“DASAR BODOH!!! LU KERJA PAKE OTAK GAK?!! itu berita yang turun minggu kemaren kenapa bisa sampe muncul lagi di edisi tadi pagi, hah?! Punya otak gak sih lo?! Apa perlu kerjaan lo gue kasih ke si Somad?! Bahkan gue rasa OB juga masih lebih baik kerjanya ketimbang lo!!!” Mas Remi menggebrak mejanya dengan sekuat tenaga. Beberapa aksesoris di mejanya ada yang berjatuhan ke lantai.
Fairana hanya menunduk. Dia tahu kesalahannya. Bukan kesalahan remeh. Ini benar-benar kesalahan fatal. Dia memasukkan berita yang minggu lalu sudah terbit. Bukan hanya satu kolom, tapi sampai 1 halaman!. Dia sekarang benar-benar merasa seperti editor idiot kawakan.
Mas Remi mengusap wajah lelahnya. Air mukanya kini melembut. “lo kenapa, fai?” Tanyanya. Fairana mendongak. Dia masih diam. Mas Remi menghela berat. “Kerja lo berantakan gini..” Mas Remi bangkit dan berjalan gontai menuju jendela. Dia mengeluarkan sebatang rok*k dan menyulutnya.” cewek lo nuntut kawin, hah?” Sindirnya.
Fairana menghela dan menutup matanya sekejap. “mas, boleh aku balik ke ruangan?” Tanyanya tiba-tiba. Mas Remi berbalik. Menatap Fai dengan seksama. Dia mengepulkan asapnya dan tertawa sinis. “Balik? Lo belom jawab pertanyaan gue..”
“waktu itu aku Cuma lagi gak enak badan, jadi gak bisa fokus. Aku salah ngasih label di folder. Folder yang harusnya dibackup malah dikasih label baru, jadi waktu editing aku malah ngedit yang berita lama.” Jawab Fai.
Mas Remi menghisap rok*knya lagi dan tersenyum. “nggak. Bukan itu alesannya..”
Hening. Fairana kembali membisu. Mas Remi menghampiri Fai dan menyodorkan kotak rok*k filter. “rok*k?” tawar Mas Remi. Fai menghela sejenak, kemudian meraih sebatang dan menyulutnya.
“gue tahu siapa lo semenjak lo masih SMA, Fai… masalah cewek, kakak tingkat lo yang rese, masalah pelajaran, bahkan hal yang bisa dibilang bukan kewenangan gue juga lo cerita, lo inget waktu lo semester akhir dan lo ngemis-ngemis buat diijinin tinggal bareng gue hanya lantaran bokap ama nyokap lo ribut lagi?”. pertanyaan retorika. Mas Remi menunggu reaksi Fai. Yang ditunggu hanya diam memejamkan mata sambil memainkan batang rok*k yang sudah hampir setengah habis di tangan kirinya.
“lo bermasalah. Saat ini. Hanya itu yang gue tahu sekarang. Dan gue harap lo bisa cerita sama gue..” kali ini Mas Remi memilih untuk duduk di meja. Tepat berhadapan dengan Fairana. Menuntut jawaban.
Untuk pertama kalinya Fai menunjukan ekspresi wajahnya. Begitu kelelahan dan penuh beban. Dia menyesap sekali rok*knya dan melemparnya ke asbak. Fai membenarkan letak duduknya dan menghela panjang.
“ya, aku memang bermasalah…”
Fairana hanya menunduk. Dia tahu kesalahannya. Bukan kesalahan remeh. Ini benar-benar kesalahan fatal. Dia memasukkan berita yang minggu lalu sudah terbit. Bukan hanya satu kolom, tapi sampai 1 halaman!. Dia sekarang benar-benar merasa seperti editor idiot kawakan.
Mas Remi mengusap wajah lelahnya. Air mukanya kini melembut. “lo kenapa, fai?” Tanyanya. Fairana mendongak. Dia masih diam. Mas Remi menghela berat. “Kerja lo berantakan gini..” Mas Remi bangkit dan berjalan gontai menuju jendela. Dia mengeluarkan sebatang rok*k dan menyulutnya.” cewek lo nuntut kawin, hah?” Sindirnya.
Fairana menghela dan menutup matanya sekejap. “mas, boleh aku balik ke ruangan?” Tanyanya tiba-tiba. Mas Remi berbalik. Menatap Fai dengan seksama. Dia mengepulkan asapnya dan tertawa sinis. “Balik? Lo belom jawab pertanyaan gue..”
“waktu itu aku Cuma lagi gak enak badan, jadi gak bisa fokus. Aku salah ngasih label di folder. Folder yang harusnya dibackup malah dikasih label baru, jadi waktu editing aku malah ngedit yang berita lama.” Jawab Fai.
Mas Remi menghisap rok*knya lagi dan tersenyum. “nggak. Bukan itu alesannya..”
Hening. Fairana kembali membisu. Mas Remi menghampiri Fai dan menyodorkan kotak rok*k filter. “rok*k?” tawar Mas Remi. Fai menghela sejenak, kemudian meraih sebatang dan menyulutnya.
“gue tahu siapa lo semenjak lo masih SMA, Fai… masalah cewek, kakak tingkat lo yang rese, masalah pelajaran, bahkan hal yang bisa dibilang bukan kewenangan gue juga lo cerita, lo inget waktu lo semester akhir dan lo ngemis-ngemis buat diijinin tinggal bareng gue hanya lantaran bokap ama nyokap lo ribut lagi?”. pertanyaan retorika. Mas Remi menunggu reaksi Fai. Yang ditunggu hanya diam memejamkan mata sambil memainkan batang rok*k yang sudah hampir setengah habis di tangan kirinya.
“lo bermasalah. Saat ini. Hanya itu yang gue tahu sekarang. Dan gue harap lo bisa cerita sama gue..” kali ini Mas Remi memilih untuk duduk di meja. Tepat berhadapan dengan Fairana. Menuntut jawaban.
Untuk pertama kalinya Fai menunjukan ekspresi wajahnya. Begitu kelelahan dan penuh beban. Dia menyesap sekali rok*knya dan melemparnya ke asbak. Fai membenarkan letak duduknya dan menghela panjang.
“ya, aku memang bermasalah…”
HARI ITU ATHENA MERASA CEMAS DAN KHAWATIR. Fai dipanggil Mas Remi, Pimpinan Redaksi di hariannya bekerja, yang mana, dipanggil pimred pada saat hari biasa adalah hal yang benar-benar buruk. Mas Remi terkenal di kalangan orang-orang Paper sebagai atasan yang patut dianugerahi piala FFI dalam nominasi pemeran antagonis pria terbaik. dalam berbagai hal, bahkan di luar pekerjaan, Mas Remi benar-benar memiliki perangai yang kurang baik. Sentimentil, keras, berlidah tajam, ahli debat, dan yang paling ditakuti oleh setiap orang yang mengenalnya adalah, kemampuannya menebak isi kepala orang secara presisi. Dia tahu jujur tidaknya seseorang berbicara hanya dengan sekilas melihat mata lawan bicaranya.
Oke, kembali pada masalah Fairana. Athena mafhum Mas Remi memanggil Fai sekarang, semuanya disebabkan oleh satu halaman harian yang berisi berita yang sudah diterbitkan pada minggu lalu. Bukan masalah kecil, melainkan masalah besar. Super besar!.Paris menarik kursinya mendekati Athena dan ikut menatap ruangan Mas Remi yang tertutup rapat.
Athena yang masih menatap nanar melihat ruangan Pemred-nya langsung mengalihkan tatapannya ke Paris Hilton KW 5 dengan kaki sumpit yang ada di sebelahnya itu.
“udah berapa jam Fai disekap Mas Remi?” tanya Paris.
Athena mengacungkan 3 jarinya dengan lesu.
“ya ampun, lama banget! kasian Fai… salah sendiri sih…”
Sebelum Paris mengoceh panjang lebar, Athena mengangkat satu jarinya untuk menyetop ocehan Paris. “Sssh..”
Paris yang sudah membuka mulutnya langsung refleks menutup mulutnya dengan perlahan. “ah, oke..”
“udah berapa jam Fai disekap Mas Remi?” tanya Paris.
Athena mengacungkan 3 jarinya dengan lesu.
“ya ampun, lama banget! kasian Fai… salah sendiri sih…”
Sebelum Paris mengoceh panjang lebar, Athena mengangkat satu jarinya untuk menyetop ocehan Paris. “Sssh..”
Paris yang sudah membuka mulutnya langsung refleks menutup mulutnya dengan perlahan. “ah, oke..”
Beberapa menit kemudian.
Pintu ruangan Mas Remi terbuka, semua orang yang sedang beraktifitas sontak menghentikan pekerjaannya dan segera berlomba untuk mengetahui rupa Fai selepas kena sidang Mas Remi. Tidak heran memang, Fai adalah satu-satunya karyawan Paper yang disidang Mas Remi terlama sepanjang sejarah kepemimpinan Mas Remi sebagai Pemimpin Redaksi Paper.
Athena yang paling pertama mendekati pintu. Fai keluar, wajahnya menampakan kebingungan ketika setiap orang di ruangan itu menatapnya dengan ekspresi seragam, penasaran.
Athena yang berniat menyelamatkan Fai dari pertanyaan-pertanyaan para pemburu gosip langsung menarik Fai dan menuntunnya ke kafetaria di lantai bawah.
Pintu ruangan Mas Remi terbuka, semua orang yang sedang beraktifitas sontak menghentikan pekerjaannya dan segera berlomba untuk mengetahui rupa Fai selepas kena sidang Mas Remi. Tidak heran memang, Fai adalah satu-satunya karyawan Paper yang disidang Mas Remi terlama sepanjang sejarah kepemimpinan Mas Remi sebagai Pemimpin Redaksi Paper.
Athena yang paling pertama mendekati pintu. Fai keluar, wajahnya menampakan kebingungan ketika setiap orang di ruangan itu menatapnya dengan ekspresi seragam, penasaran.
Athena yang berniat menyelamatkan Fai dari pertanyaan-pertanyaan para pemburu gosip langsung menarik Fai dan menuntunnya ke kafetaria di lantai bawah.
“OKE, SEKARANG JAWAB PERTANYAAN GUE. Mas Remi ngasih kebijakan apa sama lo?” tanya Athena tiba-tiba ketika mereka sampai di meja no. 8. Penjaga kafe menghampiri mereka berdua dan langsung memberikan pesanan kilat Athena, dua botol air mineral dingin dan American Choco Cake. Athena menyorongkan air mineral ke Fai dan langsung disambut oleh Fai.
“kebijakan apa?” tanya Fai bingung. Ia juga tampak kesusahan melepas sealer tutup botol.
“ish.. jangan pura-pura idiot deh.. lo kena skorsing atau apa gitu?” tanya Athena lagi. ia meraih botol mineral Fai dan membantu melepas sealer beserta tutup botolnya.
Fai mendengus. “jadi lo pengennya gue diskorsing gitu?”. ia menenggak setengah botol air mineral dan menyeka sedikit air yang mengalir di ujung bibirnya.
Athena yang melihat Fai menyeka bibirnya langsung menelan ludah. Seksinyaa!!! jerit Athena dalam hati. Oke. Sadar! Dia bahkan sahabat terburuk yang pernah lo punya! dan inget gimana pelupanya dia! Lo mau punya pacar pelupa, huh?!. Batin Athena kembali bergumul. Sudah 5 bulan belakangan ini, Athena selalu mengalami pergolakan batin jika menyangkut Fai. Bukannya dia menyukai Fai atau… ya! Dia memang menyukai Fai! dia sangat menyukai Fai! dia menyukai Fai semenjak… sahabatnya itu meninju pria brengsek yang bahkan hanya untuk menyebutnya sebagai mantan pacar saja Athena merasa jijik.
“hei…” Fai menjentikan jarinya tepat di depan mata Athena.
Athena mengerjap. “eh, mm.. ya?” tanyanya gelagapan.
Fai terkekeh. “kau terpukau dengan pesonaku, gadis muda?”
Athena mengernyitkan keningnya dengan tatapan mencela. “haah, oke, gue harap lo emang kena skorsing, Fai…!” umpatnya.
Fai tertawa. Kemudian terhenyak sesaat dan terlihat seperti kebingungan.
Athena kembali mengernyit. “Fai?”
“oh ya, Te.. mm…” Fai kembali mengernyit kebingungan.
“semuanya oke, fai?” tanya Athena. Ia khawatir Mas Remi memang menskorsing Fai, atau bahkan yang terburuk, merotasi Fai.
Fai beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi. Tapi ia kembali lagi dengan tatapan linglung.
“oh, mm.. gue ke ruang finishing duluan ya…” pamit Fai.
“mau ngapain ke ruang finishing?” tanya Athena penasaran.
Fai tampak bingung. “ruangan kita di finishing, kan?” pertanyaannya lebih kepada konfirmasi daripada pernyataan.
Athena semakin bingung. “Fai, gue dibagian berita dan lu Editor.. bukan di finishing…” terselip rasa khawatir di setiap kata-kata Athena. Fai akhir-akhir ini selalu tampak kebingungan dan linglung. Bahkan Mas Imran, rekan satu ruangan Fai pun selalu curhat pada Athena tentang perilaku Fai yang aneh, seperti selalu menabrak pintu kaca ruangan. Memang itu hal yang lucu jika hanya sekali, tapi Fai selalu melakukannya berulang. Kemudian Mas Imran juga selalu mengatakan jika Fai seperti mengalami disorientasi waktu dengan jarak satu hari. bahkan pernah Fai begitu panik dengan tugasnya dan menyangka deadlinenya adalah hari itu, padahal deadline yang sebenarnya adalah keesokan harinya.
Fai tampak terdiam sebentar, kemudian tersenyum. “oh, ya.. gue lupa…” wajahnya masih tetap menampakan kebingungan. Dia bergegas pergi meninggalkan Athena.
“kebijakan apa?” tanya Fai bingung. Ia juga tampak kesusahan melepas sealer tutup botol.
“ish.. jangan pura-pura idiot deh.. lo kena skorsing atau apa gitu?” tanya Athena lagi. ia meraih botol mineral Fai dan membantu melepas sealer beserta tutup botolnya.
Fai mendengus. “jadi lo pengennya gue diskorsing gitu?”. ia menenggak setengah botol air mineral dan menyeka sedikit air yang mengalir di ujung bibirnya.
Athena yang melihat Fai menyeka bibirnya langsung menelan ludah. Seksinyaa!!! jerit Athena dalam hati. Oke. Sadar! Dia bahkan sahabat terburuk yang pernah lo punya! dan inget gimana pelupanya dia! Lo mau punya pacar pelupa, huh?!. Batin Athena kembali bergumul. Sudah 5 bulan belakangan ini, Athena selalu mengalami pergolakan batin jika menyangkut Fai. Bukannya dia menyukai Fai atau… ya! Dia memang menyukai Fai! dia sangat menyukai Fai! dia menyukai Fai semenjak… sahabatnya itu meninju pria brengsek yang bahkan hanya untuk menyebutnya sebagai mantan pacar saja Athena merasa jijik.
“hei…” Fai menjentikan jarinya tepat di depan mata Athena.
Athena mengerjap. “eh, mm.. ya?” tanyanya gelagapan.
Fai terkekeh. “kau terpukau dengan pesonaku, gadis muda?”
Athena mengernyitkan keningnya dengan tatapan mencela. “haah, oke, gue harap lo emang kena skorsing, Fai…!” umpatnya.
Fai tertawa. Kemudian terhenyak sesaat dan terlihat seperti kebingungan.
Athena kembali mengernyit. “Fai?”
“oh ya, Te.. mm…” Fai kembali mengernyit kebingungan.
“semuanya oke, fai?” tanya Athena. Ia khawatir Mas Remi memang menskorsing Fai, atau bahkan yang terburuk, merotasi Fai.
Fai beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi. Tapi ia kembali lagi dengan tatapan linglung.
“oh, mm.. gue ke ruang finishing duluan ya…” pamit Fai.
“mau ngapain ke ruang finishing?” tanya Athena penasaran.
Fai tampak bingung. “ruangan kita di finishing, kan?” pertanyaannya lebih kepada konfirmasi daripada pernyataan.
Athena semakin bingung. “Fai, gue dibagian berita dan lu Editor.. bukan di finishing…” terselip rasa khawatir di setiap kata-kata Athena. Fai akhir-akhir ini selalu tampak kebingungan dan linglung. Bahkan Mas Imran, rekan satu ruangan Fai pun selalu curhat pada Athena tentang perilaku Fai yang aneh, seperti selalu menabrak pintu kaca ruangan. Memang itu hal yang lucu jika hanya sekali, tapi Fai selalu melakukannya berulang. Kemudian Mas Imran juga selalu mengatakan jika Fai seperti mengalami disorientasi waktu dengan jarak satu hari. bahkan pernah Fai begitu panik dengan tugasnya dan menyangka deadlinenya adalah hari itu, padahal deadline yang sebenarnya adalah keesokan harinya.
Fai tampak terdiam sebentar, kemudian tersenyum. “oh, ya.. gue lupa…” wajahnya masih tetap menampakan kebingungan. Dia bergegas pergi meninggalkan Athena.
FAI MERASA SEMUANYA SEMAKIN BERANTAKAN. Setidaknya, ia masih bisa mengingat beberapa perkataan dari orang terdekatnya, dan masih bisa membaca sekalipun setiap hurufnya terlihat menari. Tapi untuk urusan konsentrasi dan segala hal yang membutuhkan fokus, dia benar-benar sudah menyerah. Oh, dan jangan lupakan hal-hal remeh seperti berkendara dan memasak air dan juga dalam forum. Ah, sekarang dia benci suatu forum. Perbincangan, pengutaraan pendapat, gosip, informasi.
Dia memeluk dudukan kloset dan terus memuntahkan segala isi perutnya. Keringat dingin membanjiri telapak tangan dan kaki, punggung serta wajah dan lehernya. Efek dari obat-obatan yang beberapa bulan terakhir ia konsumsi untuk memperlambat efek dari penyakitnya itu.
mayat hidup, itu istilah yang dia temukan dari artikel di internet untuk menggambarkan kondisi para penderita penyakit ini.
Kepalanya masih berdenyut hebat. Sesekali ia masih memuntahkan beberapa material kosong.
Fairana memejamkan matanya. Mencoba berdamai dengan rasa sakit di kepalanya. Ia memeluk lututnya erat dan menangkupkan wajahnya. Tak lama kemudian terdengar sesenggukan lirih. Entahlah, Fai merasa ketakutan, kesedihan, kesakitan serta kemarahan bercampur dan membentuk menjadi satu kesatuan yang mewujud sebagai sebuah perasaan yang dahsyat dan tak terperi. Merasa terasing, tersisihkan, tak berguna, idiot, dan semua persamaan kata yang mengacu pada satu puncak, tak berdaya.
Suara-suara aneh di dalam kepalanya pun tiap minggu selalu bertambah nyaring dan semakin membuatnya frustasi. Semuanya meneriakkan hal yang sama, kematian.
mayat hidup, itu istilah yang dia temukan dari artikel di internet untuk menggambarkan kondisi para penderita penyakit ini.
Kepalanya masih berdenyut hebat. Sesekali ia masih memuntahkan beberapa material kosong.
Fairana memejamkan matanya. Mencoba berdamai dengan rasa sakit di kepalanya. Ia memeluk lututnya erat dan menangkupkan wajahnya. Tak lama kemudian terdengar sesenggukan lirih. Entahlah, Fai merasa ketakutan, kesedihan, kesakitan serta kemarahan bercampur dan membentuk menjadi satu kesatuan yang mewujud sebagai sebuah perasaan yang dahsyat dan tak terperi. Merasa terasing, tersisihkan, tak berguna, idiot, dan semua persamaan kata yang mengacu pada satu puncak, tak berdaya.
Suara-suara aneh di dalam kepalanya pun tiap minggu selalu bertambah nyaring dan semakin membuatnya frustasi. Semuanya meneriakkan hal yang sama, kematian.
Ia melirik jam tangannya, sia-sia. Ia bahkan tak mampu membaca tiap angka yang ditunjuk jarum pendek-panjang di jamnya.
Ia bangkit dan segera menyiram kloset. Dia sudah tidak peduli berapa lama tadi dia memeram diri di toilet. Satu jam? Dua jam? Ah, siapa yang peduli berapa lama dia mengurung diri.
Dia memercikan sedikit air ke mukanya dan menatap bayangan di cermin wastafel. Matanya tampak memerah, tapi selain itu, tampak normal. Ya, normal.. normal seperti manusia kebanyakan, batinnya.
ATHENA BERJALAN GONTAI MENUJU TOILET. Saat ini dia ngantuk berat. Sekaligus penasaran. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Fai.
Athena menggelengkan kepalanya cepat dan tanpa sadar menampar-nampar pipi dan matanya. “not your own business!!!” Rutuknya.
Tepat ketika ia akan berbelok masuk ke toilet perempuan, Fai ke luar dari toilet pria. Keadaannya berantakan. Kemejanya tampak kusut dan tertarik keluar dari celananya. Mata sembab dan merah serta jalan yang sedikit sempoyongan. Fai mabuk? Di kantor?. Batin Athena bertanya.
“Fai?” Tanya Athena memastikan.
Fairana mendongak. Menatap Athena dengan linglung. “Hmm?”
“Lo.. gak kenapa-napa?” Tanyanya lagi sambil sedikit mendekat. Mencoba mencium bau alkohol yang menguar. Tapi nihil. Fai sama sekali tidak minum.
Fai mengernyit. “Emangnya?”
Athena tersenyum dan menggeleng. “Gak.. cuman.. lo.. berantakan aja.. kayak yang udah ikut lomba marathon gituh..”
Fai terkekeh. “Gue sembelit. Depresi. Dan akhirnya ketiduran deh nunggu proses alami keluar.”
Athena mengernyit jijik. “Iih.. jorok…”
Fai kembali terkekeh.
“eh Mas Imran kemana? hari ini kok kayaknya aku gak liat dia seharian ya? Biasanya suka ada ke kubikel gue… nyomotin kue bulan gituh…” tanya Athena. Ia sedikit kehilangan juga dengan tidak berkeliarannya editor sableng macam Mas Imran di kantor.
Fai tampak kebingungan. “Mas Imran?”
Athena mengangguk.
Hening. Fai seperti berpikir keras.
“Mas Imran, siapa?” tanya Fai balik. Dia seperti tidak mengenal siapa yang sedang dibicarakan Athena.
Athena mengerjap. “Mas Imran Widi… Temen Editor lo…”
“Mas Imran Widi? Temen Editor gue? Emangnya ada yang namanya Imran?” tanyanya ragu.
Athena mengernyit. dia tidak tahu apakah Fai sedang mengerjainya atau emang benar-benar tidak tahu. Tapi dilihat dari ekspresinya, Fai seperti baru mendengar nama Imran Widi. Mustahil, Mas Imran kan temen deketnya Fai.. masa gak tahu sih?. Batin Athena bingung.
Hening. Fairana tampak seperti masih menunggu jawaban dari pertanyaannya barusan.
“mm.. Fai… gue ke toilet dulu ya?”
Fai mengerjap lugu dan mengangguk. “Oh.. euh.. heem..”
Athena masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Begitupun Fairana.
Ia bangkit dan segera menyiram kloset. Dia sudah tidak peduli berapa lama tadi dia memeram diri di toilet. Satu jam? Dua jam? Ah, siapa yang peduli berapa lama dia mengurung diri.
Dia memercikan sedikit air ke mukanya dan menatap bayangan di cermin wastafel. Matanya tampak memerah, tapi selain itu, tampak normal. Ya, normal.. normal seperti manusia kebanyakan, batinnya.
ATHENA BERJALAN GONTAI MENUJU TOILET. Saat ini dia ngantuk berat. Sekaligus penasaran. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Fai.
Athena menggelengkan kepalanya cepat dan tanpa sadar menampar-nampar pipi dan matanya. “not your own business!!!” Rutuknya.
Tepat ketika ia akan berbelok masuk ke toilet perempuan, Fai ke luar dari toilet pria. Keadaannya berantakan. Kemejanya tampak kusut dan tertarik keluar dari celananya. Mata sembab dan merah serta jalan yang sedikit sempoyongan. Fai mabuk? Di kantor?. Batin Athena bertanya.
“Fai?” Tanya Athena memastikan.
Fairana mendongak. Menatap Athena dengan linglung. “Hmm?”
“Lo.. gak kenapa-napa?” Tanyanya lagi sambil sedikit mendekat. Mencoba mencium bau alkohol yang menguar. Tapi nihil. Fai sama sekali tidak minum.
Fai mengernyit. “Emangnya?”
Athena tersenyum dan menggeleng. “Gak.. cuman.. lo.. berantakan aja.. kayak yang udah ikut lomba marathon gituh..”
Fai terkekeh. “Gue sembelit. Depresi. Dan akhirnya ketiduran deh nunggu proses alami keluar.”
Athena mengernyit jijik. “Iih.. jorok…”
Fai kembali terkekeh.
“eh Mas Imran kemana? hari ini kok kayaknya aku gak liat dia seharian ya? Biasanya suka ada ke kubikel gue… nyomotin kue bulan gituh…” tanya Athena. Ia sedikit kehilangan juga dengan tidak berkeliarannya editor sableng macam Mas Imran di kantor.
Fai tampak kebingungan. “Mas Imran?”
Athena mengangguk.
Hening. Fai seperti berpikir keras.
“Mas Imran, siapa?” tanya Fai balik. Dia seperti tidak mengenal siapa yang sedang dibicarakan Athena.
Athena mengerjap. “Mas Imran Widi… Temen Editor lo…”
“Mas Imran Widi? Temen Editor gue? Emangnya ada yang namanya Imran?” tanyanya ragu.
Athena mengernyit. dia tidak tahu apakah Fai sedang mengerjainya atau emang benar-benar tidak tahu. Tapi dilihat dari ekspresinya, Fai seperti baru mendengar nama Imran Widi. Mustahil, Mas Imran kan temen deketnya Fai.. masa gak tahu sih?. Batin Athena bingung.
Hening. Fairana tampak seperti masih menunggu jawaban dari pertanyaannya barusan.
“mm.. Fai… gue ke toilet dulu ya?”
Fai mengerjap lugu dan mengangguk. “Oh.. euh.. heem..”
Athena masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Begitupun Fairana.
Athena tahu seharusnya ia cepat pergi dari sana dan segera masuk toilet kemudian bertanya dalam hati tentang hal aneh ini SERTA merutuki diri karena dadanya terus berdebar. Itu skenarionya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Seluruh raganya seperti kompak mengkhianatinya. Ia masih terpaku disana, mematung. Menatap Fai yang juga entah kenapa masih tetap diam di tempat. Dengan keheningan tingkat tinggi dan hanya terdengar sesekali gema suara heels dari ujung koridor ruangan. Selebihnya, kegaduhan yang ada hanya bersumber dari ritme detak jantung yang terus meningkat secara intens dari masing-masing insan.
Tanpa alarm peringatan, Fai berjalan mendekatinya dan memerangkapnya dalam pelukan. Athena tampak terkejut dengan ketiba-tibaan Fai. Sampai akhirnya Athena diam dan membiarkan lelaki itu terus memeluknya. Gelenyar aneh terus berputar di dada dan perut Athena.
Deru nafas Fai memburu di telinga Athena. Terdengar kelelahan. Tubuhnya pun perlahan gemetaran dan cengkeraman di punggungnya semakin erat.
Kening Athena berkerut dalam. Dia bingung dengan reaksi Fai saat ini. “Fai?” Tanyanya khawatir.
“P..peluk gue… g..gue.. gue takut…” bisik Fai gemetar. Suaranya teredam di pundak Athena.
“takut?” Athena semakin bingung. Apa yang Fairana takutkan hingga membuatnya kalut seperti sekarang?
Fai mengangguk cepat. Tak lama kemudian bahunya tampak berguncang hebat. Fai menangis?! Batin Athena panik.
“F..Fai??! Ya ampun Fai.. lo kenapa??!” Tanya Athena semakin khawatir.
Fairana tetap sesenggukan di pundaknya. “G.. gue.. gue cuma takut” bisik Fairana lirih.
“Fai..” bisik Athena. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Athena akhirnya membalas pelukan Fai dengan perlahan. Sangat perlahan. Seolah Fai akan rapuh jika dia memeluknya terlalu kencang. Athena mengusap punggung Fai perlahan. Terasa tegang dan basah oleh keringat. Athena terus mengusap punggung Fai beberapa saat dan tetap membiarkan Fai menangis. Aneh memang, membiarkan seorang lelaki menangis di pundak wanita. Tapi Athena tidak peduli.
Perlahan ketegangan di punggung Fai terasa mengendur. Napasnya pun sudah tidak memburu seperti tadi.
“baju lo jadi kotor.. maaf.” Bisik Fai pelan. Athena tersenyum.
“semuanya jadi 100 ribu.. biaya pundak dan.. laundry baju..” godanya.
Fai samar tersenyum. “makasih.. dan, maaf.”
Athena mengernyit. “maaf?”
“maaf kalo selama ini gue selalu nyusahin lo… dan makasih, lo udah mau terus ada buat gue.”
“eh?!” Athena semakin mengerutkan dahinya.
Fai merangkulnya lagi sebentar dan kemudian tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
Deru nafas Fai memburu di telinga Athena. Terdengar kelelahan. Tubuhnya pun perlahan gemetaran dan cengkeraman di punggungnya semakin erat.
Kening Athena berkerut dalam. Dia bingung dengan reaksi Fai saat ini. “Fai?” Tanyanya khawatir.
“P..peluk gue… g..gue.. gue takut…” bisik Fai gemetar. Suaranya teredam di pundak Athena.
“takut?” Athena semakin bingung. Apa yang Fairana takutkan hingga membuatnya kalut seperti sekarang?
Fai mengangguk cepat. Tak lama kemudian bahunya tampak berguncang hebat. Fai menangis?! Batin Athena panik.
“F..Fai??! Ya ampun Fai.. lo kenapa??!” Tanya Athena semakin khawatir.
Fairana tetap sesenggukan di pundaknya. “G.. gue.. gue cuma takut” bisik Fairana lirih.
“Fai..” bisik Athena. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Athena akhirnya membalas pelukan Fai dengan perlahan. Sangat perlahan. Seolah Fai akan rapuh jika dia memeluknya terlalu kencang. Athena mengusap punggung Fai perlahan. Terasa tegang dan basah oleh keringat. Athena terus mengusap punggung Fai beberapa saat dan tetap membiarkan Fai menangis. Aneh memang, membiarkan seorang lelaki menangis di pundak wanita. Tapi Athena tidak peduli.
Perlahan ketegangan di punggung Fai terasa mengendur. Napasnya pun sudah tidak memburu seperti tadi.
“baju lo jadi kotor.. maaf.” Bisik Fai pelan. Athena tersenyum.
“semuanya jadi 100 ribu.. biaya pundak dan.. laundry baju..” godanya.
Fai samar tersenyum. “makasih.. dan, maaf.”
Athena mengernyit. “maaf?”
“maaf kalo selama ini gue selalu nyusahin lo… dan makasih, lo udah mau terus ada buat gue.”
“eh?!” Athena semakin mengerutkan dahinya.
Fai merangkulnya lagi sebentar dan kemudian tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
5 BULAN BERLALU DAN FAIRANA SEOLAH LENYAP DITELAN BUMI. Sejak peristiwa di depan toilet itu, Fai tampak seperti hilang dari lingkungannya. Tanpa kabar dan informasi mengenai dia. Teleponnya selalu berakhir pada kotak pesan, rumahnya kosong ketika Athena mencoba memeriksanya dan bahkan tetangganya pun tidak mengetahui dimana Fai berada.
Terkadang Athena seperti merasa peristiwa di toilet dulu adalah salam perpisahan baginya. Pelukan, dan kata terakhir. Apalagi yang kurang?. Pikirnya.
Terkadang Athena seperti merasa peristiwa di toilet dulu adalah salam perpisahan baginya. Pelukan, dan kata terakhir. Apalagi yang kurang?. Pikirnya.
Rumor yang beredar di lingkungan kantor adalah, Fai dipecat oleh Mas Remi. Ya, merepublish berita yang sudah basi, Athena sendiri juga mengakui itu merupakan kesalahan fatal. Tapi langsung dipecat? Ah, jika rumor itu benar berarti Mas Remi memang dewa tega. Sekilas Athena sendiri sempat berpikir, apakah takut yang dimaksud oleh Fai pada saat itu adalah –takut jika sampai dipecat?- atau –takut dengan Mas Remi?- atau takut dalam konteks apa?! Athena selalu mulai menerka-nerka jika pikiran itu muncul. Dia masih penasaran dengan takut yang dimaksud.
Athena berjalan dengan lesu menuju lift. Ia melirik jam loby. Masih jam setengah 9. Pantas masih sepi.. batinnya.
Tepat ketika ia akan menekan tombol lift, sebuah tangan menyetopnya dan ikut masuk ke lift yang kosong melompong itu.
Mas Remi! jerit Athena dalam hati.
Tepat ketika ia akan menekan tombol lift, sebuah tangan menyetopnya dan ikut masuk ke lift yang kosong melompong itu.
Mas Remi! jerit Athena dalam hati.
Mas Remi tampak melirik Athena dari ujung ke ujung. Athena hanya menatap lantai lift dengan hati yang dag dig dug ketakutan. Rumor tentang Mas Remi yang bisa baca pikiran itu, Gosip atau emang fakta, ya? Kalo beneran fakta, ya ampun! ngedenger gak ya Mas Remi sama yang gue debatin tadi?!! Aah! Bahaya!! Batin Athena terus bergumul dengan keberadaan Mas Remi di sampingnya. Di lain sisi, ia juga ingin mengetahui apakah Fai mengabari Pemred-nya itu atau tidak.
“mm.. pa..pagi mas..” Athena mencoba untuk membuka pembicaraan.
Mas Remi menatapnya sekilas dan mengangguk. “pagi.” Jawabnya singkat.
Athena mencoba mengatur napasnya setenang mungkin untuk meneruskan obrolannya itu.
“kamu.. Athena?” tanya Mas Remi tiba-tiba.
Athena menoleh dengan cepat. Terkejut karena Mas Remi mengenalinya. “eh? Mm.. iya, mas..”
Mas Remi terkekeh samar dan menggumam pelan. “Dasar bajingan, Fai memang pinter cari cewek.. pantes aja dia inget terus..”
Radar Athena bergerak-gerak dengan cepat ketika mendengar kata Fai terlontar dari mulut Mas Remi. “maaf?”
Mas Remi kembali terkekeh. “Fai Cuma ingin tahu kabar kamu…”
Mata Athena melebar. “Fai? Fairana?” tanyanya memastikan.
“dia harap kamu baik-baik aja…”
“dimana fai?” pertanyaan itu refleks meluncur dari mulut Athena.
Mas Remi tampak menimbang. Hening. “Jepang.” Jawabnya singkat.
“Jepang?!” Athena tampak terkejut mendengar jawaban Mas Remi.
“Dia lagi sakit. Disini dia gak ada yang ngerawat. Ibunya tinggal disana. Jepang juga bagus dalam penanganan Alzheimer.. jadi..” Mas Remi sengaja menggantung kalimatnya.
“Alzheimer?!” telinga gue bener-bener bermasalah… harusnya kemaren ikutin saran si Paris buat pergi ke dokter THT!. Batin Athena.
Mas Remi mengangguk. “Fairana kena Alzheimer setahun belakangan ini. Kamu inget kasus dimana Fai salah cetak berita? Saat itu dia udah bener-bener mengalami disorientasi. Mungkin saat Fai sama kamu, kamu pernah ngalamin keanehan dimana Fai kayak lupa ingatan sama beberapa hal yang udah jadi rutinitasnya sehari-hari.. atau, dia kayak..”
“linglung.. Fai selalu linglung beberapa bulan belakangan ini..” Athena mencoba mengingat beberapa hal aneh mengenai Fai akhir-akhir ini.
Beberapa kali dia tampak kesusahan dalam mengendarai mobilnya sampai akhirnya dia memakai jasa taksi belakangan ini, sempat juga dia mendengar curhatan Mas Imran mengenai kekesalannya terhadap Fai yang terus memarahinya karena menuduh Mas Imran menyembunyikan Ponselnya yang padahal dengan jelas Fai memang selalu menaruh ponselnya di laci meja paling atas. Dan beberapa curhatan Mas Imran yang lainnya mengenai tidak fokusnya Fai dalam bekerja, Fai yang selalu kesulitan dalam memperhitungkan pembayaran dalam bertransaksi di minimarket, menjadi sedikit kesulitan membaca dan berhitung, selalu menanyakan pertanyaan yang sama dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, dan… pelupa berat. Hal utama yang paling menonjol dalam diri Fai akhir-akhir ini dia menjadi seorang pelupa berat.
Athena menggapai perlahan pinggiran lift untuk menyeimbangkan badannya agar tidak merosot jatuh. Alzheimer? Fai sakit Alzheimer? Pertanyaan itu terus merepetisi dalam otaknya.
“ibunya selalu memberikan informasi mengenai perkembangannya saat ini, dan.. terus memburuk. Saat ini, ibunya selalu mengibaratkan Fai seperti orang tua berusia 90 tahun. Tidak bisa melakukan apa-apa dan sangat bergantung dengan orang-orang di sekelilingnya. Tapi kamu tahu apa yang istimewa darinya saat ini?” tanya Mas Remi.
“apa?” bisik Athena.
“dia.. selalu menanyakan kabar Athena. Suatu hal yang mengejutkan… dia bahkan mulai melupakan saya, yang bahkan sudah mengenalnya lebih dulu daripada kamu..” kata Mas Remi. Ia tersenyum. Athena terdiam.
Ting… pintu lift terbuka.
Mas Remi keluar terlebih dulu. Dia tersenyum.
“Fai.. Fairana.. dia mencintaimu..”
Pintu lift tertutup. Meninggalkan Athena yang masih terhenyak dihantam ribuan memori tentang Fai.
“mm.. pa..pagi mas..” Athena mencoba untuk membuka pembicaraan.
Mas Remi menatapnya sekilas dan mengangguk. “pagi.” Jawabnya singkat.
Athena mencoba mengatur napasnya setenang mungkin untuk meneruskan obrolannya itu.
“kamu.. Athena?” tanya Mas Remi tiba-tiba.
Athena menoleh dengan cepat. Terkejut karena Mas Remi mengenalinya. “eh? Mm.. iya, mas..”
Mas Remi terkekeh samar dan menggumam pelan. “Dasar bajingan, Fai memang pinter cari cewek.. pantes aja dia inget terus..”
Radar Athena bergerak-gerak dengan cepat ketika mendengar kata Fai terlontar dari mulut Mas Remi. “maaf?”
Mas Remi kembali terkekeh. “Fai Cuma ingin tahu kabar kamu…”
Mata Athena melebar. “Fai? Fairana?” tanyanya memastikan.
“dia harap kamu baik-baik aja…”
“dimana fai?” pertanyaan itu refleks meluncur dari mulut Athena.
Mas Remi tampak menimbang. Hening. “Jepang.” Jawabnya singkat.
“Jepang?!” Athena tampak terkejut mendengar jawaban Mas Remi.
“Dia lagi sakit. Disini dia gak ada yang ngerawat. Ibunya tinggal disana. Jepang juga bagus dalam penanganan Alzheimer.. jadi..” Mas Remi sengaja menggantung kalimatnya.
“Alzheimer?!” telinga gue bener-bener bermasalah… harusnya kemaren ikutin saran si Paris buat pergi ke dokter THT!. Batin Athena.
Mas Remi mengangguk. “Fairana kena Alzheimer setahun belakangan ini. Kamu inget kasus dimana Fai salah cetak berita? Saat itu dia udah bener-bener mengalami disorientasi. Mungkin saat Fai sama kamu, kamu pernah ngalamin keanehan dimana Fai kayak lupa ingatan sama beberapa hal yang udah jadi rutinitasnya sehari-hari.. atau, dia kayak..”
“linglung.. Fai selalu linglung beberapa bulan belakangan ini..” Athena mencoba mengingat beberapa hal aneh mengenai Fai akhir-akhir ini.
Beberapa kali dia tampak kesusahan dalam mengendarai mobilnya sampai akhirnya dia memakai jasa taksi belakangan ini, sempat juga dia mendengar curhatan Mas Imran mengenai kekesalannya terhadap Fai yang terus memarahinya karena menuduh Mas Imran menyembunyikan Ponselnya yang padahal dengan jelas Fai memang selalu menaruh ponselnya di laci meja paling atas. Dan beberapa curhatan Mas Imran yang lainnya mengenai tidak fokusnya Fai dalam bekerja, Fai yang selalu kesulitan dalam memperhitungkan pembayaran dalam bertransaksi di minimarket, menjadi sedikit kesulitan membaca dan berhitung, selalu menanyakan pertanyaan yang sama dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, dan… pelupa berat. Hal utama yang paling menonjol dalam diri Fai akhir-akhir ini dia menjadi seorang pelupa berat.
Athena menggapai perlahan pinggiran lift untuk menyeimbangkan badannya agar tidak merosot jatuh. Alzheimer? Fai sakit Alzheimer? Pertanyaan itu terus merepetisi dalam otaknya.
“ibunya selalu memberikan informasi mengenai perkembangannya saat ini, dan.. terus memburuk. Saat ini, ibunya selalu mengibaratkan Fai seperti orang tua berusia 90 tahun. Tidak bisa melakukan apa-apa dan sangat bergantung dengan orang-orang di sekelilingnya. Tapi kamu tahu apa yang istimewa darinya saat ini?” tanya Mas Remi.
“apa?” bisik Athena.
“dia.. selalu menanyakan kabar Athena. Suatu hal yang mengejutkan… dia bahkan mulai melupakan saya, yang bahkan sudah mengenalnya lebih dulu daripada kamu..” kata Mas Remi. Ia tersenyum. Athena terdiam.
Ting… pintu lift terbuka.
Mas Remi keluar terlebih dulu. Dia tersenyum.
“Fai.. Fairana.. dia mencintaimu..”
Pintu lift tertutup. Meninggalkan Athena yang masih terhenyak dihantam ribuan memori tentang Fai.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar