Kamis, 08 Desember 2016

yang ditunggu

“Aku mencintaimu, Val.”
Rival menatap Tasya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Pengakuan Tasya ini, membuat Rival tak bisa berkutik. Ingin ia menjawab pernyataan dari Tasya, tetapi lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Tasya menghela nafasnya pelan, tak kuat menahan air matanya ini.
“Sudahlah Val, tidak usah kau pikirkan. Aku hanya gadis bodoh yang tidak seharusnya mengharapkanmu.” Lanjut Tasya
Keheningan melanda mereka berdua. Hanya bunyi semilir angin yang menemani mereka berdua. Hingga dering handphone Rival yang memecahkan keheningan mereka.
Rival mengambil handphone dari saku kemejanya dan langsung melihat nama yang tertera di layarnya. Rival sedikit terkejut melihat nama yang meneleponnya. Dan Tasya tau itu, tapi ia tak peduli. ‘Itu pasti dari pacarnya, Nessa.’
“Aku permisi dulu mau angk—”
“Angkat telepon dari Nessa.”
Rival menggelengkan kepalanya, tetapi Tasya tak melihatnya.
Rival pergi menjauh dari Tasya untuk mengangkat telepon itu. Air mata Tasya langsung meluncur bebas. Dan kali ini Tasya tak menahannya. Biarkan air mata ini keluar sebebasnya agar hatinya tak terlalu merasa perih.
“Kau yang kutunggu, namun kau bukanlah untukku. Jadi percuma saja penantianku.”
Tasya sesegukan dengan erangan yang terdengar menyahat hati.
Kenapa cinta sesakit ini?“Tasya?”
Tasya langsung menghapus air matanya dengan cepat, lalu berusaha tersenyum semanis mungkin.
“K-kau tidak apa-apa?” Rival langsung duduk di sebelah Tasya. Raut wajahnya sangat tampak khawatir, dan ia tak menyembunyikannya seperti biasanya.
‘Kau hanya bisa membuatku kesulitan untuk melupakanmu, Val.’
“Hey, aku tidak apa-apa! Hanya kelilipan saja.”
Rival menatap Tasya sendu. Apa ia harus pergi meninggalkan Tasya sendiri?
“Ak-aku pergi dulu ya sya,” ucap Rival ragu
“Izin dariku tak penting Val. Kalau kamu mau pergi gak apa-apa kok.”
Rival langsung berdiri dari duduknya.
“Ya sudah aku pergi dulu.” “Jaga baik-baik dirimu, Tasya.” lanjut Rival
Rival meninggalkan Tasya lagi disini. Sendirian.
‘Bagaimana aku bisa baik-baik saja, disaat kau meninggalkanku sendirian?’
Tasya pulang kerumahnya dengan wajah yang memerah dan matanya yang sembab. Di kamarnya Tasya langsung menangis sejadi-jadinya. Tangisan Tasya sedikit mereda setelah ibundanya mengetuk pintunya dengan cepat.
“Tasya, keluar dulu nak, ibu mohon.”
Tasya diam tak menjawab permintaan ibunya.
“I-ini tentang Rival, sya,” ketokan ibu Tasya melemah setelah mengucapkan nama Rival. Tasya langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat.
“Rival kenapa bu?!”
‘Kau tau, aku dari dulu sudah mencintaimu Tasya. Bahkan sejak kita pertama bertemu disaat kamu jadi temen sebangku aku di sekolah. Dan aku sangat suka melihat senyuman kamu. Maka dari itu, sifat pendiamku berubah menjadi sifat yang humoris. Karena apa? Karena aku ingin membuatmu selalu tertawa untukku, hanya untukku. Dan itu karenaku.’
Tasya menutup buku harian berwarna biru dongker tesebut. Buku yang menjadi curahan hati Rival selama ini. Tasya mencium batu nisan yang bertuliskan nama Rival tersebut. Sudah setahun semenjak kematian Rival yang dikarenakan kecelakaan. Rival yang saat itu ingin menuju kerumahnya untuk memberi tahu isi hatinya. Tetapi malah maut yang menghentikannya.
“Apa kau tau? Aku disini masih tetap mencintaimu, Val. Mungkin ada benarnya jika cinta sejati tidak akan terpisahkan kecuali maut yang memisahkan mereka. Karena apapun yang terjadi, hati ini hanya untukmu. Dan entah sampai kapan habisnya cinta ini untukmu.”
Air mata tasya keluar dengan sendirinya. Erangan-erangan memilukan membuatnya semakin menyedihkan.
Kenapa cinta harus sesakit ini?
Kenapa?!
Apakah salah jika diriku mencintainya?
Apakah aku harus memendam rasa ini?
Sudahlah, ini semua sudah terlambat.
Karena yang ditunggu kini sudah pergi jauh dariku. Sangat jauh.
The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar