dan hamparan pematang sawah serta aliran sungai yang mengalir tenang. Waktu terasa lambat berjalan, daun yang lepas dari rantingnya pun berayun dengan tempo yang amat lambat –kaya slow motion gitu. Masih kuingat ekspresi muka Kak Ilham saat menunggu untaian kata yang akan keluar dari bibir Wiby, demikian juga dengan diriku. Hingga akhirnya…
“A… Ak… Aku ssebenarnya juga sayang sama kakak (kulihat senyum di pipi kak Ilham) tapiii.. untuk saat ini aku masih belum berfikir untuk menjadi putri di hati seseorang, dalam artian ini aku belum bisa menerima kakak. Aku masih ingin menikmati masa-masa dimana aku bebas seperti kupu-kupu dan terbang bersama sahabatku, Lily.” Ia menjawab dengan nada gugup dan mata yang berkaca-kaca –sepintas ia menatapku. Itulah sekiranya peristiwa yang masih kuingat. Saat itu pula senyum kak Ilham luntur. Mungkin kak Ilham kecewa dengan keputusan Wiby. Dengan berat hati kak Ilham menyunggingkan senyum sambil berkata, “Hm ya gak papa kok. Mungkin aku terlalu cepat mengungkapkan perasaan ini. Tapi sungguh, hati ini akan selalu terbuka untukmu, Wiby. Aku terima keputusanmu.” Rupanya kak Ilham cukup bijaksana dalam mengatasi masalah ini. Tetapi aku makin bingung dengan Wiby. Ada apa dengannya? Kukira ia menyukai kak Ilham. Jika iya tapi mengapa ia menolak? Entahlah.. hanya tuhan dan Wiby yang tahu jawabannya.
Semenjak kepulangan kami dari liburan ke rumah nenek dan sebuah peristiwa dikala hujan minggu. Wiby banyak mengalami perubahan. Dia menjadi pemurung walaupun juga sudah sedikit dewasa, di depanku ia masih bisa tersenyum. Tapi aku tak suka dengan senyumnya, kini. Senyum palsu. Semenjak itu pula ia tak pernah bertengkar dengan adiknya. Ia hanya akan membuat ketawa adiknya lalu pergi –ke taman. Ia tak pernah mempermasalahkan hal sepele lagi. Lagi-lagi aku dibuat heran dan bingung olehnya.
—
Hembusan angin membelai lembut pipi chubbynya, ketika kedua tangan ini memeluk tubuhnya dan mengusap jilbab kelabunya.
“Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua bebanmu. Ada aku yang akan mendengarkan semua gundahmu.” Sungguh aku tak suka melihatnya seperti ini. Aku tak sanggup melihat permata itu keluar dari persembunyiannya.
“Mmmakasih ya Li, kamu udah mau menemani hari-hariku. Banyak kenangan yang kita lewati bersama. Aku beruntung punya sahabat sepertimu” Hatiku tersasat saat mendengar suara paraunya.
“Iya by, aku juga bahagia kok jadi sahabat kamu. Aku banyak belajar arti ketegaran darimu. Udah ya jangan sedih lagi. Senyum dong. Aku merindukan senyum itu.” Suaraku tercekat saat mengucapkan kalimat itu. Ia tersenyum, tulus. Itu yang kutunggu. Ia dapat tersenyum, bukan berarti ia telah sembuh tetapi ia mencoba untuk bangkit. Kutahu itu.
“Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua bebanmu. Ada aku yang akan mendengarkan semua gundahmu.” Sungguh aku tak suka melihatnya seperti ini. Aku tak sanggup melihat permata itu keluar dari persembunyiannya.
“Mmmakasih ya Li, kamu udah mau menemani hari-hariku. Banyak kenangan yang kita lewati bersama. Aku beruntung punya sahabat sepertimu” Hatiku tersasat saat mendengar suara paraunya.
“Iya by, aku juga bahagia kok jadi sahabat kamu. Aku banyak belajar arti ketegaran darimu. Udah ya jangan sedih lagi. Senyum dong. Aku merindukan senyum itu.” Suaraku tercekat saat mengucapkan kalimat itu. Ia tersenyum, tulus. Itu yang kutunggu. Ia dapat tersenyum, bukan berarti ia telah sembuh tetapi ia mencoba untuk bangkit. Kutahu itu.
Setelah penolakan itu, hubungan mereka masih baik-baik saja, Wiby masih tersenyum bahagia. Hingga peristiwa naas itu datang menimpa kak Ilham, ia diterjang sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpental sejauh beberapa meter. Saat perjalanan menuju rumah sakit, nyawanya tak dapat tertolong. Kak Ilham kehabisan banyak darah. Saat itu hujan memang sedang turun tetapi kak Ilham memaksaan dirinya untuk tetap berkunjung ke rumahku dan Wiby. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Tetapi kini ia telah pergi, jauh. Itulah yang membuat Wiby menjadi terpuruk dalam duka ini saat mendengar dan melihat jasad pria yang ia cintai. Ya, ia memang mempunyai rasa yang sama pada kak Ilham. Ia menolak karena saat itu ia sedang menata hati demi menghadapi adik yang juga ia cintai. Ia lebih memilih kebahagiaan adiknya dibanding perasaannya kepada pria itu. Sungguh, ia adalah wanita tegar dan tak egois lagi.
Duka biarlah, asal masih ada waktu untuk bangkit.
Duka biarlah, asal masih ada waktu untuk bangkit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar