Kamis, 08 Desember 2016

jeda dimalam pertama

Pagi yang singkat, bahkan terlalu singkat dari sebelumnya. Masih terngiang di telingaku tentang permintaan tia adiknya kak raka. Dia berusaha meyakinkanku. Dia akan membiayai hidup keluargaku, sekolah adik-adikku dan semua kebutuhan mereka. Tapi nyatanya apa? Setelah pernikahan ini aku semakin menderita. Perusahaan papanya mengalami kebangkrutan, dan raka tak juga kunjung sembuh. Raka mengalami kelumpuhan sehari sebelum pertunangannya dengan sita, dia kecelakaan mobil sepulang dari meeting di luar kota. Betapa hancurnya lagi ketika dia tau kalau aku yang menggantikan posisi sita, dia seakan jijik melihatku. Padahal aku juga cantik bahkan lebih cantik lagi dari pada sita, aku sosok yang bertanggungjawab dan manis. Aku tetap tersenyum walau pahit yang aku rasakan. Hanya saja sita juga dari kalangan atas seperti dia. Sedangkan aku koki di sebuah restoran.
Ketika malam itu, malam yang sangat mengerikan. Yang aku yakin tidak akan akan ada wanita sesial aku, malam itu adalah malam pertama kalinya aku menjadi seorang istri sah dari seorang lelaki yang sebenarnya telah lama aku kagumi secara diam. Dia sosok yang manis dan mudah senyum bahkan kepadaku juga. Tapi tidak malam itu, dia menghinaku, menyakiti persaanku, bahkan dia melemparkan jutaan uang kepadaku. Dia berfikir aku mengharapkan hartanya. Tidak!! Aku tidak serendah itu. Aku menerima untuk mau menikah dengannya bukan karena hartanya. Tapi karena aku mencintainya, meskipun dia telah lumpuh.
Sampai di suatu hari, hari dimana telah memuncaknya amarahku. Dia sampai mengeluarkan sumpah serapah untuk ibu. Wanita mulia yang sangat aku hormati, ibu sekaligus ayah bagiku karena ayahku empat tahun telah tiada. Dia membanting nasi yang susah payah aku dapatkan dari hasil kerjaku, nasi yang harusnya dia makan. “Kau fikir ini jerih payahmu? Kau fikir siapa kau? Orang kaya? Itu dulu, ketika papamu belum bangkrut. Sekarang kau tak punya apa-apa, bahkan papamu, mamamu dan adikmu menerima dengan senang hati hasil kerja kerasku karena mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Aku yang biayai mereka, sedangkan kau hanya enak-enakan duduk di kursi beroda ini”. Aku membanting kursi itu hingga patah dan tidak bisa digunakan lagi. Dia hanya tertegun, entah apa yang dia pikirkan. “kau tau bagaimana hati seorang perempuan yang dihina oleh suami yang tidak mencintainya? Andai saja dinding kamar ini bisa bicara, maka dia akan tau bagaimana sakitnya aku. Kau lihat, aku masih bertahan disini walau aku harus membiyai keluargamu, sementara nafkah darimu aku tidak pernah terima sedikitpun. Jangankan lahir… Batin pun tidak”. Dia mengangkat wajahnya dan memandangku. Aku tersentak, tersadar dengan apa yang telah aku ucapkan tadi. Aku segera mengemasi kursinya yang telah patah. Kemudian aku kembali dengan membawa segelas susu untuknya. Setelah itu aku mengambil posisi di tempat biasa aku tidur, ya di lantai yang beralaskan tikar dan satu bantal untuk pengganjal kepalaku agar membawaku ke dunia yang lebih indah.Di tengah malamnya aku terbangun, aku sedikit gelisah. Entah apa yang ada di fikiranku, seakan-akan menyuruhku untuk bersiap-siap. Tapi entah apa. Aku segera melakukan sholat tahajud, dan kemudian berdoa untuknya. Ya untuk dia, dia suami yang aku cintai, mimpiku dan harapanku. Meskipun aku tidak pernah disentuhnya. Setelah berdoa, dengan pelan aku berjalan ke arahnya. Aku memperhatikan wajahnya, dan diluar sadarku tangan ini mengarah kewajahnya. Matanya terbuka dan mengejutkanku, tangan yang hendak surut tiba-tiba ditariknya. Aku semakin terbuai oleh suasana ini. Dia pelan membuka mukena yang masih aku pakai, dia mengecup keningku dengan mesra. Ini, ini seakan-akan mimpiku yang menjadi nyata. Kami melakukannya malam itu.
Tapi anehnya, esoknya dari hari itu dia bersikap dingin kepadaku. Bahkan dia juga tidak marah-marah padaku. Aku sedikit canggung dengan suasana ini. Semenjak kursi rodanya aku patahkan dia sangat kesusahan.
Seminggu setelah malam itu, aku membelikannya tongkat untuk membantunya belajar jalan lagi. Tongkat itu aku beli setengah dari hasil gajiku. Dari situ kami semakin dekat, setiap selesai sholat subuh jamaah dengannya aku membawanya ke luar rumah dengan bantuan tongkat yang aku beli untuknya.
Sudah enam bulan dari itu, kandunganku pun sudah semakin besar. Dan kakinya pun sudah semakin kuat, meski dia masih menggunakan tongkatnya. Malam itu kami berkumpul di ruang keluarga, disitulah tia menjelaskan semua yang terjadi. Ternyata papa mertuaku tidaklah bangkrut, dia sengaja bekerja sama dengan tia dan juga mama mertuaku untuk menguji kesanggupanku dan juga kesetiaanku. Tia tau kalau aku sebelumnya memang suka pada kakaknya. Sedangkan sita hanyalah mencintai harta kakaknya saja. Tidak sampai disitu, dia juga ingin kakaknya mencintaiku pula.
Mama mertua mengajakku dan kak raka untuk pindah ke rumah mereka yang megah. Aku dan kak raka saling berpandangan, dia mengisyaratkan agar keputusan aku yang menentukan. Waktu itu aku belum ingin pindah, karena aku ingin anak pertamaku lahir di rumah yang membuat kak raka bisa mencintaiku, dan juga kak raka tidak berapa lama lagi akan bisa berjalan dengan sempurna. Aku ingin kak raka menginjak rumah megah itu tanpa tongkat. Mendengar keputusanku, papa, mama dan tia mengabulkannya walau terlihat agak berat hati. Kak raka tersenyum sembari mengecup keningku.
Sembilan bulan akhirnya, aku melahirkan bayi perempuan yang lucu dan cantik. Dan suamiku pun sudah semakin kuat. Tidak ada sebahagia ini. Suami yang mencintaiku dan bayi yang kami dambakan.
Seminggu setelah melahirkan, aku meminta izin kepada suamiku untuk mengabulkan permintaan bosku agar aku sudah mulai bekerja kembali. Bosku mengatakan kalau pelanggan sangat merindukan masakanku. Walau dengan berat hati, suamiku mengizinkan aku berangkat kerja. Ya karena dengan rayuanku juga. “Hanya kali ini dan untuk terakhir kalinya, please!!!” janjiku penuh harap.
Dan pagi ini, sambil merangkulku dan menggendongku berlari ke luar berusaha megelak dari kobaran api, suamiku terlihat panik dan menangis. Tapi aku tersenyum karena aku melihat pertama kalinya lagi suamiku bisa berjalan setelah kecelakaan itu terjadi. Aku meraih wajahnya dan mengusap air matanya. “Jangan tinggalkan aku dan anak kita sayang, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kamu pergi…” pintanya lirih. Orang-orang di sekitar melihat kami dengan air mata yang bercucuran. “Sayang… Kamu mengajarkan aku segalanya, arti cinta yang sesunggguhnya dan kamu juga memberikan aku seorang putri yang cantik sepertimu.. Dia butuh kamu sayang… Kami semua butuh kamu…”.
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Lemari besar dapur restoran itu menimpaku, dan asap kobaran api pun ikut membuatku semakin tidak bisa bertahan. “sayang aku titipkan buah hati kita, buah cinta kita usai tahajudku kepadamu… Beri namany A..lo..rA gha..niy..ah… Nama kita anisa love raka.. selamat tinggal sayang”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar