Kamis, 08 Desember 2016

bodohnya aku

Kehilangan adalah hal yang sangat menyakitkan bagiku. Aku benci bila harus memdengar kata “kanker”. Penyakit kanker itu telah merenggut nyawa tunanganku “Aditya Pratama”. Kanker paru-paru yang terus menggerogoti tubuhnya, sampai ia tak mampu bernafas lagi. Jantungku seperti remuk ketika mendengar bahwa tunanganku sudah tidak bernyawa lagi.
Aku baru mengetahui penyakitnya, saat kankernya sudah stadium 3. Aku tidak bisa menjaganya, ketika sakit pun dia selalu menjagaku. Tapi aku tidak pernah mengerti dirinya. Aku sering marah ketika saat satnight dia tidak bisa jalan denganku, aku sering berkata bahwa dia mungkin sudah punya cewek lain, tapi kenyataannya dia tidak bisa jalan karena tidak bisa menghirup udara malam yang dingin di luar sana.
Ketika aku berulangtahun, dia masih sempat memberikan kejutan kepadaku. Dia melamarku tepat pada tanggal 17 juli, hari kelahiranku. Setelah kami bertunangan resmi dengan melibatkan keluarga, selama 2 minggu setelah sebulan bertunangan dia sama sekali tidak mengabariku, aku pun berusaha mencarinya kemana-mana. Lalu, aku mendapat pesan dari no telephonenya bahwa dia akan melangsungkan pernikahan minggu depan. Aku tak henti-hentinya menangis saat itu. Aku berkata kepada keluargaku apa yang terjadi, tapi mereka tidak berkata apaun, mereka hanya memelukku dan menangis, apalagi ibuku dia terus menangis.Setelah dia mengirim pesan bahwa ia akan menikah. Aku langsung menelponnya.
“Iyaaa” ucapnya
“Kenapa kamu menyakitiku dit, kenapa kamu menjanjikan semuanya kepadaku lalu seenaknya kamu melanggar janji-janji itu. Dan pergi dengan perempuan lain. Aku sangat membencimu, sangat membencimu. Setidaknya hargai keluargaku, kau bisa datang ke rumahku untuk memberitahu kepada keluargaku. Tapi apa yang kau lakukan hah? Kau hanya memberitahuku lewat pesan singkat.”
“Maaf” ucapnya. Lalu telephone pun terputus.
Aku tau, aku tau semuanya. Aku mendengar percakapan antara ibu dan ayahku.
“Bagaimana cara menjelaskan kepadanya?” Ucap ibuku
“Kau pasti bisa, kalau dia mengetahui dari orang lain itu malah akan menyakitinya.” Ucap ayahku
“Oh kalau begitu aku akan memberitahu semuanya. Bahwa nak adit tidak akan menikah, justru sekarang dia sedang melakukan kemo terapi karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya.”
Aku segera menghampiri mereka
“Ibu, ayah” aku memeluk keduanya dan menangis.
Sungguh bodohnya aku, tidak bisa menjaga tunanganku sendiri. Tidak mengetahui kalau dia kesakitan, tidak mengerti penderitaannya. Aku sungguh egois hanya memikirkan diriku saja. Laki-laki kedua yang menyayangiku dengan tulus setelah ayahku.
Makam yang masih basah, tanah merah. Hamparan bunga yang begitu banyak, nisan yang masih bersih. Adit, sekarang dia hanya sebingkai foto di kamarku. Tapi tetap tersimpan di hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar