Dahulu kala di sebuah kampung ada seorang gadis yang sangat cantik dan baik, gadis tersebut bernama Laras, dia banyak diperebutkan oleh para pemuda saat itu. Tetapi Laras menolak semua pria yang ingin melamarnya entah apa alasannya. Kesehariannya Laras selalu menggembala kambing peninggalan kedua orangtuanya, dia hanya hidup berdua dengan adik laki-lakinya bernama Damar yang selalu menemaninya setiap hari sambil menggembala kambing bersama dan sesekali adik laki-lakinya itu berjualan sayur di pasar hasil kebunnya di ladang.
Setiap hari Laras selalu bersyukur walaupun hanya diberikan kenikmatan hidup yang tak sebanding dengan kebahagiaan yang dimliki oleh orang lain, tetapi dia sudah sangat bahagia bisa hidup tenang bersama Damar adiknya yang selalu menjaganya itu. Sebenarnya, banyak sekali lelaki tampan dan kaya raya yang ingin melamar Laras namun dia selalu menolak karena alasan yang tidak menentu. Seringkali Laras beralasan bahwa dia belum siap untuk menikah karena kasian kepada adiknya, dan kadang Laras juga takut kalau pasangannya nanti akan meninggalkannya. Sampai kini dia pun masih belum bisa membuka hatinya untuk pria-pria yang selalu ingin melamar dan bersedia uuntuk menikahinya. Laras masih ingin hidup bersama dengan adiknya sampai dia benar-benar berani untuk membuka hatinya kepada orang lain, dan dia juga ingin kembali menyekolahkan Damar adiknya itu sebelum menikah karena adiknya sudah tidak sekolah semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia.
Dengan semangat dan kegigihannya, gadis cantik itu mempunyai uang yang banyak untuk dapat menyekolahkan kembali adiknya. Mendengar kabar itu, adiknya pun sangat bahagia karena dia dapat kembali sekolah setelah lama tidak sekolah. Damar adalah anak yang sangat pintar dalam berbagai bidang pelajaran karena selama sekolah Damar selalu bersemangat belajar setiap harinya sambil membantu kakaknya bekerja dan menjual sayur ke pasar seperti biasanya.Sudah beberapa tahun adik sang gadis yang bernama Damar itu sekolah, sehingga Damar berhasil menamatkan sekolah SMAnya. Dan tanpa disangka-sangka, Damar mendapatkan beasiswa kuliah dari sekolahnya itu, rasa senang dan haru menyelimuti perasaan kakak beradik itu. Damar mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di kota, dan mau tidak mau Damar harus berpisah dengan kakaknya itu sementara karena harus hidup di kota, awalnya Damar tidak ingin mengambil beasiswanya karena tidak ingin meninggalkan kakak satu-satunya di kampung. Tetapi Laras mengatakan kepada Damar bahwa dia akan baik-baik saja di kampung, Laras memaksa Damar untuk menerima beasiswa itu karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya, dan Damar pun menuruti apa kata kakaknya itu.
Dengan berat hati, Damar pun harus meninggalkan kakaknya itu sendirian di kampung. Sebelum meninggalkan kakaknya, Damar berjanji jika sudah lulus kuliah dan sukses dia akan kembali pulang ke kampung untuk menemui Laras kakaknya itu dan akan mengganti semua apa yang telah diberikan kepadanya sehingga bisa bersekolah tinggi. Namun Laras tidak menginginkan itu semua, dia tulus membantu Damar untuk bersekolah dan tidak mengharapkan balas budi dari adik tercintanya itu, yang dia inginkan hanya Damar menjadi orang yang sukses dan menjadi kebanggan kedua orangtuanya serta dapat kembali pulang ke kampung dengan selamat. Damar pun ingin segera melihat kakaknya itu menikah, dan Laras pun mengiyakan permintaan Damar itu agar Damar dapat bersemangat berkuliah di kota.
Sebenarnya Laras sangatlah terpukul dengan kepergian Damar, karena Laras sangat mencintai Damar, tetapi Laras bukan mencintai Damar sebagai adiknya namun dia ingin Damar menjadi suaminya, inilah alasan mengapa saat itu Laras tidak bisa menerima lamaran pria-pria yang mencintainya karena hatinya hanyalah untuk Damar. Damar bukanlah adik kandung Laras, tetapi Damar adalah adik angkat Laras. Sejak dahulu kedua orangtua Laras menemukan bayi yang terapung di sungai kemudian langsung mengambilnya, dan orangtua Laras memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak dan anak itu diberi nama Damar. Meskipun Damar sudah menjadi adiknya sejak saat itu, tapi Laras menyukai Damar ketika Damar beranjak dewasa. Tetapi Laras tidak berani mengungkapkannya, karena dia takut Damar akan marah besar jika dia mengutarakan seluruh perasaannya kepada Damar, dan sampai saat ini Damar belum mengetahui bahwa ia hanyalah adik angkat Laras.
Selama di kota, Damar selalu memikirkan kakaknya Laras yang ada di kampung, Damar takut jika kakaknya itu sakit atau di ganggu oleh orang lain. Damar pun mencoba untuk menjenguk kakaknya di kampung, namun apa daya ia tidak bisa kembali ke kampung sebelum ia menyelesaikan semester pertamanya atau sampai lulus kuliah. Jika Damar kembali ke kampung pada saat semester pertamanya belum selesai, beasiswanya akan dicabut. Damar pun hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kakaknya itu dapat dilindungi dari mara bahaya. Prestasi Damar hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan semakin menurun tidak seperti saat dia sekolah di kampung, pihak yang memberinya beasiswa pun sempat meragukannya dan selalu menegur Damar. Jika selama tiga semester prestasinya tidak saja meningkat, maka pihak yang memberinya beasiswa akan mencabut hak Damar untuk berkuliah. Karena itu, Damar pun tidak dapat kembali ke kampung pada saat semester pertamanya selesai, saat liburan dia harus memperbaiki prestasinya dengan banyak belajar di tempat kosannya di kota, mau tidak mau Damar harus kembali ke kampung jika dia sudah lulus kuliah nanti.
Di kampung, Laras pun merasakan hal yang sama, dia sangat merindukan Damar dan ingin berjumpa dengan Damar. Laras sangat rindu dengan suara Damar, perhatian Damar terhadap dirinya dan juga teringat dengan wajah Damar yang sangat membuatnya cinta kepada Damar. Selama Damar berada di kota, Laras selalu murung di kamar dan terkadang dia tidak menggembala kambing dan menjual sayuran di pasar. Sehingga Laras tidak makan selama beberapa hari karena tidak mempunyai uang untuk makan. Laras hanya mengurung diri di kamar tanpa melakukan kegiatan apa pun, dia sering tidur sambil memegangi foto Damar yang tersimpan di lemari bajunya.
Karena Laras selalu mengurung diri di kamar dan tidak memperhatikan kesehatannya, tubuh Laras menjadi kurus dan kecil tidak seperti dahulu lagi saat Damar masih ada di rumahnya. Sadar akan tubuhnya yang semakin kurus, Laras pun kembali bekerja. Dia tidak ingin melihat tubuhnya kurus karena takut jika nanti Damar kembali ke kampung Damar tidak dapat mengenali dirinya lagi. Laras kembali bekerja dengan giat seperti saat dia bekerja dahulu untuk menyekolahkan Damar. Tubuh Laras pun berangsur-angsur sehat kembali dan cantik sehingga para pria di kampung semakin tertarik kepadanya, namun seperti biasa Laras tidak menghiraukannya karena hatinya hanyalah untuk Damar. Tetapi ketika Laras hendak pulang dari pasar, dia dicegat oleh sekumpulan preman. Preman-preman tersebut berbuat kasar kepada Laras dan ingin memperk*sanya, namun Laras tidak diam begitu saja, dia melawan walau dengan tangan kosong. Tidak terima dengan perlakuan Laras dan takut ada orang yang melihat perbuatan mereka, salah satu preman itu pun kesal dan tak sengaja membanjur muka Laras dengan air alkohol yang membuat muka Laras menjadi kesakitan dan tanpa basa-basi sekumpulan preman itu pun kabur. Sementara itu, Laras terus mengerang kesakitan namun tidak ada yang mau membantunya, sehingga dia berlari menuju ke rumahnya.
Saat tiba di rumahnya, Laras sangat terkejut ketika melihat mukanya di cermin. Muka Laras menjadi rusak karena banjuran air alkohol oleh preman yang bejad itu, dan Laras pun menangis sejadi-jadinya. Laras pun harus menerima cobaan dari Tuhan, dia harus dapat menerima muka barunya yang buruk rupa itu. Dia tidak bisa berobat ke rumah sakit karena tidak mempunyai uang untuk membayar perawatannya. Warga-warga yang sudah melihat wajah baru Laras menjadi ketakutan dan kini mereka menjauhi Laras tidak seperti sedia kala. Pria-pria yang tadinya mencintai Laras pun kini merasa jijik dan ketakutan ketika melihat wajah Laras yang sudah berubah drastis.
Laras sangat takut sekali jika nanti Damar pulang reaksinya akan sama seperti reaksi para tetangganya di kampung, dia pun bingung harus berbuat apa. Laras sangat frustrasi dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan wajahnya seperti semula yang cantik. Di tengah keputusasannya, Laras memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di gubuk tua itu. Ia tidak peduli dengan semua orang yang akan membencinya, namun dia sudah putus asa dan tidak bisa menjalani hidupnya lagi seperti dahulu kala. Laras terpaksa harus mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri, dia menggantung dirinya di atap gubuknya itu. Sangatlah tragis akhir hidup dari gadis cantik ini. Warga pun belum ada yang mengetahui tentang kematian Laras ini.
Tidak lama setelah Laras mengakhiri hidupnya, Damar pun dapat menyelesaikan pendidikannya di kota, dia menjadi mahasiswa dengan predikat nilai terbaik. Damar pun langsung mendapatkan pekerjaan di kota. Namun, sebelum akan masuk bekerja Damar memutuskan untuk kembali ke kampung untuk memberi kabar yang sangat bahagia ini kepada kakaknya Laras di kampung, dia ingin mengajak Laras untuk hidup bersamanya di kota dan meninggalkan kampung untuk membeli rumah baru di kota.
Ketika Damar sudah tiba di kampung, Damar langsung berlari bahagia menuju rumah gubuk tua peniggalan orangtuanya itu, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Laras karena sudah sangat lama tidak bertemu dengan kakak tercintanya itu. Namun saat membuka pintu rumahnya, kebahagiaan yang tadi dibawanya dari kota tiba-tiba sirna dengan pemandangan yang sangat tidak dia harapkan, Damar sangat terkejut melihat Laras yang sudah tidak bernyawa lagi dengan muka yang buruk rupa dan seakan-akan dia tidak percaya dengan kejadian ini, Damar berlinangan air mata meratapi wanita yang selama ini dia cintai dan sayangi. Damar mempunyai perasaan yang sama seperti Laras, dia sangat mencintai Laras seperti Laras mencintai Damar. Sudah sejak lama Damar mengetahui bahwa dirinya adalah adik angkat Laras, karena saat dahulu dia pernah mendengar perbincangan antara ayah dan ibunya ketika membicarakan tentang dirinya yang hanya anak angkat kedua orangtuanya itu walaupun begitu dia tidak mempedulikannya dan kini Damar tidak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada kakak angkatnya itu, walaupun dia sudah melihat wajah Laras yang buruk rupa itu tetapi Damar tetap mencintai Laras apa adanya. Tadinya Damar akan membelikan rumah kepada Laras di kota dan akan hidup bersama-sama di kota dengannya. Kini rencana itu menjadi hancur seketika, dia pun putus asa dengan cobaan ini. Damar tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena keberhasilan yang dia capai selama ini semata-mata hanyalah untuk Laras. Melihat Laras yang sangat mengenaskan tersebut, Damar pun ingin menyusul Laras. Damar ingin mengakhiri hidupnya agar dapat bertemu Laras kembali, sehingga Damar pun menggantung dirinya di sebelah jasad Laras sambil memeluk tubuhnya. Mereka pun mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama, dengan cara yang amat tragis.
Beberapa minggu kemudian, warga setempat mencium bau yang sangat tidak sedap di dalam gubuk tua yang menjadi tempat terakhir kedua kakak beradik itu. Dan warga pun terkejut ketika melihat kakak beradik itu gantung diri berdua sambil berpelukan. Melihat pemandangan yang sangat langka tersebut, semua warga menjadi sangat garang dan benci kepada mereka atas perbuatan yang sangat bertentangan dengan agama tersebut. Para warga yang jijik melihat perlakuan mereka, langsung memutuskan untuk membakar kedua jasad itu dengan gubuk-gubuknya. Sungguh sangat tragis.
Laras tidak mengetahui bahwa Damar mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya, dan Damar pun seperti itu pula tidak dapat mengetahui bahwa Laras sangat mencintai dirinya lebih dari apa pun. Semuanya telah terjadi dan tidak dapat diubah karena sudah menjadi ketetapan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dan kini kisah Laras dan Damar hanyalah tinggal sebuah kenangan kelam dan sangat tragis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar