Hari memang cerah, tidak mendung seperti biasanya. Namun itu tidak membuatku ingin keluar, aku hanya ingin tetap di tempat tidurku. Mendengarkan musik, agar pikiranku tidak tertuju pada kenangan indah namun menyakitkan yang selalu menghampiriku. Musik terputar dengan acak, sehingga tidak perlu kupindahkan. Lagu yang berjudul “tinggal kenangan” berlagu di headset yang sedang kugunakan. Aku langsung mematikan Lagunya. Aku menangis, lagu itu seakan terus berputar di telingaku walaupun lagunya sudah kumatikan. Kenangan kelam yang telah setahun ini berusaha kulupakan, kembali berputar di otakku. Aku menangis, berteriak, aku seperti orang gila waktu itu.
Ibuku terlihat membuka pintu, lalu bergegas ke arahku.
“Apa yang terjadi adel sayang?” Ucapnya pelan
Aku menangis, berteriak, dengan memegang kedua telingaku.
“Tenanglah sayang, ibu disini, tidak ada apa-apa.” Ucapnya dengan lembut membelai rambutku.
Aku mulai merasa tenang sekarang, lagu itu seakan berhenti mengiang di telingaku.
Aku memeluk ibu, “apa yang terjadi adel?” Ucapnya pelan
“Ibu, aku tadi sedang mendengarkan musik lalu lagu itu berputar.”
“Lagu apa sayang?”
“Lagu kenanganku dengan Adit ibu, aku sudah matikan lagunya, namun lagu itu tetap terngiang di telingaku. Dan aku mengingat adit ibu, dan kecelakan itu ibu. Aku sulit mengendalikan diri bu, aku tidak bisa. Aku takut ibu..” aku menangis dengan tersedu-sedu.
“Tidak apa-apa sayang, lama-lama kau bisa mengendalikan dirimu.”
Aku mengangguk dan tersenyum menutupi kesedihanku.
Ibuku terlihat membuka pintu, lalu bergegas ke arahku.
“Apa yang terjadi adel sayang?” Ucapnya pelan
Aku menangis, berteriak, dengan memegang kedua telingaku.
“Tenanglah sayang, ibu disini, tidak ada apa-apa.” Ucapnya dengan lembut membelai rambutku.
Aku mulai merasa tenang sekarang, lagu itu seakan berhenti mengiang di telingaku.
Aku memeluk ibu, “apa yang terjadi adel?” Ucapnya pelan
“Ibu, aku tadi sedang mendengarkan musik lalu lagu itu berputar.”
“Lagu apa sayang?”
“Lagu kenanganku dengan Adit ibu, aku sudah matikan lagunya, namun lagu itu tetap terngiang di telingaku. Dan aku mengingat adit ibu, dan kecelakan itu ibu. Aku sulit mengendalikan diri bu, aku tidak bisa. Aku takut ibu..” aku menangis dengan tersedu-sedu.
“Tidak apa-apa sayang, lama-lama kau bisa mengendalikan dirimu.”
Aku mengangguk dan tersenyum menutupi kesedihanku.
Setiap melihat benda, foto, atau mendengar lagu kenanganku dengan adit, aku sulit mengendalikan diri. Aku sangat takut ketika mengingat kecelakaan itu, kecelakaan yang membuat kekasihku meninggal. Kami pulang dari lembang, namun dalam perjalan kami bertengkar. Adit tidak fokus, karena aku marah saat itu, dan dia mencoba menenangkanku. Tapi naas, mobil kami jatuh ke jurang. Itu membuatku tidak sadarkan diri selama 2 hari dan ketika aku sadar aku mengetahui aditku sudah tidak ada. Sejak saat itu aku selalu merasa bersalah dan takut ketika kenangan itu menghampiri otakku.
