Senin, 28 November 2016

setelah kepergianku

Ku tak bisa menggapaimu
Tak’kan pernah bisa
Walau sudah letih aku
Tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatku
Harus padam dan berakhir
Setelah aku mengenalnya, entah mengapa aku menyukai lagu lirik Antara Ada Dan Tiada itu, aku Velicia, aku mulai menyukai lagu itu karena Vero, pacarku sering menyanyikan lagu itu dengan suara merdunya. Sebenarnya aku sering merasa tidak enak ketika dia menyanyikan lagu itu, mungkin karena aku terlalu takut untuk kehilangan Vero. Aku sangat mencintainya.
Pagi ini, seperti biasa aku menjalani rutinitasku seperti mandi, sarapan, memakai seragam dan berangkat sekolah. Seperti biasa, Vero selalu menjemputku untuk mengantarkanku ke sekolah, walaupun kami beda sekolah, namun Vero selalu ingin mengantarkanku ke sekolah.
“Hey sayang,” ujarnya padaku.
“Hey, kamu selalu datang on time.”
“Tentu, aku tidak ingin kau dihukum hanya gara-gara aku telat menjemputmu saja Vel.”
“Oh.. kau selalu saja membuatku untuk tidak bisa berhenti mencintaimu.”
“Hey sudahlah, jangan berkata-kata puitis seperti itu, lebih baik sekarang kita berangkat.”
“Ok.”
Di perjalanan aku memeluknya dengan erat, entah mengapa aku merasa bahwa ini adalah pelukan terahirku padanya.. mungkin ini hanya perasaanku saja, pikirku. Sesampainya di sekolahku ia mengecup keningku seperti biasa. Namun yang tidak biasa adalah, ia memberikanku sebuah kalung berbentuk hati yang di dalamnya berisi fotoku dan dirinya.
“Velicia, mungkin ini adalah pemberian terakhirku, tolong jaga kalung ini baik-baik ya.”
“Hey, kau tidak boleh berbicara begitu. Jika kau berbicara seperti itu lagi, aku akan memusuhimu!”
“Kau lucu sekali jika sedang marah begini, membuatku jadi ingin bisa berada di sisimu lebih lama lagi.”
“Sudah kubilang ka.. hiks.. kau jangan berbicara begitu lagi hiks.. hiks,” ujarku yang kini telah meneteskan air mata.
“Hey jangan menangis sayang, aku mohon jangan buat aku merasa bersalah begini.”
“Kau harus berjanji untuk selalu berada di sisiku!”
“Baiklah, aku janji.”
“Jangan pernah mengingkari janjimu itu.”
“Iya sayang.”
Di tengah perjalanan menuju ke sekolahnya Vero dihadang oleh beberapa preman-preman yang membawa senjata tajam. Preman itu lalu menghadang Vero sehingga ia tidak bisa lewat. Merasa dihalangi, Vero lalu turun dari motornya dan menghampiri preman itu.
“Minggir gue mau sekolah!” ujarnya pada preman itu.
“Uhh.. bocah ingusan, serahin dulu harta lo baru lo boleh lewat.”
“Gue gak punya waktu ya ngeladenin preman kaya lo!”
Bugg…
Dengan beberapa kali pukulan Vero berhasil untuk membuat preman-preman itu tidak berdaya. Namun tanpa disadarinya, salah satu dari preman itu ada yang mengeluarkan pistol dari saku celananya. Dengan diam-diam preman itu mengarahkan pistol itu ke arah Vero yang tengah membelakanginya, Dan…
Dorr…
Velicia saat ini sedang gelisah lantaran Vero belum juga menjemputnya. Ia berkali-kali mengecek layar iPhone nya. Biasanya jika Vero telat menjemputnya pasti akan mengabarkannya lewat SMS atau Line, namun kali ini tidak sama sekali. Ditelepon juga tidak diangkat, karena sudah menunggu terlalu lama, ia pun memutuskan pulang untuk berjalan kaki.
Hingga malam tiba, Vero tak kunjung memberi kabar padaku. Aku merasa sangat gelisah, terlebih akan kata-katanya pagi tadi. Semoga ia baik-baik saja, batinku. Aku pun masih dengan setia mengirimi pesan lewat Line padanya, namun tak kunjung ada jawaban. Aku mulai bingung, haruskah aku ke rumahnya? Oh itu tidak mungkin, masalahnya aku baru sekali ke rumahnya dan itu pun hanya sebentar.
Keesokan paginya, Vero juga tidak mengantarkanku ke sekolah, aku berusaha berpikir positif akan Vero, semoga saja tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Di tengah perjalanan menuju sekolah, aku dikejutkan karena ada seseorang yang menepuk pundakku, otomatis aku menoleh kepadanya.
“Vero, aku kangen sekali kepadamu, kemana saja kau kemarin? Aku sudah menelponmu berkali-kali, sms, line, bbm, tapi kau tidak menjawabnya, motormu juga mana?”
“Hey, satu-satu dulu bertanyanya. Kemarin hp dan motorkuku dirampok preman, jadi maaf jika aku tidak menjemputmu kemarin.”
“Tapi kau tidak apa-apa kan sayang?”
“Tidak, sudahlah ayo berangkat nanti telat.”
“Ok, apa nanti kau akan menjemputku?”
“Tentu.”
Ketika sudah sampai di depan gerbang sekolah, kami berpisah lantaran sekolah Vero masih berjarak beberapa meter lagi. Ada yang aneh dari Vero tadi menurutku, aku melihat ada bercak darah di bajunya, ia juga terlihat agak pucat, tapi mungkin itu hanya darah bekas dilukai preman yang merampoknya kemarin, pikirku. Tapi aku merasa senang, karena Vero tidak apa-apa.
Pulang sekolah pun tiba, tepaksa saat ini aku pulang sendiri, karena Vero ada pelajaran tambahan katanya tadi ketika meneleponku. Aku melewati sebuah jalan sepi, aku sempat berhenti sejenak di jalan sepi ini untuk meminum air lantaran matahari siang ini sangat terik. Namun ketika aku melihat ke bawah, kakiku menginjak bekas darah yang berceceran. Entah mengapa aku ingin sekali mengikuti darah yang berceceran ini. Jika dilihat-lihat, sepertinya darah ini menuju ke suatu tempat, bisa dipastikan beberapa hari yang lalu ada pembunuhan disini.
Aku lalu mengikuti jejak darah ini. Jejak darah ini menuntunku ke sebuah gedung tua yang sudah lama tidak dipergunakan lagi. Aku pun lalu segera masuk ke dalam sana, masih dengan jejak darah yang aku ikuti yang menuntunku ke sebuah ruangan pengap dan berbau agak anyir. Aku curiga dengan baunya yang berasal dari kamar mandi yang berada di ruangan ini. Aku pun membuka kamar mandi itu dan betapa syoknya aku ketika melihat mayat yang terbaring dengan luka di bagian dada kirinya itu adalah Vero pacarku.
“VEROOOO… KAU KENAPA? INI PERMAINAN KAN? KAU BELUM MENINGGAL! TADI PAGI KAU MENGANTARKU KE SEKOLAH BUKAN?… hiks.. hiks,” teriakku histeris.
“Vero, kau sudah berjanji kepadaku! Kau tidak boleh pergi!” ujarku sambil mengguncang-guncangkan bahunya. Namun tangisanku segera berhenti ketika aku mendengar suara orang yang amat aku sayangi memanggilku.
“Hey sayang, aku tidak mengingkari janjiku.”
“Ve..vero, kau…”
“Aku akan selalu menemanimu Vel, jangan bersedih lagi.”
“Aku sayang padamu Vero, jangan pernah meninggalkanku.”
“Aku juga sayang padamu, tapi tolong hubungi keluargaku dan suruh mereka menguburkan mayatku secara layak Vel.”
“Iya, sekarang aku akan hubungi.”
Saat ini suasana haru menyelimuti keluarga Vero. Mereka semua bersedih atas kepergian putra semata wayangnya, terutama bundanya Vero, ia begitu histeris melihat kepergian anaknya yang begitu cepat. Berbeda lagi dengan Velicia, ia terlihat tidak terlalu sedih karena ia bisa melihat arwah Vero yang selalu menemaninya.
“Sudahlah tante, mungkin ini jalan yang terbaik untuk Vero,” ujarku menenangkan bundanya Vero.
“Hiks.. ibu tidak menyangka Vero meninggal secepat ini nak.”
“Velicia yakin, Vero pasti baik-baik saja di alam sana tante.”
“Iya nak semoga saja.”
“Velicia pamit dulu ya tante.”
“Iya nak.”
Tak terasa kepergian Vero sudah 40 hari. Selama 40 hari juga Vero selalu menemani Velicia. Namun dihari ke 40 ini Velicia merasa ada yang aneh pada Vero. Ia melihat bayangan Vero sudah mulai memudar, tidak secerah kemarin-kemarin. Ia mulai khawatir jika Vero akan pergi meninggalkannya. Ia tidak rela Vero pergi secepat ini.
“Ver, ini hari ke 40 kamu ya?”
“Iya Vel, gak nyangka ya aku mati secepat ini,” ujar Vero sedih.
“Hey, kamu jangan sedih gini, yang penting kan kamu masih bisa sama-sama aku terus.”
“Tapi tetep aja aku udah mati.”
“Ver jangan ngomong gitu lagi deh!”
“Hehe.. iya deh iya.”
“Tapi kalau aku lihat-lihat hari ini bayangan kamu mulai memudar Ver.”
“Masa sih?”
“Iya, aku takut kamu pergi.”
“Tidak akan Vel, lebih baik kamu tidur deh sekarang, sudah malam.”
“Iya deh, tapi kamu janji jangan pernah ninggalin aku ya!”
“Iya sayangku.”
Setelah Velicia terlelap Vero memandangi wajah polos dari pacarnya ini. Ia sedih jika harus meninggalkan Velicia, tapi biar bagaimanapun takdir sudah berkata lain. Ia sudah tidak dapat menemani Velicia lagi, waktunya sudah cukup sampai disini. Ia harus pergi. Mungkin ini adalah takdir mereka, tidak dapat bersatu di antara dua alam yang berbeda. Untuk yang terakhir kalinya Vero mengecup kening Velicia. I love you now and forever…
End

ketulusan hati seorang wanita

Sore ini Fitri datang untuk menontonku bermain futsal. Mantanku ini datang bersama Vina. Teman dekat dari Fitri ini memang begitu jelita parasnya dan senyumnya begitu manis mengalahkan gulali. Ya memang aku menyukai Vina, tak peduli dia itu teman dari mantanku, tapi tetap aku ingin dekat dengan Vina.
“Hai Zal, sudah selesai ya futsalnya, ini aku bawakan air minum sama handuk.”
Aku tau kalo Fitri sebenarnya masih mengharapkanku, terlihat dari cara dia menatapku dengan penuh harapan dan perasaan, perhatian dia kepadaku juga terlihat. Tapi aku sudah tidak menyukai Fitri, jadi aku tidak mempedulikan dan akan bersikap cuek kepadanya.
“Iya makasih ya Fitri. Eh ada Vina juga ya? Apa kabar Vina? Makin cantik aja.”
“Iya hehe aku diajak Fitri kesini, kabar aku baik kok. Ah kamu bisa aja gombalnya Zal.”
Tetap saja aku bersikap cuek kepada Fitri dan malah lebih bersikap terbuka kepada Vina. Entah Fitri menyadarinya atau tidak. Padahal aku berharap kalau Fitri menyadari bahwa aku sudah tidak lagi mencintainya dan lebih mengharapkan Vina yang mengisi hari-hariku agar menjadi lebih berwarna.
Setelah pulang aku masih memikirkan Vina dan berharap dia meresponku. Segera kuambil ponselku dan menghubungi Vina.
“Hallo, Vina malam ini ada acara? Aku mau ngajak kamu makan malam di luar.”
“Eh Rizal, kebetulan aku lagi sama Fitri nih. Baiklah aku mau, Fitri diajak nggak?”
“Nggak usah, aku pengin makan berdua aja sama kamu. Kamu pulang aja dulu nanti aku jemput di rumahmu biar Fitri nggak tau.”
“Ok Zal aku pulang sekarang nih.”
Kumatikan ponselku dan segera menuju rumah Vina lalu kubawa ke rumah makan yang romantis dan tempat duduk yang telah kupesan dengan hiasan lilin dan bunga di sekelilingnya.
“Wah indah sekali Zal, ini beneran kamu enggak salah ajak? Bukan Fitri yang seharusnya disini sama kamu?”
“Enggak Vin, aku sengaja ajak kamu kesini dengan suasana romantis begini. Kamu gak apa-apa kan aku ajak kesini?”
Vina tidak menjawab malah dia memeluk aku dengan spontannya. Mungkin ini menandakan kalo Vina senang dibawa kesini. Aku rasa ini sudah lebih dari lampu kuning yang Vina berikan untukku yang sedang berusaha mendekatinya.
“Vin, aku rasa aku suka sama kamu, kita sudah kenal lama juga dan aku mau kita kenal lebih dekat lagi. Apakah kamu mau?”
“Tapi… Bagaimana dengan Fitri? Dia kan masih mengharapkanmu.”
“Biarkan saja Fitri, nanti dia juga bakal tau kalo aku sudah tidak mencintainya lagi.”
“Tapi aku…”
“Sssttt sudah tinggal jawab IYA atau TIDAK Vin.”
“I..i..iya deh aku mau kenal dekat denganmu.”
Setelah kejadian malam itu aku jadi semakin dekat dengan Vina. Kami selalu menghabiskan waktu bersama setiap harinya. Sungguh, hari-hari yang sangat indah jika itu dilalui bersama Vina. Namun, Fitri tetap saja menghubungiku dan memberi perhatian kepadaku walau itu perhatian sekecil apapun, meskipun aku tidak mempedulikan dia tapi Fitri masih saja baik kepadaku.
Ponselku berdering, ternyata ada telepon dari teman kelompokku di kampus dan menyuruhku untuk segera datang. Saat menuju ke kampus di sore hari menjelang maghrib dengan mengendarai motor tiba-tiba entah bagaimana kronologinya aku sudah terbaring di rumah sakit dengan balutan perban yang membalut kakiku dan aku juga tidak dapat merasakan kakiku, sepertinya mati rasa. Mungkin retak atau bahkan patah. Ketika aku melihat sekeliling ternyata ada Fitri sedang tertidur di kasur yang aku tiduri dengan posisi duduk dengan kepala dan tangan yang merangkul erat tanganku yang tidak terluka ini. Seakan dia ingin selalu di sampingku dan tidak ingin kehilanganku.
“Fitri bangun fit…”
Kubangunkan Fitri dengan perlahan menarik tanganku yang telah dirangkulnya. Ternyata Fitri cantik juga kalau lagi tidur. Memang sewaktu pacaran dulu aku tidak pernah melihat wajah Fitri yang sedang tidur. Dengan perlahan aku mengusap rambutnya karena dia tidak bangun-bangun.
“Eh Rizal udah sadar yah, maaf ya aku ketiduran tadi.”
“Iya gak apa-apa kok lagian ini udah hampir jam 11 malam. Oh iya aku kenapa? Kok aku ada disini? Terus kamu juga kok bisa ada disini?”
“Jadi tadi waktu kamu berangkat ke kampus, kamu ditabrak oleh mobil, tapi mobilnya kabur gitu aja, terus aku dihubungi temanmu kalau kamu gak sadarkan diri dan lagi dibawa ke rumah sakit oleh ambulan, jadi aku kesini.”
“Oh begitu ya. Terus kakiku kenapa? Diperban begini.”
“Kaki kamu retak Zal”
“Astaga sebegitu parahnya. Tapi kamu nggak perlu nungguin aku sampai selarut ini. Lebih baik kamu pulang, sudah malam juga,”
“Enggak ah Zal, aku mau nungguin kamu aja, lagian aku udah izin kok ke orangtuaku.”
Berbulan-bulan aku terbaring di kasur ini, menunggu sampai kakiku pulih, dan selama itulah Fitri selalu ada setiap hari untuk menemaniku, merawatku dan menghiburku sampai Fitri juga yang menuntunku untuk dapat berjalan dengan normal lagi. Selama berbulan-bulan itu pun aku tidak bertemu dengan Vina.
“Fit makasih ya kamu baik sekali, selama ini kamu yang merawat aku sampai aku pulih. Maaf jadi merepotkanmu.”
“Iya sama-sama Zal, gak apa-apa kok aku ikhlas.”
“Ngomong-ngomong Vina kemana ya kok gak kesini?”
“Vina katanya pergi ke rumah neneknya. Enggak tau juga, dia sekarang jarang muncul dan jarang menghubungiku,”
Akhirnya aku sudah boleh pulang dan sudah bisa berjalan lagi bahkan sudah sembuh total. Ini semua berkat Fitri yang merawatku dengan baik. Ketika perjalanan menuju rumah, aku seperti melihat Vina sedang berboncengan sama cowok dengan arah tuju yang sama denganku dan dia berada di depanku. Langsung saja aku menghubunginya untuk memastikan kebenarannya. Ternyata benar dia mengangkat teleponku dan betul apa kata Fitri, alasan Vina yang sedang mengunjungi neneknya. Padahal tidak sama sekali.
Aku kecewa dengan Vina, dia tidak benar-benar serius kepadaku. Dia hanya mempermainkanku, dan aku pun tersadar bahwa ada sosok Fitri yang begitu tulus dan ikhlas menyayangiku dengan sepenuh hatinya. Aku menyesal telah tidak peduli kepadanya dan aku akan meminta maaf serta ingin mengulangi semua dari awal. Aku akan membukakan hati kembali untuk Fitri.
Seminggu berlalu dan aku berencana untuk membuat kejutan kepada Fitri. Segeralah aku menuju ke rumah Fitri yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Setelah mendekati rumah Fitri aku dikagetkan dengan adanya bendera putih yang menggantung di depan rumahnya. Terlihat ada Vina yang sedang berjalan sambil menangis di depan rumah Fitri. Aku pun lari lalu menegur Vina.
“Vina ini ada apa? Kenapa ada bendera putih di rumah Fitri? Terus kenapa kamu menangis?”
“Iya Zal, Fitri meninggal tadi subuh. Dia sudah tidak kuat lagi melawan penyakit kankernya.”
“Penyakit kanker? Sejak kapan? Kok aku gak tau?”
“Sebenernya sudah lama, aku sempat salut kepada Fitri, dia begitu kuat melawan penyakitnya itu, maaf aku tidak memberitahukan ini semua kepadamu sebelumnya karena ini permintaan Fitri sendiri yang tak ingin kamu tau. Fitri bisa kuat selama ini karena ada penyemangat dia, karena ada orang yang dia sayangi, karena ada alasan dia untuk kuat melawan penyakitnya jadi dia berusaha kuat untuk membuat orang yang disayanginya bahagia, dan dia senang kemarin bisa merawat orang tersebut hingga pulih dari sakitnya. Orang itu adalah kamu Rizal! Aku kemarin sengaja gak menengokmu dan membiarkan Fitri yang merawat kamu karena aku sudah merasa bersalah telah merebutmu darinya. Maka dari itu aku ingin membuat Fitri bahagia berada di samping orang yang disayanginya. Oh iya, dia sebelumnya menitipkan surat ini untukmu.”
Aku tak menjawab perkataan dari Vina, langsung aku ambil surat itu dan segera aku membacanya dengan penuh rasa penyesalan dan menahan air mata yang seakan ingin menumpahkan semua isinya.
Dear Rizal,
Rizal, maafin aku yang selama ini selalu mengganggu kehidupanmu. Aku tau kamu sudah tidak peduli lagi kepadaku, dan aku juga tau kalo kamu menyukai Vina, aku tau itu dan aku tidak marah kepada siapapun karena semua ini adalah pilihanmu.
Maafin aku juga karena aku telah menutupi penyakitku dari kamu, karena aku tidak ingin kamu memikirkan penyakitku, aku hanya ingin membuat orang yang aku cintai bisa bahagia. Melihatmu tersenyum saja aku sudah bahagia dan satu lagi, aku sangat bersyukur juga kemarin telah diberi kesempatan bisa tertawa bersamamu, memperhatikanmu, dan telah merawatmu hingga kamu pulih dari sakitmu. Itu merupakan momen terindah dalam hidupku bersamamu Zal. Aku janji tidak akan melupakan momen tersebut.
Sekali lagi maafin aku ya, aku tidak bisa berada di sampingmu selamanya. Tapi aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku akan selalu ada di sampingmu dengan sayap putih yang kumiliki kelak di dunia lain dan aku akan selalu mengawasimu. Karena aku sangat mencintaimu Rizal!
Love You,
Fitri
Membaca surat itu aku tak kuasa menahan air mataku dan aku langsung berlari menuju jenazah Fitri dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Aku tetap memberikan bunga mawar yang aku bawa dari rumah tadi karena sengaja akan aku berikan kepada Fitri. Tapi kini Fitri yang menerimanya sudah tak lagi bernyawa.
“Fitri bangun fit! Bangun! Aku ada kejutan untukmu! Aku bawakan bunga mawar kesukaanmu dan aku mau kita bisa kaya dulu lagi! Fit aku minta maaf karena sikapku yang acuh kepadamu belakangan ini. Aku menyesal Fit! Tolong Fit jawab aku!”
Aku sangat menyesalinya karena tidak bisa mengungkapkan isi hatiku dan menyampaikan permohonan maafku yang selama ini sudah salah memahaminya. Aku tidak bisa menyampaikan itu semua langsung kepadamu yang masih bernyawa. Tapi kini kau telah berada di langit ke tujuh bersama bidadari cantik lainnya.
Mulai saat itu aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan orang yang tulus menyayangiku, entah itu datang dari masa lalu ataupun dari orang yang baru aku kenal sekalipun aku akan bersikap baik. Tidak akan pernah aku tak mempedulikan orang lagi. Aku belajar banyak dari sosok Fitri apa arti ketulusan, keikhlasan, kasih sayang dan hal-hal baik lain dari Fitri. Selamat tinggal Fitri semoga kau tenang di alam sana sayang.

because cinta

Matahari seakan terbenam dan terbit menemani keseharian freya yang terkadang baik dan terkadang tidak. Bersama seorang lelaki yang biasa dipanggil dengan sebutan “papa” olehnya dan rumah mewah yang tak sepenuhnya membawa kebahagiaan.
Suara bel terdengar
Papa freya melangkah menuju pintu lalu membukanya perlahan.
“Pagi om” sapa sesesorang
“Ohh.. pasha, silahkan masuk, mungkin freya masih ganti baju”
Pasha.. dia adalah kekasih freya, seseorang yang sangat dibanggakan oleh papanya. Berharap bisa menjaga anak semata wayangnya itu. Belum lama mereka berbincang, freya sudah menghampiri mereka dengan menggunakan peralatan sekolah lengkap.
“Pa, freya berangkat sekolah dulu ya” pamitnya
“Iya, hati hati”
Keseharian mereka yang mereka buat seindah mungkin, hanya untuk melihat sebuah senyum dalam diri mereka masing masing. Bangun pagi, sekolah, tidur, pagi lagi dan terus berputar seperti itu.
Hari yang ditunggunya telah tiba.
Sahabatnya, afra, dari negeri paman sam, Amerika akan tiba. Afra merupakan sahabatnya sejak kecil, ia sekolah di luar negeri karena mendapat beasiswa yang bisa ditempuh hanya dalam jangka dua tahun.
“Sha… hari ini kamu anterin aku ke bandara ya” pinta freya
“Ngapain?”
“Sahabatku, afra, dia pulang, dan aku sudah berjanji untuk menjemputnya”
Pasha tersenyum simpul, ia akan melakukan apapun untuk freya
“Asal kamu tau frey, aku sayang banget sama kamu” batin pasha.
Akhirnya mereka sampai di bandara, freya terlihat sangat bahagia ketika melihat afra kembali dan mereka berencana untuk menghabiskan waktu di akhir pekan nanti. Setiap hari afra hanya bisa bermain gadget untuk mengisi waktu sebelum akhir pekan, sedangkan freya dan pasha masih harus sekolah.
Akhir pekan pun tiba. Mereka hanya sekedar berjalan jalan di taman sambil memakan cemilan yang sangat pedas dan tak lupa sedikit canda tawa. Namun seketika badan freya terasa lemas dan ia jatuh pingsan. Dengan sigap afra dan pasha membawanya ke rumah sakit.
“Dok, apa yang terjadi dengan freya?” tanya pasha
“Hmm.. apakah kalian keluarganya?”
“Saya papanya” ungkap papa freya
“Mari bapak ikut ke ruangan saya”
Papa freya mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.
“Silahkan duduk pak”
“Jadi begini pak, freya tadi terlalu banyak mengonsumsi makanan yang pedas, dia memiliki asam lambung, jadi tolong bantu dia untuk menghindari makanan yang asam, asin dan pedas.”
Hampir satu minggu freya dirawat di rumah sakit, memang keadaanya sudah mulai membaik namun papanya sangat mengkhawatirkannya. Pasha sendiri tidak pernah menjenguknya 3 hari belakangan ini.
“Aku kangen kamu sha” ucap freya
Sementara di waktu yang sama. Pasha sedang berjalan jalan dengan afra, sahabat kekasihnya sendiri, hingga ia sampai ke sebuah tempat yang membuatnya ingat kepada freya.
“Aku sendiri tidak tau frey kenapa aku melakukan hal ini, aku minta maaf” batinnya.
Waktu freya kembali ke rumah Pasha sudah menunggunya di sana, ia lebih memilih menunggu ketimbang ikut mengantarkan freya pulang.
“Frey” ucap pasha dengan halus
“Ya sudah, papa rapikan tempat tidurmu dulu ya” pamit papa
“Aku minta maaf, aku gak punya rasa yang kaya dulu lagi ke kamu” ucapnya sambil memegang kedua tangan freya.
Tiba tiba afra menghampiri mereka
“Karena Afra?”
Pasha hanya bisa diam tidak menjawab
“Gila kamu ya, kamu itu sahabatku” ucap freya dan berlalu meninggalkan mereka di teras rumah freya.
Ketika itu tanpa sengaja freya menemui afra.
“Fra, aku gak tau yang ada di pikiran kamu, tapi yang jelas banyak harapan, keinginan dan cita cita aku sama pasha yang hancur gara gara kamu” ucap freya. Afra tak menjawab tapi pergi meninggalkan freya. Namun seketika pasha datang
“Lagi lagi kamu nyakitin perasaan dia frey”
“Trus apa bedanya sama kamu yang nyakitin perasaan aku?”
“Kenapa sih kamu gak pernah mikirin perasaan dia?”
“Emangnya selama ini dia pernah mikirin perasaan aku? enggak sha. Dan dia gak jauh beda sama kamu.”
Pasha termenung sejenak lalu berlari mengejar afra, meninggalkan seseorang yang segalanya baginya, dulu.
Brakkkk
Suara itu membuat pasha mengurungkan niatnya untuk mengejar afra. Ya… orang yang selama ini disayanginya dihantam sebuah truk. Pasha berlari menghampiri freya.
“Frey” ucap pasha dengan lembut
“Tolong bantu aku ngucapin kalimat syahadat sha” ucap freya dengan nafas tak beraturan.
“Ashaduallailahaillallah”
“Ashaduallailahaillallah”
“Wa ashaduannamuhammadarasulullah”
“Wa ashaduannamuhammadarasulullah” ucap freya dengan nafas yang semakin tidak beraturan hingga air mata pasha jatuh di pipi freya. Kemudian mata freya perlahan menutup.
“Freyaaaaaa” teriak pasha.

doaku untuk kau bahagia

Saat itu 2011 aku masih duduk di bangku kelas 9. Aku merupakan seorang siswa yang tergolong nakal, usil, suka berantem dan sering berbuat ulah namun juga tergolong siswa yang cerdas meski jarang belajar dan memperhatikan guru-guru yang menerangkan.
Sejak aku masuk dibangku kelas 8, ada seorang siswi adik kelasku yang baru masuk di SMPku. Pertama aku melihatnya jantungku serasa berdebar. Ya, aku suka padanya namun kata orang orang dewasa biasanya itu cuma cinta monyet. Tapi aku rasa tidak. Sebab sampai detik ini aku juga masih mencintainya.
Ujian Tengah Semester sudah terlaksana, sekarang waktunya class meeting. Saat itulah aku sering berkeliling sekolah bersama teman-teman cowokku dan mengusili adik-adik kelasku. Tepat di depan kelas 8e aku berkumpul dan duduk bersama teman-temanku untuk beristirahat berusil. Saat itu aku melihatnya lagi, seorang perempuan yang belum sempat aku tahu namanya. Saat itu juga aku beranikan untuk mengenalnya, Zani namanya.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan aku berteman dengannya dengan menyembunyikan semua perasaanku padanya. Perhatian, suara, canda dan tawanya selalu menjadi bulan dan bintang yang menghias langit hitam di malam hari setiap hariku. Nasihat-nasihatnya menuntuku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Tapi entah kenapa aku semakin nyaman, senang dan bahagia saat bersamanya. Aku semakin terjerat dalam cinta yang semakin hari semakin mengutuk hatiku untuk melukiskan nama dan dirinya di dalam sana. Aku semakin bahagia berbagi hidup dengan Zani meskipun aku tidak tahu seperti apa hatinya padaku. Aku terlena dalam sebuah penjara kesakitanku sendiri. Aku bahagia tanpa mengetahui akhirnya akan seperti apa.
2 Tahun Telah berlalu aku masih dalam sihirnya. Zani selalu berbagi denganku. Keluh kesah dan bahagianya selalu ia ceritakan padaku. Ia sering disakiti laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya. Ia pernah menangis padaku saat ada seorang yang hendak merenggut kesuciannya, hatiku terbakar mendengarnya. Ingin aku berada di sampingnya dan menjaga setiap langkahnya hingga suci pernikahan nanti bersamaku. Tak kuasa aku menahan berjuta perasaanku padanya.
“Zan, kamu pernah merasa ada perbedaan gak sejak kita kenal dulu sama sekarang?”, kubuka sebuah obrolan kecil setelah ia curhat padaku tentang kegalauannya.
“Perbedaan? Contohnya?” tanyanya balik.
“Ada sebuah rasa di sini zan. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu! Aku ingin melihat tawamu karenaku, bahagiamu juga karena aku. Demi Allah aku mencintaimu dan ingin membimbingmu ke jalan yang diridhoiNya. Aku ingin kamu menghiasi hariku hingga nanti denyut nadiku telah terhenti. Aku mencintaimu, Zan!” Aku merintihkan banyak kata yang tak mampu kuucapkan. Bergejolak mencincang hatiku.
“Dim? Kok diem sih? Perbedaan apa?” Ia membangunkanku dari sebuah imaji indahku saat terbayang aku mengatakan semuanya padanya.
“Gak papa kok. Beda aja gitu, dulu kita kan masih SMP dan gak tau apa pun tentang… emm…”
“Tentang apa?”, tanyanya lagi.
“Tentang SMA lah. Namanya juga anak smp kan gak tau apa pun sama SMA. Hehehe… Cepet banget ya, sekarang kamu udah 17 tahun dan aku udah mau lulus, tapi makasih ya udah nemenin aku dan jadi sahabat baikku. Aku sayang kamu, Zan. Kamu sahabatku yang paling sering bikin aku khawatir. Jangan sering nangis dong, cepet tua loh nanti!” Candaku sembari menutupi perasaanku yang sebenarnya.
“Ihhh, kamu.. Aku nangis kan bukan salahku? Hmm, tapi iya deh.. Aku yang makasih tau… kamu udah mau jadi tempat sampah dari penderitaanku ini, dim. Aku sayang banget sama kamu. Kamu jangan berubah ya!” senyumnya.
“Aku senang jadi tempat sampah kesedihanmu, Zan. Buang semua kesedihanmu bahagialah! Aku ingin kamu bahagia.” aku tersenyum padanya tanpa berkata apa pun menyembunyikan semua kata yang ada di hatiku.
Sudah lama kita tidak bertemu, air mata selalu menghiasi malamku. Berpuluh lagu kuciptakan untuk mengurangi bebanku. Tak henti gitar terus terpetik jari yang menari merdu di setiap helai senarnya.
Di ujung penantianku mengumpulkan keberanianku untuk mengatakan padanya, aku beranikan untuk bersuara tentang hatiku. Saat itu aku hanya berbaring termenung bersamanya memandangi sunset di bawah hamparan senja. Aku melihatnya tanpa ia sadari. Tiba-tiba ia menoleh padaku. Aku melepaskan mataku dari matanya. Aku tidak berani memandangnya saat itu.
“Kenapa aku harus jatuh cinta kalo gak bisa berkata-kata?” bisikku sendiri dengan pelan. Tanpa aku sadari Zani mendengarnya.
“Kamu jatuh cinta, Dim? Cieee, sama siapa tuh? Ehem.. ehem..”
“Nggak kok, siapa bilang?”
“Kan kamu yang bilang sendiri barusan? Jujur aja deh sama aku. Siapa orangnya, Dim? Pasti cantik ya?”
Kejar dong! Ungkapin, jangan takut gitu!” sambungnya.
“Apa aku benar harus jujur?”
“Wajib!”
“Sekarang, Zan?”
“Iya sekarang, bilang sama aku gak usah malu!” ia tersenyum.
“Orang bilang jatuh cinta waktu kecil itu cuma cinta monyet kan? Tapi kenapa masih terbawa sampai sekarang ya?”
“Berarti itu cinta sejati.” jawabnya dengan nada memberi tahu anak TK.
“Kalo gitu kalo misalnya wanita yang aku cintai kamu, apa kamu cinta sejati aku? Hahaha..” seriusku dengan nada bercanda.
“Pastinya dong! Emangnya siapa sih?”
“Aku takut kehilangan kamu kalo aku bilang.”
“Gak usah takut, kamu segalanya buatku.” nada lembut yang diiringi senyum serta kalimat yang menjebakku pada sebuah rasa yang semakin dalam itu seperti api yang membakar amarahku. Aku marah padanya.
“Udah lah, Zan. Kamu jangan bilang aku segalanya, itu menjeratku. Membuatku masuk ke dalam rasa yang tersimpan di hatiku sejak dulu. Tau gak kamu kalo aku cinta sama kamu?” ucapku dengan nada sedikit tinggi.
“Apa?” Ia meneteskan air matanya.
“Aakuu Ciintaaaaa Kamu, Zan! Saaangat mencintaimu. Sejak dulu, sejak aku melihatmu menjadi adik kelasku. Saat pertama aku melihat candamu bersama teman-temanmu, Aku cinta kamu, Zan. Hhehh..” terengah-engah aku mengucapkannya.
Ia hanya menangis, menangis keras sambil memelukku erat. Entah apa dia terharu atau sedih karena seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Sekian lama kita diam, ia berkata dalam tangisannya di pelukanku.
“Seharusnya tidak begini, Dim. Ini salah.” isaknya.
Tak terasa air mataku mengucur deras. Aku lepaskan pelukanku, namun ia enggan melepasnya. Zani terus memelukku erat, aku hanya pasrah. Deru tangisan mengalahkan angin.
“Kamu tidak mencintaiku?” tanyaku.
“Entahlah, tapi sungguh aku tidak ingin kehilanganmu, Adim! Aku sayang kamu. Kamu bisa membuatku tertawa, bahagia, sedih juga khawatir. Kamu sahabatku!” tangisnya semakin keras, pelukannya kian erat.
“Lalu bagaimana dengan mereka yang sering menyakitimu? Kenapa kamu malah pernah mencintai mereka yang tidak peduli padamu?”
“Aku tidak punya jawaban untuk itu, aku hanya suka. Seandainya aku hanya menyayangimu, aku mohon kamu jangan pergi, Dim. Please!” Tangisnya semakin menjadi-jadi.
Aku lepaskan pelukannya, kuangkat tangannya tepat di hatiku. “Zan, jika memang seperti itu, persahabatan ini tidak akan baik. Aku akan pergi. Jika ini diteruskan, aku akan sakit mungkin mati, Zan. Aku akan mendoakanmu yang terbaik. Aku akan mencoba merelakan dan melupakanmu entah bagaimana caranya. Aku yang bersalah, seharusnya aku ungkapkan dulu saat cinta itu hanya cinta monyet. Maafkan aku telah salah mengartikan ini semua. Terima kasih juga telah menjadikanku sahabat terbaikmu juga memberikan sebuah tempat di hati dan ingatanmu. Jika kita esok bertemu lagi, semoga kamu bahagia, Zan. Jika memang tidak mungkin untukmu. Maaf, Zan!”
“Jangan pergi, Dim. Aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak bisa melebihi sahabat. Aku tidak mau kamu pergi ninggalin aku. Aku tidak ingin kehilanganmu jika nanti kita akan putus. Please jangan pergi, Dim.” isaknya sambil kembali memelukku. Aku lepaskan pelukannya.
“Maaf, Zan. Aku akan pergi. Tidak mungkin jika seorang mencintai sahabatnya dan diketahui oleh sahabatnya bahwa ia mencintainya sedangkan mereka hanya bersahabat orang itu akan bertahan. Itu tidak mungkin, Zan. Rasanya sangat sakit. Aku harus melupakanmu, kamu harus menjauhiku! Aku harus pergi, hari sudah gelap.” aku kecup keningnya dan melepaskan tangannya. Aku hapus air mataku lalu mengantarnya pulang tanpa ada sepatah kata pun.
Kini hari-hariku sunyi, tanpa ada tawa asli di hidupku juga tanpa ada cinta selain Zani di hatiku. Hanya panjatan-panjatan doa setiap usai shalatku yang meminta untuk kebahagiaannya. Hingga kini rasa itu masih saja belum menghilang. Entah kenapa, 4 tahun lebih sudah berlalu, aku masih merindukannya dengan air mata.
“Ya Allah, berikanlah bahagia di hidupnya. Berikanlah pula kesehatan padanya. Jika seandainya ia bersedih, berikanlah sedih itu padaku dan tukarlah dengan kebahagiaan yang tertuju padanya. Amiin.”
Setiap malam doaku tak pernah tidak menyebut namanya. Zami. Aku ketahui saat ini ia sudah punya pacar bernama Rif. Semoga ia tidak menyakiti Zani.
END

cinta berakhir

Biarkan hati ini tenang tanpamu disini. yang selalu membuatku bahagia denganmu. Mengubah hidup ini lebih berwarna, Memiliki makna. Bersamamu. Aku ingin bersamamu.
Jam menunjukan pukul 00.00, seorang gadis cantik berjalan sambil menangis sendirian ke luar dari sebuah cafe. Dia bernama Melody. Sebuah mobil berhenti menghampirinya. Lalu membuka kaca jendela mobil. Seseorang yang berada di dalam mobil menawarkan tumpangan mobilnya untuk melody. Dia bernama Rian.
“Hei, ngapain lo disitu sendirian nangis? Ayo naik ke mobil gue” tawaran rian.
Melody hanya terdiam melanjutkan perjalanannya. rian membuka pintu mobil dan turun sambil menarik tangan melody.
“ayo naik, lo cewek sendirian malem-malem gini. Daripada lo ada apa-apa di jalan, naik mobil gue ayo” maksa rian agar melody naik mobil honda milik rian.
Melody hanya menggeleng kepala. Lalu melanjutkan jalan. 3 orang laki-laki menghampiri melody. menggodai melody hingga menyentuh tangan melody. Melody dengan ketakutannya sambil meringis muka manisnya. Rian langsung berlari menonjok 3 laki-laki yang menggodai melody tadi menggunakan kepalan tangan yang sangat keras. wajah 3 laki-laki itu memerah kesakitan. lari sekencang-kencangnya sehabis dipukul rian.
Melody berterima kasih kepada rian. “makasih ya udah nolongin gue.” Tersenyum melody menatap wajah rian sejenak.
Rian memastikan kalau melody gak papa “lo gak papa? Ayo naik mobil gue, kan gue udah bilang malem gini bahaya, apalagi lo cewek. lo masih aja nekat pulang sendirian.”
Akhirnya melody menganggukkan kepalanya karena ajakan rian yang mau mengantarkannya pulang. Mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Rian mengambil gas terus mengambil stir mobil dengan pelan. lalu mobil pun jalan. Dalam mobil rian bertanya
“lo kenapa malem-malem gini masih di luar?” ucap rian
lalu melody menjawab dan memperjelas kejadiannya tadi. “pikiran gue kacau karena gue lagi banyak masalah. Akhirnya gue kabur sama pacar gue. pacar gue ninggalin gue dan mutusin gue di cafe tadi.”
Rian bertanya lagi “kenapa lo harus kabur dari rumah dengan cara gini? Sama aja lo ngebahayain diri lo sendiri. Orangtua lo khawatir di rumah.”
“kok lo jadi ngatur-ngatur gue? Kalo lo gasuka nolongin gue mending gak usah nolongin.” Kesal melody.
“gue minta maaf kalau salah ucap. Rumah lo dimananya?” tanya rian kembali.
“depan dikit rumah gue” jawab melody yang masih kesal itu.
Rian pun memberhentikan mobilnya. Sampai depan rumah, melody berterima kasih lagi kepada rian karena sudah mengantarkannya pulang dan menyelamatkannya walaupun masih merasa kesal atas kejadian tadi.
“makasih udah nolongin gue dan nganterin gue pulang.” ucap melody. membuka pintu mobil menurunkan kakinya ke tanah. Berjalan ke luar menuju rumahnya yang sudah sampai itu. Rian pun tersenyum. rian kembali mengambil gas lalu beranjak pulang menuju rumahnya. Rian membayangkan gadis yang ditolongnya tadi. Sesampai di rumah, melody langsung membaringkan badannya yang lemas di atas ranjang. Dia memikirkan sesuatu. Masih ada orang yang mau menolongnya tengah malam gini.
Esok paginya, melody berangkat sekolah. Melody bersekolah di SMK HARAPAN TUNAS. Sesampai di sekolah melody melihat sosok cowok yang tadi malam menolongnya. Melody pun menyapanya
“lo yang tadi malem nolongin gue kan?”
Rian menjawabnya “lo juga yang tadi malem nangis di tengah jalan kan?”
Melody menyengir kecil. “waaiya haha, lo sekolah disini juga?” tanya melody.
“gue murid baru disini pindahan dari bandung. Lo disini juga?” jawab rian sambil tersenyum.
“oh pantesan gue gak pernah liat lo, ternyata murid baru. Kelas berapa lo?” tanya melody.
“gue kelas 3 disini.” jawab rian.
Bel masuk berbunyi Kriing-Kriiing
“gue duluan ke kelas ya. Udah bel masuk tuh bye” melody berjalan menuju ke kelas bersama murid lainnya.
Rian itu orangnya manis, ganteng, baik, murah ramah dan paling disukai para wanita di sekolah barunya. Awal masuk banyak yang ingin mendekatinya. ternyata melody sudah mengenalnya karena menolongnya di pinggir jalan dekat cafe. Temen melo bernama Adel pun juga ikut menyukainya.
“mel, dia ganteng banget mel, gue suka sama dia. Ahh love love buat dia” pikiran adel melayang. karena Rian murid baru di sekolahnya tersebut. Melody tidak menyautkan apa yang diucapkan adel.
“mel kok lo diem? jawab dong.” Tanya adel heran.
“gue udah kenal sama dia.” Jawab melody singkat.
“kok lo gak bilang kalo lo udah kenal sama dia? semenjak kapan lo kenal dia?” Heran adel lagi.
“kemarin dia nolongin gue ditengah jalan, gue abis pulang dari cafe tapi gue gakenal nama dia siapa hahaha.” jawab melody sambil meledek adel.
“udah ah gue lagi males bahas del.” ucap melody.
Esok harinya, depan rumah melody sudah ada mobil terparkir di halamannya. Melody terkejut. Lalu menghampiri mobil itu. Ternyata rian.
“ngapain lo pagi-pagi di depan rumah gue?” gumam melody.
“ayo naik daripada lo di tengah jalan digodain lagi. Mau lo?” ucap rian dengan menawarkan tumpangannya untuk bersama ke sekolah.
“berisik lo, kalu niat nawarin jangan gitu juga kali.” rutuk melody.
“ya udah naik cepet telat nanti ke sekolah.” jawab rian.
Melody menarik pintu mobilnya lalu masuk ke dalam mobil. duduk di bangku mobil yang ditumpanginya.
Sesampai di sekolah melody pun keluar dari mobil dan berterima kasih kepada rian. melody menuju ke kelas. meninggalkan rian sendiri dalam mobilnya. Banyak murid yang melihatnya sinis kepada melody. Karena melody berangkat satu mobil dengan rian. cowok ganteng dan manis itu di sekolahannya. Pada saat ke luar pintu mobil ada adel di belakangnya lalu mendekati melody yang sedang berjalan sehabis ke luar mobilnya rian.
“mel, lo berangkat bareng sama dia.” tanya adel.
“Dia yang tiba-tiba depan rumah gue katanya sih pengen berangkat bareng gue.” ucap melody.
“ya udah gue mau ke kelas lo mau bareng nggak del?” ajak melody.
“lo ada hubungan apa sama dia sampe seakrab itu? Kan lo berdua baru kenal” tanya adel penuh penasaran.
“udah ah ngapain sih bahas dia gue lagi males bahas apa-apa. Jangan buat suntuk pagi-pagi delkuimutt si tembem” ucap melody sambil meledek teman dekatnya itu.
Malam yang sunyi. tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Melody yang sedang belajar ke luar kamar membuka pintu rumahnya.
“ngapain lo disini? Gue lagi belajar.” Ucap melody sinis.
“ayo ikut gue. Cepet.” Rian menarik tangan melody keluar menuju mobil.
“jangan ditarik. Sakittt tau nggak” melody berusaha melepaskan tangannya dari genggaman rian.
“gak usah berisik bisa gak si?” jawab rian sedikit marah.
“gue gak mau riaann… gue bakal teriak nih.” Rutuk melody.
“gue lepasin kalau lo masuk mobil gue.” jawab rian memaksa.
“iya gue masuk.” Melody menggerutu.
Sampai depan cafe, melody dan rian turun dari mobil. Memasuki cafe ternyata sepi.
“ngapain kesini?” sinis melody.
“udah ayo masuk dulu.” Jawab rian.
Setelah memasuki cafe, melody dan rian duduk di tempat meja yang sudah dipesan oleh rian kemarin. Iringan musik romantis berbunyi di sekitaran mengelilingi si cafe, bunga mawar yang indah menghiasi meja. Pelayan cafe yang tiba-tiba membawa nampan. menaruh sesuatu di atas meja. Rian menyanyi sebuah lagu dengan suaranya yang begitu enak didengar di telinga untuk melody seorang. Tersentak melody meneteskan air mata. Rian berdiri di hadapan melody. lalu mendekatkan wajahnya dengan melody yang hampir saja ingin mengenai bibir manisnya. mengatakan
“aku sayang kamu.”
Melody terkejut terharu dengan yang terjadi di hadapannya. Berlinang air matanya itu.
“kamu kenapa sayang?” tanya rian khawatir.
“aku terharu, aku nggak menyangka kejadiannya bakal seperti ini.”
Melody menangis tak terhenti. Akhirnya melody menerima perasaan rian yang ingin menjadi kekasihnya. Melody sangat mencintai rian. begitupun rian yang menyanyangi tulus kepada melody yang sudah berjalan selama 5 bulan.
Cinta mereka pun menyatu. tak peduli halangan apapun yang menerpa. Hubungan mereka sudah menjalaninya hingga 3 tahun.
Di anniversarynya yang ke 3 tahun rian berniat ingin mengasih sesuatu yang menakjubkan dan susah untuk dilupakan. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari. tak terasa waktu sudah terlewati.
Pagi hari menyapa. rian ingin mengajak melody ke cafe dimana mereka awal bertemu. Rian mengambil handphonenya memencet nomor melody untuk kirim pesan kepada kekasihnya.
“sayang, kita ketemu hari ini di cafe. Aku nggak bisa jemput kamu. Tapi nanti ada taksi yang bakal datang ke rumah kamu sudah kupesankan.”
Handphone melody berdering sejenak. Melody melihat layar handphonenya melihat sebuah pesan dari rian. Melody pun langsung membalas pesannya. dengan mahirnya memainkan keyboard di touchscreennya
“aku siap-siap dulu sayang. Oke nanti 30menit aku bakal datang.”
Melody langsung berganti baju dan rapi-rapi akan pergi ke tempat cafe yang dijanjikannya. Taksi pun datang tepat waktu, melody sudah rapi bersiap-siap untuk berangkat. Melody langsung menaiki taksi tersebut menuju cafe yang dijanjikan rian. sesampai depan cafe. Melody memasuki cafe yang ramai dengan pengunjungnya. Melody duduk di tempat meja kosong. Seorang pelayan datang ke meja melody dengan menawari buku menu untuk dipesan.
“mau pesan apa?”
“pesan jus melonnya aja satu mba.” Jawab melody sambil menunggu rian.
“ada yang mau dipesan lagi?” tanya pelayan.
“ngga mba, udah itu aja.” jawab melody sembari menunggu rian.
Pesanan pun datang. Rian yang sedang berjalan menuju ke cafe tiba-tiba kecelakaan di jalan. Menabrak sebuah mobil di hadapannya sampai mobil depan rian hancur berasap. Darah bercucuran di kepala rian yang terkena benturan setir. Boneka yang bertuliskan I LOVE YOU dan ada sebuah kalung yang dikalungkan di leher boneka tersebut, berada di bangku mobil sebelah rian menyetir terjatuh ke bawah. Seseorang lewat melihat mobil kecelakaan. Lalu berteriak meminta tolong. Silih berganti masyarakat ramai yang menolongnya. Lalu membawa rian segera ke rumah sakit. Polisi pun datang. Memasang garis polisi di tempat kejadian kecelakaan rian. menyelidikinya sebab kecelakaan tersebut.
Sudah 5 jam berlalu melody menunggu. Rian tak kunjung datang. Akhirnya melody memutuskan untuk pulang dengan hati yang kecewa. Rian sudah dibawa ke rumah sakit. Keadaannya sangat melemah. banyak kehilangan darah di bagian kepalanya. Rian butuh istirahat yang banyak.
Pagi hari, rian siuman dari tidurnya. Lalu rian ingat sebuah janji menemui melody kekasihnya. Rian pun pergi bertekad untuk menemui melody di cafe. Membawa boneka yang berada di meja ruangan istirahatnya. Dengan kondisi yang sangat lemah.
Jam 10 pagi, rian pergi menggunakan taksi menuju cafe. Mencabut jarum infusan yang di tangannya. Rian mengambil handphonenya lalu menelpon melody. tutt.. tutt.. tutt.. tetap tak diangkat hingga berulang kali. Rian pun sampai di cafe. Memasuki cafe duduk memesan minuman hingga jam 10 malam. Tepat jam 10 malam rian menunggu. Hingga berjam-jam, rian tetap bersikeras untuk menunggu melody kekasihnya pasti datang.
“mas, cafenya mau tutup.”
Pemilik cafe itu memberitahu bahwa cafenya sudah ingin tutup. Karena jam sudah menunjukan angka 10.
“pak, kasih saya kesempatan pak saya mohon. Ini ada uang sedikit tapi saya mohon jangan tutup dulu ada seseorang yang akan datang. Saya mohon pak.”
Rian memohon-mohon sembari meneteskan air matanya di hadapan bapak pemilik cafe agar cafe itu tidak jadi ditutup.
Akhirnya bapak tersebut mengizinkannya. Mengecek handphonenya berdering sebuah telepon masuk. Telepon masuk dari melody. Rian menggeser touch screennya menggunakan jari. Lalu mereka saling bicara. Melody pun menemuinya walau berat hati masih merasakan kecewa yang sangat mendalam. Dia tetap akan menemui rian kekasihnya.
Sesampai depan cafe, ternyata cafe sudah sepi. Melody tetap masuk ke dalam cafe karena berniat menemui rian. melody melihat sebuah laki-laki menggunakan jas hitam, jeans biru.
Melody menepuk pundak laki-laki itu lalu menegurnya.
“maaf mas,”
laki-laki itu menengok ke belakang melihat melody langsung memeluknya. Dengan muka yang sangat pucat, kondisi badan yang sangat lemah itu terjatuh langsung di pelukan melody.
“sayang, bangunn…”
Melody menepuk pipi rian dengan pelan. air mata melody berlinang di pipi. Ia tak tahu harus apa. Menggoyang-goyangkan badan rian agar tersadar.
30 menit berlalu, akhirnya rian siuman dari pingsannya. Rian yang terbangun pun duduk di dekat melody rian mengasih sebuah bonekanya kepada melody.
Tepat di anniversary yang ke 3 tahun jam 00.00
“sayang, aku hanya bisa mengasih ini saja. Apa kamu menerimanya?” ucap rian dengan lemas.
“kamu kenapa? Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit? Kepala kamu kenapa diperban gitu? Aku khawatir sayang. Aku akan menerima boneka itu dengan hati ikhlas asal kamu jujur.” Jawab melody sambil menangis yang tak henti-henti.
“aku gak papa. Aku sedikit lemas aja. Terima kasih udah mau bersamaku selama 3 tahun. Happy anniversary sayang. Semoga kamu bahagia.” Jawab rian yang semakin melemas itu.
Rian pun menutup mata selamanya. Melody menangis sejerit-jeritnya.
“sayaaaang… jangan pergiii.. aku sayang kamu tulus dari hati.. jangan pergiii aku gak relaa..” teriak melody.
Karena tidak rela bahwa kekasihnya yang selama ini sudah menemaninya. Sekarang tiada. melody memeluk tubuh rian kekasihnya itu dengan erat. Pelukan untuk terakhir kalinya.
Selesai

and i hope


Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil
Aku memang terkenal dengan keramahanku, hingga pada suatu hari ada seorang laki laki yang diam diam menyukaiku. Dia -laki laki itu- memang tampan tapi sayangnya akhlaknya buruk, suka mabuk mabukan, berpesta, bahkan pernah terjangkit kasus nark*ba
Astaga, dia cantik sekali, wajahnya bersinar, ya ampun…
“Hei!!!”
“Astaghfirullah, maaf mas kita bukan muhrim, jangan pegang pegang”
“Oh iya sorry, gua gak sengaja, kenalin gua Bayu, lo siapa?”
“Saya Ilona”
“Namanya cantik kaya orangnya”
“Terimakasih, ya sudah saya duluan, wasalamualaikum”
“Walikumsalam, ya Tuhan mimpi apa gua semalem, ketemu wanita cantik, ramah udah gitu sholeha lagi”
Saat aku hendak pulang, diam diam dia mengikutiku sampai di Pesantren. Iya, aku memang seorang santri yang sudah lama mengabdi di pesantren. Keluargaku memasukkan aku ke pesantren dari aku kecil.
Waktu yang aku tunggu tunggu kini tiba, aku dikirim ke Paris, karena mendapatkan beasiswa studi di Universitas terkenal di Paris. yaah.. Paris, kota yang selama ini aku idam idamkan, akhirnya tercapai juga impianku.
Tepat di taman aku duduk, sambil memotret pemandangan di sekitar taman, terdengar suara salam yang merdu di belakangku
“Assalamualaikum”
“Waalaikumu.. ssalam, kamu…
“Iya.. aku Bayu, kamu masih ingat aku kan?”
“Masih.. kenapa kamu ada disini?”
“Aku nyusulin kamu kesini”
“Kenapa?”
“Aku ingin mengejar cintaku, aku ingin meminangmu sebagai istriku, sejak pertama kali aku bertemu kamu, aku jatuh cinta Ilona”
Tetesan air mata membasahi pipiku, tanpa kusadari, sungguh aku terkejut
“Ilona”
“Bayu.. ini yang selama ini aku tunggu tunggu, suda lama aku menyimpan rasa ini, hingga ternyata Allah mengirimu sebagai jodohku”
“Sungguh?”
“Iya bay.. lalu kenapa kamu merubah penampilanmu, kamu terlihat lebih sholeh”
“Ilona, aku bertaubat, aku sungguh sungguh bertaubat karena aku sadar, aku berada di jalan yang salah, dan aku memutuskan untuk bertaubat nasuha karena Allah”
“Syukurlah Allah memberimu hidayah, lalu kenapa kamu tau aku ada disini?”
“Maaf Ilona, aku diam diam belajar di pesantren tempat kamu, dan aku mendengar kamu akan pergi ke Paris, akhirnya aku memutuska untuk ke Paris juga”
“tidak apa apa”
“Kamu benar menyukaiku?”
“Memang, pertama kali aku bertemu denganmu, aku menyukaimu diam diam, aku menyimpan rasa ini, aku pasrahkan semua kepada Allah, tiap malam aku menangis menahan rasa ini, tapi ternyata di balik itu semua Allah menjodohkanku denganmu. Orang yang selama ini aku ucap di sholat tengah malamku, dan pada akhirnya engkau meminangku”
Semenjak dipinang oleh dia aku berhenti studi dan hidupku menjadi sempurna karena dia. Hari hariku penuh warna hingga akhirnya Allah memberi anak yang lucu kepada keluarga kami.
Kunamakan Aisyah, dia tumbuh dengan parasnya yang cantik dan akhlaknya yang sholeha. Kehidupan kami menjadi lebih sempurna semenjak ada Aisyah di tengah keluarga kami.
Saat itu…
“Kamu kenapa de?”
“Aku pusing mas”
“Ya udah mending kamu istirahat dulu, mungkin kamu kelelahan, akhir akhir ini kayaknya kamu sering pusing”
“Iya mas, aku juga gak tau”
“Ya udah besok kita periksa aja yah”
“Iya mas”
“Bunda kenapa yah?”
“Bunda mungkin kecapean jadi bunda mau istirahat dulu”
“Ohh.. ”
Entah kenapa akhir akhir ini aku sering pusing, malah waktu itu pernah sampai pingsan, tapi untung ada yang nolongin. seorang ibu ibu yang aku panggil oma, dia sangat baik, dia tetanggaku di Paris dan sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri.
“What doc?, Ilona have a brain cancer?”
(Apa dok, Ilona mempunyai kanker otak?)
“Yaah.. and now had stage 4, her stay counting time, only miracle from God that helps”
(Yaah.. dan sekarang sudah stadium 4, hidupnya tinggal menghitung waktu, hanya keajaiban dari Tuhanlah yang membantu)
Seketika itu air mata menetesi pipiku, sudah tidak ada harapan lagi untukku, tubuhku mulai lunglai tak berdaya, kenyataan yang sungguh menyakitkan di hidupku ini
Tuhan… cobaan apa ini?
“De Ilona harus ikhlas, masih ada mas disini, mas akan selalu ada buat ade, mas akan selalu menjaga ade, mas sayang ade…”
“Tapi mas, umurku tinggal menghitung waktu, keselamatan aku untuk bertahan hidup sangat kecil, bagaimana dengan aisyah mas?, dia masih butuh kasih sayang aku”
“Udah de.. jangan mikirin itu, yang harus kamu lakukan.. berdoa sama Allah, minta pertolongan-Nya. ”
Aku terus saja menangis, kenyataan ini sungguh tidak terduga, tiap malam aku berdoa meminta pertolongan Allah…
Rontokan rambut mulai menghiasi hidupku, sehelai demi sehelai berjatuhan, aku hanya bisa menangis melihat perubahanku ini, tetapi suamiku dia malaikat tanpa sayap yang selalu menyemangatiku, selalu tersenyum di depanku, meskipun aku tau, di belakangku ia menangis
Operasi pengangkatan kanker akan segera dimulai, hal yang sangat aku takuti akhirnya tiba.
“De.. kamu harus kuat, kamu harus bisa ngelawan kanker jahat itu, kamu harus bisa melewati operasi ini, kamu kuat kamu kuat Ilona”
Hanya senyum tipis yang bisa aku berikan. Aku memasuki ruang operasi, di dalam sudah ada dokter yang siap dengan peralatan peralatannya, dan lampu yang sudah siap menyorotiku. Mataku terpejam karena cairan bius di tubuhku. di luar kamar operasi suamiku selalu berdoa dan tidak henti hentinya berdzikir berharap ada keajaiban.
Dokter yang menanganiku akhirnya ke luar
“Doc, how my wife doc?”
“Sorry sir, I can only try up here, your wife is not saved”
Bayu mulai lemas, air mata tak henti hentinya berjatuhan, kenyataan pahit apa ini ya Allah…
“Ayah.. Bunda mana?”
“Bunda sudah tenang di surga nak”
“Bunda pasti bahagia di surga, aisyah pengin nyusul bunda kesana.. Oh ya Ayah, bunda nitipin surat ini ke aisyah, katanya suruh dikasih ke ayah, ayah baca yah..”
Untukmu suamiku…
Malaikat tanpa sayap
Yang selama ini menjagaku dan merawatku
Mungkin disaat kau membaca surat ini, aku sudah tenang di sisi Nya
Aku hanya ingin menyampaikan beribu ribu terimakasih
Selama aku sakit, kau yang merawat, yang menghiburku, yang menjagaku dengan kasih sayangmu
Entah berapa ribu tetesan keringat dan air mata yang engkau jatuhkan
Meskipun kau selalu bilang “aku gak cape”
“Lihat tidak ada kesedihan di wajahku de.., aku aja gak sedih, masih terus semangat, masa kamu kalah sama aku mas?”
Tapi aku sadar penyakit itu terlalu kuat, sedangkan tubuhku tidak kuat lagi, aku kalah dari kanker.
Maaf beribu ribu maaf..
Aku belum bisa menjadi istri yang sholeha
Aku belum bisa mengabdi sepenuhnya
Aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuk aisyah
Aku belum bisa bahagiain kalian
Sekali lagi aku minta maaf
Salam hangat
Ilona
“Ayah kenapa? kok nangis?”
“Ayah gak papa kok”
“Ayah pasti sedih yah ditinggal bunda, ayah jangan sedih.. bunda udah sama Allah kok, bunda udah bahagia sama Allah
Ayah tenang aja, masih ada aisyah kok”
“Iya aisyah..”
“Ya Allah, jagalah bunda, jangan buat bunda sedih.. aisyah sayang bunda”

di uji kesabaran

Di sore itu aku sedang duduk termenung di ujung ruang kerjaku. Tak berapa lama ada seseorang duduk di sebelahku “kamu belum pulang, hari sudah mulai gelap lho” kata seseorang tadi. Aku hanya diam sama sekali tak menatap laki-laki itu. Keadaan sunyi kami terdiam sejenak tidak ada percakapan di antara kami. “Perkenalkan namaku Fadil, aku karyawan baru di kantor ini” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya memperkenalkan diri. Aku pun menoleh ke arahnya dan membalas sodoran tangannya, “perkenalkan juga namaku Aura” ucapku. “Kenapa kamu belum pulang, apa masih ada kerjaan yang belum selesai?” tanya laki-laki itu. “hmm tidak, aku hanya sedang ingin sendiri saja”. “lho kok bisa, memangnya kamu sedang ada masalah?” tanyanya. “aku baru saja putus dengan pasanganku, dia telah selingkuh di belakangku” jawabku yang tiba-tiba meneteskan air mata. Entah kenapa tiba-tiba aku curhat kepada orang yang baru saja kukenal. “buset dah neng cuman gara-gara cowok kaya gitu aja kamu sampe galau begini, kalo dilihat kamu ini cantik masih banyak pria di luar sana yang nunggu kamu” candanya. “daripada galau gini mendingan kita pergi ke cafe seberang kantor ya sekedar ngobrol-ngobrol aja daripada kamu galau itu juga kalau kamu mau, lagi juga mau ngapain kamu lama-lama disini, ntar ada yang nyolek lho” ucapnya iseng menakutiku. Aku hanya menganggukan kepala pertanda menerima ajakannya.
Di cafe itu kami bercerita soal kerjaan dan kehidupan kami masing-masing.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, sudah 3 jam kami di cafe ini dan memutuskan untuk pulang. Dia mengantarku pulang sampai depan gerbang rumahku.
Dan aku pun turun dari mobilnya, “thank you ya dil kamu udah ngilangin galau aku” ucapku seraya berterimakasih padanya. “yaelah gitu aja bilang terimakasih, aku gak mau aja lihat temanku galau gitu” jawab fadil. Aku pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarku yang sangat nyaman, kurebahkan diri di kasur spring bedku yang dibilang lumayan empuk lah.
Entah kenapa wajah Fadil dan senyumnya yang manis itu selalu terbayang bayang di setiap lamunanku. Sedikit demi sedikit sakit hati karena perselingkuhan mantan pacarku yang bernama Hendra itu hilang karena candaan Fadil saat di cafe tadi. Aku senyam senyum sendiri di kamar.
Aku berpikir sejenak. Ah masa iya aku jatuh cinta padanya, pria yang belum sehari aku kenal. Sudahlah lupakan saja.
Tak terasa sudah 3 bulan aku dekat dengan Fadil layaknya orang pacaran. “Woy kenapa kamu ra senyam senyum sendiri, lagi jatuh cinta ya” tiba-tiba Sherin rekan kerjaku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. “Apa sih rin jatuh cinta, udah kapok gue sama yang namanya percintaan” ucapku dengan nada ketus “Yaelah awas lho kemakan omongan sendiri, eh kamu dicariin Fadil tuh katanya sih mau ngajakin makan siang bareng sekalian ada yang ingin diomongin katanya”, “aku lagi males makan di luar rin, mau ngomong apa sih dia bilang aja ke dia ngomongnya nanti aja pas balik kantor” jawabku.
“ya aku mana tau dia mau ngomong apa, eh jangan-jangan dia mau nembak kamu kali tuh ra” ledeknya.
“Ih apa sih, gak mungkin dia tuh sering curhat sama aku kalo dia lagi suka cewek dan yang pastinya bukan aku” kataku. Sherin tidak menjawab lagi ucapanku dia malah narik tanganku ke luar ruang kerja.
“Eh ini aku mau dibawa kemana rin, jangan begini dong sakit tau tangan aku” teriakku berusaha melepaskan genggaman tangan Sherin. Sherin membawaku ke kantin kantor dan disitu terlihat Fadil menunggu dan tersenyum ke arahku. Aku pun duduk di hadapan Fadil. Tidak merasa bersalah Sherin langsung pergi begitu saja.
“Eh rin… Sherinnn.. kok malah pergi sih” teriaku memanggil Sherin.
“Udahlah biarkan Sherin pergi, mungkin dia lagi ada urusan dengan klien” kata Fadil.
“Oh iya ada apa kamu memanggilku” tanyaku heran.
“Hah, siapa yang manggil kamu Ge eR banget sih kamu ra” kata Fadil sambil tertawa.
“Oh ya sudah aku pergi dulu aku juga sedang ada urusan” kataku sambil bangkit dari tempat duduk.
“Eitss mau kemana sini dulu aku cuma bercanda ada yang ingin aku omongin ke kamu”.
Sepenting apa sih yang ingin Fadil omongin sampe nahan aku begitu, kataku dalam hati.
“Kamu mau ngomong apa sih dil?”
“Ra sudah 3 bulan aku kenal kamu dan selama tiga bulan kita dekat aku sangat terasa nyaman saat di samping kamu” ucap Fadil dengan wajah serius.
“Lalu?”
“Jujur aku sayang dan jatuh cinta sama kamu, maukah kamu jadi pacarku dan nerima cintaku?”. WHATTTSSS Fadil nembak aku, apakah ini mimpi? Ternyata dia juga perasaan yang sama denganku.
“Aku juga nyaman sekali saat di dekat kamu dil, tapi…” aku terdiam sejenak.
“Tapi apa ra? Gak papa kalo kamu gak membalas cinta dan sayangku, ya mungkin aku yang terlalu baper” kata Fadil sambil menunduk.
“Maaf dil..”
Fadil menatap mataku, terlihat kesan tatapan kecewa di wajahnya.
“A.. Akuu”
“Maaf dil aku juga cinta dan sayang sama kamu” jawabku sambil tersenyum, iya tersenyum bahagia.
“AURA KHANZAAA… Kamu bikin aku takut tau gak sih, aku takut kamu tolak cinta aku” ucap Fadil yang hampir meneteskan airmata karena takut malu kalo cintanya aku tolak.
12 Desember, ya itu tanggal jadian kami.
Tak terasa sudah hampir dua tahun aku menjalani hubungan. Makin hari aku makin sayang padanya sehingga aku tak mau kehilangan Fadil.
Waktu itu aku sedang pergi kencan makan malam dengannya -ya siapa lagi kalo bukan pacarku FADIL WIJAYA-. Ketika kami sedang asik makan tiba-tiba ponsel Fadil berbunyi tanda ada pesan di ponselnya, ia pun langsung mengecek ponselnya. Saat itu aku biasa saja, dan ketika aku sedang cerita tentang pekerjaanku, Fadil malah asikk sendiri memainkan ponselnya sambil tersenyum senyum. karena aku kesal aku rebut ponsel yang ada di tangannya itu, karena rasa penasaran aku pun kepoin pesan yang sedari tadi berbunyi di hapenya.
Dan takku sangka, dia smsan dengan wanita lain dengan saling memanggil sayang dan berjanji untuk ketemu esok sore. Aku yang melihat pesan itu langsung menaruh ponselnya di meja tempat kami makan dan aku langsung lari ke luar restoran itu dengan perasaan sakit, iya sakit sakit sekali. Pria yang selama ini aku percaya kesetiaannya ternyata berselingkuh di belakangku. Aku pun berlari lebih jauh dari restoran itu. Terdengar teriakkan Fadil yang terus mengejar dan memanggilku.
“Raa.. Auraaa ini semua tak seperti yang kamu lihat” teriaknya. Aku yang terus berlari tiba-tiba “BBRRRUUKK!!!” aku terjatuh di aspal. Fadil mencoba membantuku untuk bangun aku pun mengelak.
“Mau apalagi sih kamu dil, gak ada yang perlu kamu jelasin aku udah liat semuanya” kataku sambil tak kuasa menahan tangis.
“Ya ampun ra, dia itu cuman mantan aku. Dab besok aku akan bertemu dengannya hanya untuk sillaturahmi saja, aku cinta ra sama kamu jadi kamu gak usah berpikir kalo aku selingkuh sama kamu dan kalo aku ingin selingkuh dari awal aja aku udah permainkan cinta kamu” ucapnya.
“tapi aku gak suka dil kamu smsan sama mantan kamu segala pake panggil sayang-sayangan lah, aku cemburu dil kamu sama sekali kaga ngeharagain perasaan aku sebagai pacar kamu” kataku sambil terus menangis.
“kamu boleh ra cemburu tapi jangan terlalu berlebihan seperti ini, dan maaf aku udah bikin kamu cemburu” katanya sambil menggenggam kedua tanganku dan memelukku.
Entah kenapa tiba-tiba aku luluh mendengar ucapanya dan mempercayai bahwa dia dan mantan pacarnya hanya sekedar sillaturahmi saja.
Hari terus berlalu, aku sudah melupakan kejadian itu. Setelah aku lupa, terus menerus Fadil membuatku kecewa lagi karena dia berkenalan dengan seorang wanita di depan kantor lah, kencan dengan wanita lain lah. Saat itu aku hanya bisa bersabar.
FADIL WIJAYA, ya itu pacarku. Dia yang membuat aku bersabar sabar dan sabar oleh kelakuannya yang seringkali bikin aku kecewa. Tapi aku tetap selalu cinta dan sayang dengan kamu dil. Mungkin saar ini kesabaranku sedang diuji.
Dan
Terimakasih telah membuatku menjadi wanita yang SABAR

permen karet kematian

“Kematian adalah hal yang pasti. Mati merupakan pintu maka setiap orang yang ingin masuk kepada sebuah rumah harus melewatinya” kata seorang ustad dalam cermahnya. “namun cara untuk mati atau penyebab kematian itu bermacam-macam” melanjutkan perkataannya.
Ayah juga pernah bercerita tentang malaikat maut, malaikat yang mencabut nyawa setiap makhluk di dunia ini. Tugasnya hanya mencabut nyawa setiap makhluk, bahkan gugurnya sehelai daun adalah tanggung jawabnya.
“Berarti kalau digambarkan dalam bentuk wajah, malaikat maut itu lebih sangar dibanding hewan buas. Lebih sangar dibanding buaya. Karena buaya adalah hewan yang paling saya takuti, membayangkannya saja aku takut, apa lagi melihatnya” pikirku ketika ayah memberikan gambaran malaikat maut sambil memandangi balon lampu yang sebentar lagi mendekati ajalnya.
“Mungkin malaikat maut juga akan menjemputnya” Lanjut fikirku pada bola lampu.
“ayah, tapi kenapa kalau ada yang meninggal, Kita akan bilang, dia meninggal karena sakit. Kita tidak bilang karena malaikat maut?” Tanyaku pada ayah dengan mengerutkan kening di wajahku.
“suatu ketika, malaikat maut bertemu kepada tuhan, dia meminta satu permintaan agar nantinya memudahkan menjalankan tugasnya yang berat itu.”
“apa itu ayah??” tanggapku penasaran.
“malaikat maut ingin, agar mencabut nyawa dengan penyebab. Agar nantinya makhluk tidak mengutuk saya kalau ada keluarganya yang meninggal. Mungkin dalam Bahasa sederhana kita akan mengutukinya, malaikat maut sialan”
Fuada adalah wanita yang menjadi cinta pertamaku, lebih keren juga disebut dengan cinta monyet. Berawal waktu kami masih duduk di kelas 5 SD. Dia adalah anak kota yang pindah ke desaku. Dia meninggalkan kota ke desa karena tak ada lagi yang mengurus neneknya yang sementara sakit-sakitan di desa.
Namanya juga anak kota, kami menjadi penasaran dibuatnya. Setiap siswa yang berasal dari kota penampilannya lebih maju dibanding kami anak-anak kampung. Selain itu, sering juga mereka membawa hal-hal baru dan diperkenalkan kepada kami. Maklumlah, di desa itu tidak seperti di kota. Bahkan televisi, hanya ada tiga buah di kampung ini; milik pak desa, pak kepala sekolah dan pak madi juragan besar di kampung kami.
Ahmad juga seorang anak pindahan dari kota sejak kelas 3 SD. Dia memperkenalkan kami dengan permainan robot-robot; power rangers, batman, pokemon dan lain-lain. Dia juga sangat pintar dalam pelajaran, namanya juga anak kota dengan fasilitas yang lebih dibanding kami. Sementara kami anak desa, ketika lonceng sekolah berbunyi, Kami hanya bermain petak umpet, dende unyil, asing-asing. Permainan yang tidak membutuhkan biaya. Wajarlah untuk membeli seragam sekolah baru saja kami tak punya.
Demikian juga Fuada gadis kota yang memperkenalkanku dengan permen karet. Permen yang habis manis, sepah dibuang. Hal yang unik bagiku, permen yang hanya dikunyah sampai capek, sesekali membuatnya berbentuk ballon yang dikeluarkan dari mulut, atau membuat letusan-letusan yang menarik bagi anak seumuranku.
Biasanya, Fuada meminta kiriman permen karet dari orangtuanya di kota dan membagi-bagikan kepada kami. Pada akhirnya warung-warung di desa menjual permen karet karena peminatnya sangat banyak. Di semua kalangan bahkan nenek-nenek yang sudah tidak punya gigi yang kuat menggandrungi permen karet.
Permen karet menjadi penghubung cintaku dan Fuada. Namun, itu juga menjadi penyebab perpisahanku dengannya. Sayang, Fuada tidak berumur panjang. Seandainya saja malaikat maut tidak cepat menjemputnya, mungkin dia sudah menjadi istriku.
Ketika aku duduk di kelas 2 SMP, kuberanikan diriku mengungkapkan perasaanku padanya. Pikirku, dia juga mencintaiku tapi namanya juga remaja SMP, perasaan malu sangat tinggi, apalagi persoalan cinta, seperti kucing yang malu ditawari ikan tapi nalurinya sangat ingin melahap hingga ke tulang-tulangnya.
Kutulis surat-surat berisi perasaanku padanya. Tentang bagaimana peraaanku selama ini, yang berusaha aku tampung dalam hati. Tapi cinta ini semakin hari tumbuh membesar sehingga tak muat lagi ditampung oleh satu hati maka dibutuhkan hati yang lain untuk menyimpannya agar dia tetap hidup. Kini kutuangkan sedikit isi hatiku lewat pena dalam selembar surat. Berharap dia juga merasakan hal yang sama denganku.
Aku mengirim surat yang berada dalam amplop, direkatkan dengan permen karet. Kuletakkan pada laci meja Fuada. Agar ketika sampai di sekolah dia bisa membacanya. Harapku demikian.
Setelah menunggu dua hari, Fuada tidak membalas surat itu, dia langsung datang padaku pada waktu istirahat. Waktu itu aku duduk menyendiri di bawah pohon mangga. Pohon mangga ini adalah teman curhatku. Seolah-olah saya dan pohon mangga ini memiliki Bahasa baru yang hanya saya dan dia yang mengerti. Terkadang dia memberiku inspirasi dan jawaban lewat gesekan-gesekan dedaunan, sesekali dia memberiku kesegaran dengan teduhan seperti payung.
“Kau itu Pengecut!! Beraninya Hanya lewat surat. Kenapa baru sekarang, aku sudah lama menunggu ucapan itu” kata Fuada, membuka pembicaraan.
“Ma… maafkan Aku Fuada, aku tidak memiliki keberanian apapun” dengan terbata-bata kubalas tuturan Fuada.
Enam bulan berlalu, aku menjalani kehidupan cinta ini dengan penuh khidmat. Seperti Qais yang dibuat gila oleh Lailah dalam kisah popular Lailah majnun. Seolah dunia ini milik kami berdua yang lain hanya ngontrak. Hampir setiap waktu kuhabiskan bersama. Dalam setiap doa kusebut namanya.
Seperti takdir, cinta tak selurus yang diimpikan. Selalu saja ada jalan rusak yang harus kita lewati. Begitulah yang terjadi dalam kisah cintaku dengan Fuada yang berujung maut. Meskipun itu hanya hal sepele.
“Bagi dong permennya” pinta Fuada padaku
“ngak ah… kalau mau, beli sendiri dong!!” jawabku dalam keadaan bercanda.
Dengan sedikit baper, Fuada meninggalkanku di bawah pohon mangga dimana aku selalu menghilangkan penatku. Dia menuju ke warung untuk membeli permen karet. Tapi apa yang terjadi, Mobil truk, pengambil barang dagangan yang dikirim ke kota menggilas tubuh mungil Fuada, hingga rata dengan tanah.
Aku tak mau lagi mengingat hal itu. Aku merasa itu semua salahku. Seandainya saja tak kulakukan hal itu padanya, tidak akan terjadi apa-apa. Ini karena permen karet sialan itu. Sejak saat itu aku benci permen karet.

cinta kan tetap hidup meski jasad telah terkubur

Hari mulai gelap, saatnya untuk Adila tidur. Tapi, tiba tiba telepon bunyi. Nggak jadi tidur deh. Adila pun mengangkat teleponnya. Ternyata yang nelepon Fitri
“Dil, Doni kecelakan” kata Fitri dengan tergesa gesa.
“yang bener Fit? kamu jangan bercanda” ujar Adila tak percaya.
“udah deh pokoknya sekarang kamu ke rumah sakit di sini udah ada temen temen” ujar Fitri.
“ok aku ke sana sekarang”.
Adila pun menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana Adila langsung menuju ke kamar Doni. Dan Doni pun sudah siuman.
“gimana Don, kamu udah mendingan?” tanya Adila.
“Aku nggak apa apa kok sayangku Adila” ujar Doni.
“ih, udah sakit masih aja ngegombal, dasar aneh” balas Adila.
“pacar sendiri dibilang aneh”.
Hari demi hari berlalu dan Doni sudah sembuh. ketika sedang berjalan menuju kelas, tiba tiba Adila terjatuh dan pingsan ia pun langsung dibawa ke UKS. Mengetahui hal ini Doni langsung menemui kekasihnya itu di UKS.
“kamu kenapa Dil, kamu nggak apa apa kan?” tanya Doni dengan khawatir.
“nggak apa apa kok”.
Sebenarnya Adila mengidap kanker sudah lama, dan sudah diperkirakan usia Adila tinggal menghitung waktu. Rambutnya pun lama kelamaan habis. Tapi hal ini tidak diketahui oleh Doni, karena kepala Adila tertutup oleh jilbabnya yang indah. Tapi akhirnya hal ini diketahui oleh Doni, Doni pun merasa sedih mendengar kenyataan itu.
Suatu hari Adila menitipkan pesan untuk Doni melalui tulisannya sebelum ia pergi untuk selamanya
Don. kuharap kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Jangan lupakan aku dan jangan bersedih akan kepergianku, carilah kekasih untukmu yang kebih baik dariku. Cintaku akan tetap hidup meski jasadku telah terkubur. Selamat tinggal kekasihku…
Tepat pukul 00.00 tangal 10 november Adila menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit dan Doni hanya bisa berkata “i love u Adila”.

waktu yang sangat singkat

Aku kebingungan mencari tempat berteduh. Aku pun melepas jaketku dan kugunakan sebagai payung. Pandanganku terhenti pada halte bus disana. Aku pun lantas menghampirinya untuk sekedar beristirahat.
“Huh, kenapa harus hujan sih?” Gerutuku. Aku menoleh ke kanan. Lelaki yang sibuk dengan ponselnya.
“Mas, hati hati. Kalo hujan jangan mainin ponsel.” Tegurku. Lelaki itu kaget, menoleh, dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia berjalan mendekatiku.
“Hai, namamu siapa?” Tanyanya. Aku merasa gugup.
“Nazwa Lidya Salsabila. Panggil aja aku Nazwa.” Jawabku. Dia mengulurkan tangannya.
“Namaku Muhammad Zaki Al Malik. Panggil saja aku Zaki. Oh ya, kamu kedinginan?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk gemetar. Memang, aku habis kehujanan tadi. Tiba tiba, dia menaruh jaketnya kepundakku. Aku kaget.
“Kamu pakai dulu saja.” Ucapnya. Tak lama kemudian, bus datang. Ia pun segera menaikinya.
“Aku belum sempat minta nomor telponnya.” Gumamku.
Hujan agak mereda. Aku lantas pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Aku melambaikan tangan, taksi pun berhenti. Aku mengatakan tujuanku. Sopir pun mengantarku ke rumah.
Mama nampak khawatir melihatku begitu pucat dan menggigil kedinginan.
“Nazwa, kamu kok maksa pulang sih? Mama tadikan udah nawari kamu buat dianter pake mobil.” Tutur mama. Entah mengapa, tiba tiba semua berubah gelap.
Saat aku bangun, aku sudah berada di kamar dan hari sudah pagi. Lelaki kemarin nampak duduk di tepi ranjang.
“Lho? Kamu Zaki? Tau alamatku dari siapa?” Tanyaku. Zaki menoleh.
“Kamu menjatuhkan ini saat mau pulang. Aku ikuti alamatnya. Dan kebetulan, tidak jauh dari rumahku.” Jawab Zaki sambil menyodorkan kartu pelajarku.
“Ah, makasih, Zaki. Untung tidak hilang. Kamu sekolah dimana?” Tanyaku.
“Di SMA NUSANTARA. Kelas 11 IPA. Kamu?”
“Sama! Kita sekelas juga!” Seruku. Zaki tersenyum. Tiba tiba, aku menyadari, Zaki memakai seragam sekolah.
“Aku mandi dulu!” Aku melompat dari ranjang dan menyambar handuk yang ada di kursi.
“Tunggu di luar yah, Zaki.” Ucapku sambil mendorong Zaki ke luar dari kamarku.
Aku tergesa gesa menuruni tangga. Tiba tiba, BRUK! Aku jatuh terpeleset. Orang orang yang ada di dapur kaget, termasuk Zaki. Mereka menghampiriku.
“Nazwa! Nazwa, bangun!” Teriak Zaki. Aku tak mendengar apa apa. Semua begitu gelap. Yang kurasakan hanya badanku sangat sakit. Zaki lantas membawaku ke Rumah Sakit Diponegoro (RSD). Tak tahu berapa lama aku pingsan. Yang kuingat, hanya benturan keras itu. Saat aku bangun, Zaki nampak menungguiku.
“Za-ki?” Tanyaku dengan suara bergetar. Zaki mendongak dan langsung memelukku.
“Kukira, aku akan kehilangan kamu, Nazwa. Tolong jangan begini lagi. Aku takut kehilangan kamu.” Ucap Zaki. Aku tak mengerti semua ini.
“Memangnya, aku kenapa?” Tanyaku.
“Kamu seharian nggak sadar. Aku rela bolos sekolah karena takut kamu kenapa napa. Nazwa, kamu tadi membuatku benar benar panik.” Jelas Zaki. Aku mulai mengerti. Lelaki ini suka padaku. Toh, buktinya, dia mengkhawatirkanku.
“Aku baik baik saja, Zak. Buktinya, aku tak terluka.” Ujarku. Zaki mengerutkan keningnya.
“Tak terluka? Kamu saja pingsan tadi.” Sela Zaki. Aku terbahak mendengar ucapannya.
“Aku merasa sehat kok! Ayo pulang!” Ajakku sambil turun.
“Emangnya, dokter sudah mengizinkanmu?” Tanya Zaki dengan wajah datar. Alamak, juteknya nih anak.
“Alah, biarin. Aku mau pulang.” Paksaku sambil menarik tangan Zaki.
“Dia boleh pulang kok, Zaki.” Suara itu mengejutkanku. Jantungku hampir copot dibuatnya.
“Nah kan, apa kubilang?” Tanyaku seraya tersenyum mengejek. Zaki mendengus kesal sambil mengantarku pulang ke rumah.
Kulihat, mama dan papa nampak kaget melihatku. Tiba tiba, keduanya memelukku.
“Nazwa! Lain kali hati hati! Kamu membuat papa sama mama panik tau!” Tegur papa. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Nazwa baik baik aja kok, pa, ma. Zaki kan udah nyelamatin Nazwa.” Balasku.
“Oh ya, Zaki, kamu menginap disini saja ya? Sudah malam, nggak baik ke luar malam malam begini. Apalagi, kamu sendirian. Kamu bisa pakai kamar Kak Haris, kakaknya Nazwa yang kebetulan sekali hari ini ada kemah. Bagaimana?” Tawar papa. Zaki mengangguk pelan. Sekilas kulihat, wajah Zaki nampak sangat pucat. Aku ingin bertanya, tapi keduluan mama.
“Kamu sakit, Zaki? Kok pucat gitu?” Tanya mama. Zaki menggelengkan kepalanya.
“Nggak kok, te. Saya cuma kecapekan aja kok.” Jawab Zaki. Kukira, itu hanya kecapekan biasa. Aku pun mengantarkan Zaki ke kamar kak Haris.
“Kalo ada apa apa, kamu tinggal panggil aku.” Ujarku. Zaki tersenyum. Aku bisa merasakan, itu senyuman terakhir dari Zaki. Firasatku buruk.
Aku pun ikut tidur.
Esok paginya, aku bangun pukul 5 pagi. Segera saja kubangunkan Zaki.
“Zaki! Ayo bangun! Bangun! Dasar cowok!” Aku menarik selimutnya. Zaki tak merespon.
“Zak, kamu jangan bercanda, ini nggak lucu!” Tegurku. Badan Zaki sama sekali tak bergerak. Aku mulai panik. Segera saja kubawa Zaki ke RSD. Aku panik bercampur takut. Zaki dibawa ke UGD.
30 menit aku menunggu, dokter ke luar dengan wajah sedih.
“Maaf, Nazwa. Zaki punya penyakit Kanker darah. Saya tidak bisa menolongnya. Kanker itu telah menggerogoti otaknya.” Ucap dokter.
Aku kaget mendengarnya. Aku tak percaya jika Zaki akan meninggalkanku secepat ini. Padahal, kemarin kami masih bertemu. Aku masih merasakan pelukan hangatnya. Aku ingin melihatnya lagi. Ya Allah, tolong kembalikan waktuku bersama Zaki lagi. Kenapa Zaki tak pernah bercerita jika punya penyakit kanker darah?
Tak terasa, air mataku menggenang. Aku tak bisa lagi membendungnya. Pertama kali ini aku menangis histeris.
“Zaki, semoga kamu tenang disana.” Ucapku. Kak Haris menghampiriku. Memelukku dengan erat sambil mengelus rambutku.
“Kenapa Tuhan mengambil Zaki, kak?” Tanyaku.
“Nazwa, kita tak tahu kapan kita mati, kapan ajal menjemput. Bisa hari ini, besok, ataupun lusa. Perbanyaklah amal ibadah dan sedekah. Kelak kita meninggal dalam keadaan baik. Kakak tahu, kamu nggak bisa menerima ini semua. Tapi, ikhlaskanlah.” Tutur Kak Haris. Aku mengangguk gemetar dalam pelukannya.
Selamat tinggal, Zaki. Kebaikanmu terekam jelas oleh sel abu abuku. Semoga kamu tenang disana.
END

maafkan keegoisanku

Aku merasakan tubuhku tidak seimbang, pandanganku seakan mulai gelap, tubuhku limbung dan entahlah. Entah apa yang terjadi setelah itu.
Aku terbangun dari mimpiku entah apa yang terjadi aku juga tidak mengerti, kepalaku sangat sakit yang pasti kuingat. Aku ingat semuanya, tapi kali ini kepalaku lebih sakit sampai sampai aku mengerang tanpa aku sadari.
“nak, kamu sudah bangun?”
“arrg, dimana Raka bu?” tanyaku pada ibu. Ibu terdiam aku tau apa yang ia pikirkan jika ia jujur ia khawatir aku kesakitan tapi jika ia tidak jujur kebohongan besar ini akan berdampak sangat buruk pada diriku dikemudian hari.
“nak, kamu beristirahatlah ibu akan segera kembali.” kata ibu sambil bangkit dan hilang di balik pintu yang tertutup.
Aku sendiri di ruangan putih ini, aku terus berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku berada disini, dan lintasan kejadian seakan masuk melewati pikiranku walaupun itu sangat sakit yang aku rasakan.
Malam itu, aku membuat pesta anniversery hubunganku dengan Raka di sebuah cafe. Aku juga mengundang beberapa sahabatku dan Raka dan hal ini aku rahasiakan. Kami akan mengadakan makan makan dan karaoke di cafe itu. Setelah persiapan telah selesai dan teman teman juga banyak telah datang aku mencoba menghubungi Raka.
“Raka, kamu ke cafe biasa sekarang ya! Aku ada sesuatu untuk kamu!”
“harus sekarang ya? Aku lagi sibuk nih, apalagi bentar lagi ada pertemuan rapat. Apa gak bisa ditunda?”
“masa kamu lebih mentingin pekerjaan kamu daripada aku”
“bukannya gitu, tapi aku harus…”
Belum selesai raka menyelesaikan kalimatnya aku menutup telepon, hal ini biasa aku lakukan kalau raka terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Sudah 1 jam lebih aku menunggu raka tapi raka belum juga datang. Teman teman juga tampak gelisah kapan acara akan segera dimulai. Aku juga sibuk mengarahkan kebosanan teman teman untuk mengajak mereka karaoke bersama. Aku mulai gelisah aku mencoba menelepon raka tapi masih tidak ada jawaban. Kucoba dengan beberapa pesan singkat namun tetap tidak ada balasan. Sempat terlintas di pikiranku apakah raka marah padaku? Ya aku memang egois tapi bagaimana lagi yang kutau raka terbiasa akan hal itu.
Setelah beberapa lama aku mendapat kabar kalau raka kecelakaan saat perjalanan ke cafe dan nyawanya tidak dapat diselamatkan. Aku tidak tau harus apa yang dilakukan akulah yang memaksanya untuk menghadiri acara itu.
Aku terkejut ternyata kejadian malam itu terulang lagi dalam mimpiku. Napasku masih tidak teratur dan seorang dokter masuk ke ruangan memeriksa kondisiku. Dokter mengatakan aku bisa pulang hari ini juga. Ada rasa lega, ibu juga turut membantuku berjalan. Setelah beberapa langkah aku melewati pintu seseorang yang tak asing lagi wajahnya terbaring lemah. Para perawat dengan cepat mendorong memasuki ruangan. Kuarahkan pandanganku pada sisi atas pintu yang bertuliskan kamar jenazah. Ya Allah, ternyata dia benar benar telah meninggal. Jantungku seakan tak berdetak lagi dan aku terus mengutuk diriku.