Aku sering datang ke psikiater untuk berkonsultasi tentang diriku. Itu cukup membantuku, aku sudah bisa mengendalikan diriku dengan cukup baik. Aku kembali kuliah, dan hidup seperti sebelum mimpi buruk itu terjadi.Aku berjalan menuju gerbang, karena supirku sudah menunggu di seberang jalan. Aku melihat seorang laki-laki yang mirip sekali dengan adit, aku sedang menyeberang saat itu, aku memperhatikan laki-laki itu, aku tidak menyadari kalau aku sedang menyebrangi jalan, brukkk aku tertabrak mobil.
Di Rumah sakit
Aku terbangun, terlihat ruangan yang serba putih. Ibuku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurku.
“Buuu” ujarku
“Ya tuhan nak, kau sudah sadar?” Menghampiriku. Aku hanya tersenyum
“Bu”
“Iya sayang”
“Adit tidak apa-apa?”
“Hah, sebentar” ibuku keluar dengan wajah yang bingung.
Aku terbangun, terlihat ruangan yang serba putih. Ibuku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurku.
“Buuu” ujarku
“Ya tuhan nak, kau sudah sadar?” Menghampiriku. Aku hanya tersenyum
“Bu”
“Iya sayang”
“Adit tidak apa-apa?”
“Hah, sebentar” ibuku keluar dengan wajah yang bingung.
Ibuku datang bersama laki-laki yang sepertinya dia adalah dokter.
“Adel Fitriarini” ujar dokter itu
“Iya”
“Apa yang terjadi sehingga kau di sini?”
“Sepertinya aku dan kekasihku adit mengalami kecelakaan. Apakah kekasihku itu baik-baik saja dok?”
Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku, melainkan ke luar bersama ibuku.
“Adel Fitriarini” ujar dokter itu
“Iya”
“Apa yang terjadi sehingga kau di sini?”
“Sepertinya aku dan kekasihku adit mengalami kecelakaan. Apakah kekasihku itu baik-baik saja dok?”
Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku, melainkan ke luar bersama ibuku.
Sepanjang hari aku merasa bete, karena ibuku tak kunjung datang, aku pun tidak mengetahui keadaan adit saat ini. Apa dia baik-baik saja, atau bagaimana.
Ibuku datang bersama adit, kekasihku itu.
“Adit, kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku baik-baik saja del”
“Syukurlah aku yang terluka, bagaimana kalau kau yang terluka. Sepertinya kau tidak terluka sedikitpun dit, aku senang melihatnya.”
Adit hanya tersenyum.
Ibuku datang bersama adit, kekasihku itu.
“Adit, kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku baik-baik saja del”
“Syukurlah aku yang terluka, bagaimana kalau kau yang terluka. Sepertinya kau tidak terluka sedikitpun dit, aku senang melihatnya.”
Adit hanya tersenyum.
Aku ke luar dari rumah sakit. Seminggu penuh aku menghabiskan hari-hariku dengan adit. Aku sungguh bahagia, karena aku dan adit selalu bersama. Wapaupun aku merasa adit sedikit berbeda, dari bahasa, gaya berpakaiannya, dan dia seperti canggung kepadaku. Suatu hari, kami sedang bermain di taman,
“Adit, aditku cantik banget.” ujarku Tersenyum manja
“Kamu del yang cantik.”
“Apa dit?”
“Iya, kamu yang cantik. Kalau aku ganteng.” Ujarnya tertawa
“Tidak kamu bukan aditt, kamu siapa hah? Kamu hanya mirip dengannya.”
“Aku adit lah, siapa lagi? Kau kenapa adel, aku adit kekasihmu.”
“Tidak tidak, aku mengenali kekasihku. Aditku selalu berkata aku ganteng, dan aku selalu berkata kalau dia cantik. Tapi kau berkata sebaliknya. Tidak-tidak Kau bukan adit..”
Aku berjalan mundur lalu berlari menuju rumah.
“Adit, aditku cantik banget.” ujarku Tersenyum manja
“Kamu del yang cantik.”
“Apa dit?”
“Iya, kamu yang cantik. Kalau aku ganteng.” Ujarnya tertawa
“Tidak kamu bukan aditt, kamu siapa hah? Kamu hanya mirip dengannya.”
“Aku adit lah, siapa lagi? Kau kenapa adel, aku adit kekasihmu.”
“Tidak tidak, aku mengenali kekasihku. Aditku selalu berkata aku ganteng, dan aku selalu berkata kalau dia cantik. Tapi kau berkata sebaliknya. Tidak-tidak Kau bukan adit..”
Aku berjalan mundur lalu berlari menuju rumah.
Orang itu mengejarku, dia menghentikanku.
“Cukup adel, aku akan menjelaskan. Apapun yang terjadi kamu harus tau”
Dia mengajaku duduk di pinggir jalan
“Apa? Apa yang terjadi?”
“Seperti ini, kamu dan adit mengalami kecelakaan lalu aditmu itu meninggal. Setelah satu tahu lebih, tepatnya 10 hari kebelakang kamu tertabrak oleh mobil ketika menyeberang karena memperhatikan diriku, karena aku mirip dengan aditmu itu. Kepalamu terbentur keras sehingga ingatanmu belakangan tidak bisa kau ingat, namun yang kau ingat adalah kecelakaan itu. Untuk tidak membahayakan nyawamu, aku ‘adam’ saudara kembarnya harus berpura-pura menjadi adit, kenapa? Karena untuk menyelamatkanmu, agar kau tidak gila. Kau pasti ingat kan apa yang terjadi, kau tidak amnesia kau hanya perlu diingatkan untuk ini, dan ini adalah waktu yang tepat.”
Aku hanya menangis, aku ingat, aku ingat semuanya.
“Terimakasih adam, maaf bila aku pernah menyakitimu.”
“Sama-sama del, maaf karena aku sudah berbohong kepadamu. Kau dan aku bisa berteman. kau bisa bercerita tentang apapun kepada diriku, setidanya ketika kau sedih atau merindukan adit kau bisa cerita kepada seseorang, yaitu aku”
“Terimakasih dam, terima kasih banyak. Bolehkah aku memelukmu, sekali saja. Setidaknya aku merasakan pelukan hangat dari sosok yang hampir sama dengan aditku.”
Dia menganguk dan tersenyum tipis.
“Cukup adel, aku akan menjelaskan. Apapun yang terjadi kamu harus tau”
Dia mengajaku duduk di pinggir jalan
“Apa? Apa yang terjadi?”
“Seperti ini, kamu dan adit mengalami kecelakaan lalu aditmu itu meninggal. Setelah satu tahu lebih, tepatnya 10 hari kebelakang kamu tertabrak oleh mobil ketika menyeberang karena memperhatikan diriku, karena aku mirip dengan aditmu itu. Kepalamu terbentur keras sehingga ingatanmu belakangan tidak bisa kau ingat, namun yang kau ingat adalah kecelakaan itu. Untuk tidak membahayakan nyawamu, aku ‘adam’ saudara kembarnya harus berpura-pura menjadi adit, kenapa? Karena untuk menyelamatkanmu, agar kau tidak gila. Kau pasti ingat kan apa yang terjadi, kau tidak amnesia kau hanya perlu diingatkan untuk ini, dan ini adalah waktu yang tepat.”
Aku hanya menangis, aku ingat, aku ingat semuanya.
“Terimakasih adam, maaf bila aku pernah menyakitimu.”
“Sama-sama del, maaf karena aku sudah berbohong kepadamu. Kau dan aku bisa berteman. kau bisa bercerita tentang apapun kepada diriku, setidanya ketika kau sedih atau merindukan adit kau bisa cerita kepada seseorang, yaitu aku”
“Terimakasih dam, terima kasih banyak. Bolehkah aku memelukmu, sekali saja. Setidaknya aku merasakan pelukan hangat dari sosok yang hampir sama dengan aditku.”
Dia menganguk dan tersenyum tipis.
Aku bahagia, cukup dengan memeluk adam. Tubuh yang seperti kekasihku adit, membuatku nyaman, walaupun rasanya berbeda. Kini, aku dan adit tinggal kenangan. Kenangan yang indah juga menyedihkan. Cinta kami yang terpisah karena takdir, yaitu maut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar