Kamis, 08 Desember 2016

detik terakhir

Kini aku duduk di bangku kelas XII IPA, kujalani hari di sekolah bersama dengan ketiga sahabatku fitri, nada dan yusuf, dan aku sendiri rey. kita berempat bersahabat sejak kita masih kecil. Di suatu ketika kami berempat menulis surat perjanjian persahabatan di sesobek kertas dan dimasukan ke dalam botol kemudian dikubur di bawah pohon beringin yang nantinya surat itu akan kami buka pada saat kami menerima hasil ujian kelulusan.
Hari yang kami nantikan akhirnya sampai juga, setelah kami menerima hasil uljian kali ini dan hasilnya kami berempat lulus kami pun langsung berlari ke bawah pohon beringin yang dulu pernah kami datangi, kami berempat membuka isi tulisan dari surat yang kami buat yang berisi, “kami berjanji akan selalu bersama untuk selama lamanya”
Keesokan harinya aku berniat untuk membuat recana merayakan kelulusan kami dan malamnya kami pun pergi bersama-sama ke suatu tempat, dan disitulah saat-saat yang tak bisa aku lupakan karena aku berencana buat nembak nada dan akhirnya kita berpacaran, dan yusuf pun juga berpacaran sama fitri, malam itu sungguh malam yang paling istimewa. Serasa dunia milik kami.Pada saat perjalanan pulang perasaan ku sungguh tidak enak, aku merasakan akan ada hal yang buruk menimpa kami. Aku disitu merasa bahwa malam itu mengatakan tentang takdir yang berkata lain, tapi aku tak mengerti maksud rembulan dan bintang-bintang yang menyampaikan itu. Dan dalam perjalanan aku terus digeluti perasaan yang tak jelas ini. hingga aku berani berkata pada sahabatku.
“guys, perasaanku kenapa gak enak banget ya. Dari tadi aku merasakan hal aneh?” ucapku khawatir
“udah lah rey, santai aja kok kita gak bakalan kenapa-napa” ucap yusuf dengan santai.
Akhirnya akibat keacuhan mereka aku jadi malas untuk memberitahukan tentang perasaanku. Akhirnya selama dalam mobil aku luapkan kejengkelanku dengan bercanda dan berbincang mesra dengan nada. Nada adalah wanita yang kucintai dan yang kusayangi. Walau aku baru malam ini bersatu aku sudah mengenalnya lebih lama karena sejak kecil aku memang menyukainya.
Di tengah perbincangan kami, hal yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Suasana gelap malam membuat penglihatan yusuf yang mengemudikan mobil tak melihat bahwa di depan ada sebuah jurang. Kelam malam pada saat itu memang benar-benar menghilangkan pandangan yang terlihat hanya segrombolan embun malam yang menghalang dan menipu. Dan maksud perasaaanku tadi itu adalah kode dari sang kuasa bahwa ada bahaya yang akan merenggut mereka. Dan akhirnya,
“yusuf awwasss…!!! di depan ada jurang!!!” teriakku.
“Aaaaaa…!!!”jeritan kami.
Dan dengan cepat “Brukkk”, suara mobil kami masuk jurang. Dan dengan cepat pula aku yang merasakannya melihat ke arah sahabat-sahabatku mereka semua ketakutkan menjerit memecah alam tapi disisi lain nada dengan tiba-tiba menggenggam tanganku dan dengan cepat mencium dan memelukku, disela pelukannya ia berkata
“maafkan aku, aku harus pergi. Jaga dirimu ya rey, carilah wanita yang lebih baik dariku. Aku menyayangimu” ujarnya. Seketika aku ingin membalas perkataan nada dengan tiba-tiba mobil kami di dasar jurang terhantam bebatun dan kami tidak sadarkan diri.
Entah apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri. Dan saat aku merasakan aku dapat sadar Perlahan-lahan kubuka mata sedikit demi sedikit aku melihat ibu berada di sampingku
“yusuf?, kamu sudah sadar nak?” tanya ibu cemas
“ibu, aku dimana? Nada, fitri dan yusuf di mana mereka bu?”
“Kamu di rumah sakit nak, kamu yang sabar ya nak nada, fitri dan yusuf tidak tertolong saat di lokasi kecelakaan” jawab ibu sambil menitihkan air mata
Aku hanya terdiam mendengar ucapan ibu, tiba-tiba air mataku menetes, tangisku tiada hentinya mendengar semua ucapan itu.
“nada, kenapa kamu tinggalin aku, padahal aku masih sayang banget sama kamu aku cinta sama kamu tapi apa? tapi kamu ninggalin aku begitu cepat, kalian semua pergi ninggalin aku, ya allah, kenapa engkau ambil mereka semua dari ku ya allah aku sungguh menyayangi mereka…” ucapku dalam hati
2 hari sudah berlalu, aku berkunjung ke makam mereka di situ aku berharap kami bisa seperti dulu dimana kita selalu bersama pahit manisnya persahabatan kita lalui bersama, aku berjanji akan selalu mengingat kalian di dalam hati ini.

patah

Malam itu Ibu menelepon dan memberitahu aku, tiga hari lagi mbak Fira kakakku yang paling tua mau pindah ke rumah barunya. Kebetulan aku memang lagi cuti kerja, Ibu memintaku pulang kampung ke Jogja.
“Hari minggu mbakyumu pindah rumah, pulang ya, Nak! Sekalian Ibu mau mengenalkan kamu sama anaknya pak Rudi.”
Sejenak aku terdiam mendengar ujung kalimat yang diucapkan Ibu. “Ibu pasti mau menjodohkan aku lagi,” pikirku.
“Widi ndak suka dijodoh-jodohkan kayak gitu, Bu,” aku berusaha menolak rencana Ibu, namun Ibu terus membujuk.
“Anaknya pak Rudi itu tampan loh, baik. Pokoknya serasi banget sama anak Ibu yang cantik ini.”
Setelah itu aku tidak tahu harus berkata apalagi memberi pengertian kepada Ibu. Aku tidak suka dengan rencana ibuku, tapi aku juga tidak ingin Ibuku kecewa. Belum sempat aku menjawab, Ibu kembali berkata. “Perjodohan kalau sama-sama cocok apa salahnya. Kalau tidak cocok, ya ndak usah diteruskan.” Begitu cara Ibu meyakinkan aku. Cukup lama aku terdiam dan berpikir, sebelum aku menyetujui permintaan Ibu.
Aku tidak habis pikir, kenapa Ibu begitu semangat memintaku untuk segera menikah? Padahal usiaku masih sangat muda. Baru seminggu yang lalu aku merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh satu. “Aah sudahlah, orangtua manapun pasti ingin melihat anaknya bahagia. Jika anaknya bahagia, sebagai orangtua ia juga pasti ikut bahagia,” pikirku.
Sabtu pagi selesai salat subuh, kubuka lagi koper kabin yang sudah kusiapkan dari tadi malam. Di dalamnya telah tersusun pakaian, charger handphone, serta benda lain yang sekiranya kubutuhkan selama berada di kampung halaman. Tidak lupa aku membawa print out tiket kereta Lodaya pagi yang akan mengantarkan aku dari Stasiun Hall Bandung menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah itu aku bergegas melangkah keluar dari kostan untuk berpamitan kepada Ibu kost, sekaligus menitipkan kunci kamarku.
Suasana di luar masih sangat sepi dan gelap, belum terlihat cahaya terang yang biasa memancar secara horizontal pada garis cakrawala. Usai berpamitan kepada Ibu kost, kuayunkan langkahku menuju pintu gerbang.Pukul setengah tujuh, aku tiba di Stasiun Hall, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum jadwal keberangkatan, aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Usai sarapan, aku bergegas menuju ruang tunggu stasiun. Tidak lama menunggu, kereta Lodaya pagi yang akan mengantarkan aku menuju Stasiun Tugu Yogyakarta tiba.
Jarak tempuh selama delapan jam, aku rintang dengan membaca buku yang sudah kusiapkan sebelum berangkat dari kostan. Pukul tiga sore aku sudah tiba di Stasiun Tugu. Di sana telah menunggu mbak Fira dan mas Agung, mereka memang sengaja menjemputku.
Dua puluh menit dari Stasiun Tugu, mobil yang dikendarai mas Agung berhenti dan parkir tepat di halaman rumahku. Alhamdulillah, aku tiba dengan selamat setelah menempuh perjalanan panjang nan melelahkan. Senang rasanya bisa bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang aku sayang. Rasa capek di perjalanan terbayar sudah, ketika aku melihat senyum bahagia mereka. Ibu, Bapak, mbak Fira, mas Agung, banyak waktu dan cerita bersama mereka yang terlewatkan, semenjak aku memutuskan merantau ke Tanah Pasundan.
Setelah merebahkan diri selama tiga puluh menit, aku melangkah ke dapur. Dari tadi aku mendengar Ibu dan mbak Fira tengah sibuk memasak. Tapi niatku untuk membantu mereka tidak kesampaian. Ketika aku tiba di dapur, mereka telah selesai memasak. Namun aku melihat ada yang aneh, Ibu dan mbak Fira membuat menu masakan cukup banyak. Penasaran, aku bertanya pada Ibu.
“Bu, masaknya kok banyak banget?”
“Ada tamu istimewa mau datang nanti malam.”
“Tamu istimewa … siapa, Bu?”
“Nanti malam keluarga pak Rudi mau ke sini.” Aku teringat percakapanku via telepon dengan Ibu tempo hari, sementara mbak Fira hanya senyum-senyum kecil di sebelahku.
Selesai salat Isya berjamaah, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah, banyak cerita penuh tawa dalam hangatnya kebersamaan malam itu. Tiba-tiba pesawat telepon di rumahku berdering, mas Agung langsung mengangkatnya. Hanya sebentar, mas Agung memberikan gagang telepon itu kepada Ibu. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Ibu dengan orang yang berada di ujung telepon. Setelah telepon ditutup, aku melihat raut sedih terlukis dari wajah Ibu.
“Ada apa Bu, kok Ibu kelihatan sedih?” Aku bertanya, tapi Ibu hanya diam. Tidak lama setelah itu Ibu memeluk aku.
“Tidak ada apa-apa, sayang,” jawab Ibu.
Tapi aku tidak percaya, “Ibu pasti lagi menyembunyikan sesuatu,” sambungku.
Sambil mengusap-usap bahuku, Ibu berkata. “Keluarga pak Rudi batal datang ke sini, karena bu Wanti istrinya mendadak enggak enak badan.”
Aku terdiam. Kalau hanya sekadar batal datang, ekspresi wajah Ibu tidak mungkin sesedih itu, pasti ada hal lain yang Ibu sembunyikan dari aku. Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur, banyak pertanyaan yang melingkar di pikiranku.
Minggu pagi, aku bersiap-siap untuk membantu mbak Fira berkemas, persiapan untuk pindah rumah pada sore harinya. Ketika aku datang, mas Agung dan mbak Fira lagi sibuk merapikan barang-barang yang akan dibawa. Mereka tidak menyadari kedatangan aku, dari situ aku mendengar pembicaraan mereka. Ternyata om Rudi dan keluarganya batal datang tadi malam bukan karena tante Wanti tidak enak badan, tapi karena anaknya kabur dari rumah dan menolak rencana perjodohan itu, pantas saja Ibuku terlihat sangat kecewa.
Dan hal yang paling mengiris hatiku, ketika para tetangga sekitar rumah mengetahui kabar itu, entah siapa yang menyebarkannya. Kejadian itu menjadi pukulan telak bagi keluarga besarku. Aku tidak peduli dengan anaknya om Rudi yang kabur, yang aku khawatirkan kesehatan Ibuku mulai menurun pasca kejadian malam itu.
Aku tidak lagi menikmati suasana liburan yang seharusnya menyenangkan saat berada di kampung halaman. Setelah aku melihat kondisi Ibu mulai membaik, aku memutuskan untuk kembali ke Bandung.
Rabu pagi, mas Agung yang mengantarkan aku ke Stasiun Tugu. Sore harinya aku telah tiba di Stasiun Hall Bandung.
Setelah turun dari kereta, di pintu keluar stasiun ada suara laki-laki yang memanggil namaku.
“Widi!” Aku menoleh ke sumber suara, ternyata mas Indra, teman kantorku yang juga berasal dari Jogja.
“Abis pulang kampung ya?” tanya mas Indra.
“Iya mas … nah, mas Indra ngapain di stasiun, mau alih profesi jadi Masinis?”
“Yang benar itu aku mau jadi keamanan stasiun,” jawab mas Indra sembari tawa.
“Aku serius, Mas.”
“Lagi jemput teman.”
Tidak lama berselang, datang seorang pria berkulit putih menghampiri kami. Pria tersebut menyalami mas Indra, lalu mas Indra memperkenalkannya kepada aku.
“Widi, kenalin ini teman aku, Joe. Ia juga baru datang dari Jogja. Sepertinya kalian satu kereta deh.”
Sejurus kemudian pria itu mengulurkan tangannya kepadaku sambil menyebutkan namanya dan kami pun berkenalan. Dari perkenalan singkat itu, aku tahu Joe datang ke Bandung untuk liburan.
Semenjak perkenalan di stasiun kala itu, aku mulai dekat dengan Joe, ia sering menghubungi aku. Joe orangnya asyik, humoris, perhatian, dan aku merasa sangat nyaman saat berada bersamanya.
Hari-hari di sisa cuti kerja, kulalui dengan menemani Joe mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada di sekitar Bandung. Tangkuban Perahu, tempat wisata terakhir yang kami kunjungi. Tidak terasa, kami sudah begitu sangat dekat. Aku mulai merasa ada yang kurang, ketika Joe lupa mengingatkan aku untuk sekadar makan dan salat. Sepertinya aku dan Joe memiliki feeling yang sama, semoga itu bukan perasaanku saja.
Pertemuanku dengan Joe, perlahan membuatku melupakan kejadian pahit beberapa hari sebelumnya, ketika berada di kampung halaman. Kejadian yang membuat Ibuku jatuh sakit, karena sikap anaknya om Rudi.
Malam itu Joe datang menjemputku, ia memintaku untuk menemaninya menikmati suasana malam di Kota Bandung. Di tengah perjalanan, Joe memberitahu aku, besok sore dia mau pulang ke Jogja. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk pindah kerja ke Bandung.
Aku kaget. “Buat apa pindah kerja? Bukannya enak kerja di Jogja, bisa lebih dekat dengan keluarga?”
“Aku mulai enggak betah kerja di Jogja. Di rumah juga banyak masalah dan itu membuatku semakin enggak betah. Aku ingin kerja di sini, agar aku bisa terus dekat sama kamu.”
Ujung kalimat yang diucapkan Joe membentangkan banyak tanya di kepalaku.
“Sepenting itukah diriku?”
Joe kemudian menatapku. “Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidup aku. Aku sayang kamu Widi,” ucap Joe.
Aku tersenyum gugup.
“Kenapa hanya senyum? Aku serius! Aku ingin menikah dengan kamu. Aku ingin kamu yang menjadi Ibu untuk anak-anakku kelak. Widi, kamu mau kan menjadi bagian dari hidup aku?”
Pertanyaan Joe membuat aku semakin gugup. Cukup lama aku diam, sementara Joe terus mendesakku.
Aku tidak bisa berbohong atas rasa yang belakangan ini mulai tumbuh di hatiku. Rasa yang benar-benar sudah tidak dapat lagi aku sembunyikan.
“Ya, aku juga sayang kamu, Joe,” ucapku pelan.
“Maaf, aku tidak dapat mendengar dengan jelas, bisa diulang lagi?”
Joe seperti sengaja memancing aku yang terlihat gugup.
“Aku juga sayang kamu!” jawabku dengan tekanan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Kemudian Joe menggenggam tanganku dan berbisik.
“Terima kasih, sayang.”
Sambil terus melangkah, sesekali kami saling bertatapan, dengan senyum bahagia yang terus mengambang.
Setelah itu kami mampir di restoran seafood untuk makan malam. Selesai makan, aku kembali membuka pembicaraan yang sempat tertunda sebelumnya.
“Tadi kamu bilang ada masalah keluarga. Maaf, jika aku lancang bertanya, tidak bisakah masalah internal itu diselesaikan dengan baik-baik, tanpa harus menghindar darinya? Sekali lagi, maaf jika aku lancang.”
Joe kembali diam, tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Ia menatapku dengan sorot mata yang seolah hendak melukiskan kegaduhan batinnya. Cukup lama ia diam, sebelum kembali berkata.
“Aku kesulitan memberi pengertian kepada Mama dan Papa. Mereka hendak menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya Papa, tapi aku menolak itu. Bagaimana mungkin aku menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak aku kenal. Dan aku menganggap rencana Mama dan Papaku itu aneh, sebab sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi.” Sejenak Joe terdiam, sambil memejamkan mata dan menghela napas panjang. “Tujuanku datang ke Bandung bukan hanya sekadar liburan, tapi ini adalah caraku untuk menghindar dari rencana perjodohan tersebut,” tutup Joe.
Mendengar cerita Joe, membuat aku teringat kejadian pahit yang aku alami ketika berada di kampung halaman.
“Jangan-jangan Joe ini anaknya om Rudi dan tante Wanti,” pikirku. Tapi aku berusaha menepis pikiran itu, mungkin saja yang dialami Joe kebetulan sama dengan kisahku. Aku mencoba memberi masukan kepada Joe. Aku teringat kata-kata Ibuku. “Perjodohan kalau sama-sama cocok apa salahnya? Kalau tidak cocok, ya ndak usah diteruskan,” ucapku.
“Pikiranku belum sampai ke sana, yang ada di pikiranku saat ini adalah pulang ke Jogja untuk meminta maaf kepada Mama dan Papa, karena aku belum bisa membahagiakan dan memenuhi keinginan mereka. Setelah itu aku akan memperkenalkan kamu kepada Mama dan Papaku.”
Aku terdiam, dengan rasa penasaran yang masih menyeruap mengitari pikiranku.
Setelah itu kucoba memancing Joe. “Kisah kamu mirip dengan kisah anak om Rudi dan tante Wanti, teman Bapakku.”
Joe terkesiap. “Kamu kenal sama Mama dan Papa aku?”
Ternyata dugaanku benar, Joe anaknya om Rudi dan tante Wanti.
Setelah itu aku merasa rohku melayang entah ke mana arah yang hendak ia tuju. Aku benar-benar tidak menyangka, lelaki yang berada di hadapanku, lelaki yang namanya belakangan ini menghiasi relung kalbuku, merupakan orang yang telah menorehkan luka di hatiku, juga keluargaku. Masih terbayang jelas di ingatanku raut sedih wajah Ibu, hingga ia jatuh sakit. Air mataku seketika tumpah, napasku terasa berat, di batinku berkecamuk amarah dan kebencian yang seolah ingin meledak seperti bom waktu. Rasanya aku ingin menjerit sekuat tenaga, agar dapat menumpahkan semua beban batin yang tak kuasa lagi aku tahan.
“Kamu telah melukai aku, Ibuku dan keluarga besarku. Kenapa harus kamu, Joe? Saat ini perempuan yang kamu tolak itu berada di hadapanmu, semoga kamu puas telah mempermalukan aku beserta keluarga besarku, hingga membuat Ibuku jatuh sakit.”
Setelah itu Joe berusaha menenangkan aku, berkali-kali aku mendengar permintaan maaf terucap dari bibirnya, tapi aku tidak bersuara sepatah kata pun. Sampai akhirnya ia mengantarkan aku pulang ke kosan. Di tengah perjalanan, aku masih tetap diam, walau Joe berusaha mengajakku berbicara, aku tidak peduli, aku hanya diam.
Pukul setengah empat sore, ada pesan singkat masuk ke handphone-ku, kubuka ternyata dari Joe.
“Widi, aku berangkat pukul empat, sekarang aku sudah di terminal, Indra yang mengantarkan aku. Aku ke Jogja menggunakan bus. Aku harap kamu sudah memaafkan aku, sebelum aku kembali lagi ke Bandung.”
Begitu pesan dari Joe, tapi aku tidak membalasnya. Aku merasa sangat jahat memperlakukan Joe seperti itu, namun rindu dan rasa sayang yang tertanam di dasar hatiku masih membeku bersama ego yang belum bisa aku lumpuhkan.
Malam selepas Isya, handphoneku berdering, kuangkat ternyata mas Indra.
“Assalamualaikum, Widi!”
“Waalaikumsalam. Ada apa mas Indra?”
Aku mendengar suara mas Indra tersengap, seperti menahan tangis.
“Joe!”
“Ada apa dengan Joe, mas Indra?”
“Bus yang ditumpangi Joe mengalami kecelakaan. Joe sempat dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.”
Seluruh badanku terasa beku mendengar kalimat terakhir yang diucapkan mas Indra. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, hingga akhirnya handphone yang berada di genggamanku jatuh terhempas ke lantai.
“Joe, jangan tinggalkan aku!”
Bibirku bergetar mengiringi air mata yang tumpah bersama ribuan sesal yang tertanam di dasar hati.
Handphoneku yang tergeletak di lantai kembali berdering, Aku seperti tidak memiliki tenaga untuk meraihnya, tubuhku terasa lemah, hingga akhirnya aku tidak dapat lagi mengingat kejadian setelah itu.
Ketika aku terbangun kala subuh, kepalaku terasa pusing, mataku bengkak. Dengan badan yang masih lemah, kupaksakan berdiri untuk salat. Selesai salat kuraih handphone yang masih tergelatak di lantai, ada enam panggilan tak terjawab dan satu pesan singkat dari mas Indra.
“Widi, kamu baik-baik saja kan? Besok pukul dua siang aku tunggu di Bandara Husein Sastranegara. Aku sudah pesan dua tiket.”
Siang itu aku dan mas Indra terbang ke Jogja, untuk turut mengantarkan Joe menuju peristirahatan terakhirnya. Aku masih belum sanggup menghentikan tangisanku, aku merasa bodoh dan sangat menyesal telah mengabaikan Joe sebelum ia meninggalkan aku untuk selamanya.
Setelah kembali dari pemakaman, mas Indra mengeluarkan setangkai bunga dan surat dengan amplop bewarna biru muda dari tasnya. Ia memberikan bunga dan amplop itu kepadaku.
“Kemarin sebelum berangkat, Joe menitipkan ini untuk kamu.”
Perlahan amplop bewarna biru muda itu kubuka, lalu kutarik selembar kertas yang terselip di dalamnya.
Untukmu belahan jiwaku, Widiana Aurora.
Aku tidak tahu apa yang harus aku tuangkan pada secarik kertas ini.
Bahkan goresan tinta emas sekalipun tidak akan mampu mewakili perasaanku.
Ketika menulis surat ini, hatiku sedang dihinggapi sesal dan rasa bersalah yang tidak bisa aku lukiskan. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan yang membuat kamu dan keluargamu terluka, aku menyesal dan teramat sangat menyesal. Semoga pintu maaf masih terbuka untukku.
Setelah tiba di Jogja nanti, aku ingin menemui Ibumu, Ibu kita.
Aku berharap Ibu memaafkan aku, yang telah membuat dia kecewa hingga jatuh sakit, sekaligus aku akan meminta restu kepada Ibu, untuk pernikahan kita.
Sayang, kamu mau kan menikah denganku?
Aku ingin kamu selalu ada menemaniku, hingga kita tua nanti.
Bersama kita mengurus dan membesarkan anak-anak kita kelak,
di rumah sederhana penuh cinta.
Di belakangnya akan kubuatkan taman yang sangat indah untukmu.
Taman yang di dalamnya tumbuh ribuan bunga yang tidak layu ketika musim berganti.
Taman yang di atasnya melingkar pelangi dengan warna warni abadi.
Ketika petang menjelang, di sana kita merebahkan diri menikmati senja berselimut jingga.
Aku yakin, kamu pasti sangat menyukainya.
Sayang, aku berangkat dulu ya, doakan aku selamat hingga tiba di Jogja.
Dari aku yang mencintai kamu
Joe Al Farizi
“Akan kulukiskan wajahmu di hamparan awan, agar aku bisa memandangmu setiap waktu. Kutitipkan rindu pada angin, pada senja, berharap jingga di langit sore membawamu pulang untukku.”

fiera dan gerimisnya

Firaaaa…!” saat kuteriaki wanita itu, dia hanya menoleh tak berkata sedikitpun, ia hanya melihatku dengan wajah yang aku lihat di matanya banyak beribu cerita yang sulit kujelaskan, matanya yang berkantung menggambarkan kelelahan yang tak berakhir dan wajah yang pucat kurasa tak bisa membohongi bagaimana ia menangung banyak beban di pundaknya. Kuhampiri dia yang masih belum berbicara, kuraih tangannya kuajak dia ke tempat yang setidaknya bisa membuatnya sedikit melepaskan semua lelah dan bebannya.
“Sampaikanlah semua lelahmu, semua bebanmu disini, kepada alam ini, percayalah Allah selalu ada dimanapun, pun di tempat ini ia akan mendengarkan keluh kesahmu, walaupun tak kau ungkapkan.”
“Lie!… a.. a.. ak..ku..” belum selesai ia berbicara ia memelukku erat, ia menangis tangisannya meluap, air matanya jatuh habis di khimarku, aku tahu betul ini yang ia butuhkan sekarang, butuh pundak untuk ia bagikan bebannya, walaupun tak ia ceritakan segalanya, tapi dengan pelukan tulus seorang sahabat cukup membuat hatinya tenang dan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sendiri.
Air mata yang jatuh dari seorang akhwat shalehah sahabatku ini sudah mulai reda, matanya tak bisa menyembunyikan tangisannya, merah dan membengkak, isakannya sudah mulai menghilang, ia mulai tenang…
“Seminggu Aby meninggalkanku aku mulai bisa tabah dan ikhlas, tak lama setelah itu Ibu sakit sakitan aku pun mengganggapnya hal biasa aku sabar dan terus berusaha mencari penghasilan agar dapat uang untuk berobat Ibu, berbarengan dengan itu, Dea adikku yang bungsu mogok sekolah karena ingin diantar Aby naik ontelnya, aku bingung harus bagaimana aku berusaha membujuknya sampai akhirnya ia mau sekolah tapi tetap dengan syarat harus diantar dengan ontel oleh Mas Rehan aku mulai tenang dengan masalah si bungsu, usai si bungsu giliran Dias, semester ini dia harus mengikuti PKL sebagai salah satu syarat kelulusannya dan itu membutuhkan biaya yang sangat besar, tapi itu tak apa aku pun masih bisa bersabar, aku masih bisa mencari banyak pekerjaan sampingan, tak apa waktu istirahatku hanya dua sampai tiga jam, jika itu demi keluargaku, tapi Lie…”
“Tapi apa, Fir?”
Belum sempat menjawab pertanyaanku, ia kembali terisak, air matanya kembali berjatuhan aku coba menghapus air matanya yang jatuh,
“Mas Rehan… Lie… tiba tiba di.. di.. dia mengirimku pess… pesan dia i.. i.. ngin putus denganku Lie” isaknya kembali meluap, ia memelukku erat lagi, kali ini ia lebih lama memelukku, dan kemudian perlahan mencoba tenang kembali.
“Disaat situasi seperti ini.. bayangkan adikku yang mengharapkan ia menjadi sosok pengganti Abynya, aku yang saat ini sangat membutuhkannya bukan dalam hal materi Li, bukan dalam hal materi… aku membutuhkan motivasi darinya, kasih sayang yang menjadi ketenanganku, nasihatnya yang selalu menegurku yang lemah, tapi sekarang seolah olah Mas Rehan lah yang sesungguhnya menambah beban lebih berat dalam hidupku, Lie.”Mendengarkan ceritanya, air mataku ikut menetes tak tertahan, aku mencoba menahan isakku aku mencoba menenangkan Fira, aku tak bisa bayangkan bagaimana bisa jika aku ada di posisinya saat ini, aku rasa, aku ingin mati saja. Tapi, aku malu dengan khimarku, aku mulai menghilangkan prasangka burukku pada Allah, beristighfar, dan memeluk firra dengan erat.
“Aku tak akan berkomentar apapun, Fir tentang Mas Rehan, aku tak tau dengan jelas bagaimana alasannya, dan mengenai masalah masalahmu aku yakin kamu itu sudah biasa menghadapi hal ini, sebenarnya tidak dengan Mas Rehan pun kamu mampu, Kamu sandarkan semuanya pada Allah bukan pada Mas Rehan, tapi aku faham, ini susah untukmu Fir, kamu terlanjur nyaman bersandar dipundak manusia, itu tak salah tapi kurang tepat… Allah membebani suatu kaum sesuai dengan kemmpuannya, itu dariku, kamu sabar, kamu tidak sendiri bukan hanya Mas Rehan di hidupmu bukan?”
Alam seperti ikut merasakan suasana hati Fira saat itu, ia menjatuhkan gerimisnya, langit menyaksikan semua cerita Firra.
Gerimis sore hari, mereka masih di tempat yang sama, Firra yang masih menenangkan hati dan pikirannya, pandangannya melihat alam yang nyata di depan mata, ia mulai bernapas lega, sedang Lie diam diam menatap Firra yang dari tadi diam melihat pemandangan yang ada.
Gerimis… Entahlah, bagaimana kabar perasaan Firra usai sore ini, aku harap tak melulu bergerimis seperti sore ini.

jeda dimalam pertama

Pagi yang singkat, bahkan terlalu singkat dari sebelumnya. Masih terngiang di telingaku tentang permintaan tia adiknya kak raka. Dia berusaha meyakinkanku. Dia akan membiayai hidup keluargaku, sekolah adik-adikku dan semua kebutuhan mereka. Tapi nyatanya apa? Setelah pernikahan ini aku semakin menderita. Perusahaan papanya mengalami kebangkrutan, dan raka tak juga kunjung sembuh. Raka mengalami kelumpuhan sehari sebelum pertunangannya dengan sita, dia kecelakaan mobil sepulang dari meeting di luar kota. Betapa hancurnya lagi ketika dia tau kalau aku yang menggantikan posisi sita, dia seakan jijik melihatku. Padahal aku juga cantik bahkan lebih cantik lagi dari pada sita, aku sosok yang bertanggungjawab dan manis. Aku tetap tersenyum walau pahit yang aku rasakan. Hanya saja sita juga dari kalangan atas seperti dia. Sedangkan aku koki di sebuah restoran.
Ketika malam itu, malam yang sangat mengerikan. Yang aku yakin tidak akan akan ada wanita sesial aku, malam itu adalah malam pertama kalinya aku menjadi seorang istri sah dari seorang lelaki yang sebenarnya telah lama aku kagumi secara diam. Dia sosok yang manis dan mudah senyum bahkan kepadaku juga. Tapi tidak malam itu, dia menghinaku, menyakiti persaanku, bahkan dia melemparkan jutaan uang kepadaku. Dia berfikir aku mengharapkan hartanya. Tidak!! Aku tidak serendah itu. Aku menerima untuk mau menikah dengannya bukan karena hartanya. Tapi karena aku mencintainya, meskipun dia telah lumpuh.
Sampai di suatu hari, hari dimana telah memuncaknya amarahku. Dia sampai mengeluarkan sumpah serapah untuk ibu. Wanita mulia yang sangat aku hormati, ibu sekaligus ayah bagiku karena ayahku empat tahun telah tiada. Dia membanting nasi yang susah payah aku dapatkan dari hasil kerjaku, nasi yang harusnya dia makan. “Kau fikir ini jerih payahmu? Kau fikir siapa kau? Orang kaya? Itu dulu, ketika papamu belum bangkrut. Sekarang kau tak punya apa-apa, bahkan papamu, mamamu dan adikmu menerima dengan senang hati hasil kerja kerasku karena mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Aku yang biayai mereka, sedangkan kau hanya enak-enakan duduk di kursi beroda ini”. Aku membanting kursi itu hingga patah dan tidak bisa digunakan lagi. Dia hanya tertegun, entah apa yang dia pikirkan. “kau tau bagaimana hati seorang perempuan yang dihina oleh suami yang tidak mencintainya? Andai saja dinding kamar ini bisa bicara, maka dia akan tau bagaimana sakitnya aku. Kau lihat, aku masih bertahan disini walau aku harus membiyai keluargamu, sementara nafkah darimu aku tidak pernah terima sedikitpun. Jangankan lahir… Batin pun tidak”. Dia mengangkat wajahnya dan memandangku. Aku tersentak, tersadar dengan apa yang telah aku ucapkan tadi. Aku segera mengemasi kursinya yang telah patah. Kemudian aku kembali dengan membawa segelas susu untuknya. Setelah itu aku mengambil posisi di tempat biasa aku tidur, ya di lantai yang beralaskan tikar dan satu bantal untuk pengganjal kepalaku agar membawaku ke dunia yang lebih indah.Di tengah malamnya aku terbangun, aku sedikit gelisah. Entah apa yang ada di fikiranku, seakan-akan menyuruhku untuk bersiap-siap. Tapi entah apa. Aku segera melakukan sholat tahajud, dan kemudian berdoa untuknya. Ya untuk dia, dia suami yang aku cintai, mimpiku dan harapanku. Meskipun aku tidak pernah disentuhnya. Setelah berdoa, dengan pelan aku berjalan ke arahnya. Aku memperhatikan wajahnya, dan diluar sadarku tangan ini mengarah kewajahnya. Matanya terbuka dan mengejutkanku, tangan yang hendak surut tiba-tiba ditariknya. Aku semakin terbuai oleh suasana ini. Dia pelan membuka mukena yang masih aku pakai, dia mengecup keningku dengan mesra. Ini, ini seakan-akan mimpiku yang menjadi nyata. Kami melakukannya malam itu.
Tapi anehnya, esoknya dari hari itu dia bersikap dingin kepadaku. Bahkan dia juga tidak marah-marah padaku. Aku sedikit canggung dengan suasana ini. Semenjak kursi rodanya aku patahkan dia sangat kesusahan.
Seminggu setelah malam itu, aku membelikannya tongkat untuk membantunya belajar jalan lagi. Tongkat itu aku beli setengah dari hasil gajiku. Dari situ kami semakin dekat, setiap selesai sholat subuh jamaah dengannya aku membawanya ke luar rumah dengan bantuan tongkat yang aku beli untuknya.
Sudah enam bulan dari itu, kandunganku pun sudah semakin besar. Dan kakinya pun sudah semakin kuat, meski dia masih menggunakan tongkatnya. Malam itu kami berkumpul di ruang keluarga, disitulah tia menjelaskan semua yang terjadi. Ternyata papa mertuaku tidaklah bangkrut, dia sengaja bekerja sama dengan tia dan juga mama mertuaku untuk menguji kesanggupanku dan juga kesetiaanku. Tia tau kalau aku sebelumnya memang suka pada kakaknya. Sedangkan sita hanyalah mencintai harta kakaknya saja. Tidak sampai disitu, dia juga ingin kakaknya mencintaiku pula.
Mama mertua mengajakku dan kak raka untuk pindah ke rumah mereka yang megah. Aku dan kak raka saling berpandangan, dia mengisyaratkan agar keputusan aku yang menentukan. Waktu itu aku belum ingin pindah, karena aku ingin anak pertamaku lahir di rumah yang membuat kak raka bisa mencintaiku, dan juga kak raka tidak berapa lama lagi akan bisa berjalan dengan sempurna. Aku ingin kak raka menginjak rumah megah itu tanpa tongkat. Mendengar keputusanku, papa, mama dan tia mengabulkannya walau terlihat agak berat hati. Kak raka tersenyum sembari mengecup keningku.
Sembilan bulan akhirnya, aku melahirkan bayi perempuan yang lucu dan cantik. Dan suamiku pun sudah semakin kuat. Tidak ada sebahagia ini. Suami yang mencintaiku dan bayi yang kami dambakan.
Seminggu setelah melahirkan, aku meminta izin kepada suamiku untuk mengabulkan permintaan bosku agar aku sudah mulai bekerja kembali. Bosku mengatakan kalau pelanggan sangat merindukan masakanku. Walau dengan berat hati, suamiku mengizinkan aku berangkat kerja. Ya karena dengan rayuanku juga. “Hanya kali ini dan untuk terakhir kalinya, please!!!” janjiku penuh harap.
Dan pagi ini, sambil merangkulku dan menggendongku berlari ke luar berusaha megelak dari kobaran api, suamiku terlihat panik dan menangis. Tapi aku tersenyum karena aku melihat pertama kalinya lagi suamiku bisa berjalan setelah kecelakaan itu terjadi. Aku meraih wajahnya dan mengusap air matanya. “Jangan tinggalkan aku dan anak kita sayang, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kamu pergi…” pintanya lirih. Orang-orang di sekitar melihat kami dengan air mata yang bercucuran. “Sayang… Kamu mengajarkan aku segalanya, arti cinta yang sesunggguhnya dan kamu juga memberikan aku seorang putri yang cantik sepertimu.. Dia butuh kamu sayang… Kami semua butuh kamu…”.
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Lemari besar dapur restoran itu menimpaku, dan asap kobaran api pun ikut membuatku semakin tidak bisa bertahan. “sayang aku titipkan buah hati kita, buah cinta kita usai tahajudku kepadamu… Beri namany A..lo..rA gha..niy..ah… Nama kita anisa love raka.. selamat tinggal sayang”

seseorang yang berarti

Namaku Elysia, aku seorang penderita positif HIV. Setelah kuketahui penyakit ini, aku merasa hidupku tiada arti lagi. Aku merasa dunia tak adil bagiku. Mengapa harus aku? apa dosaku? aku tak mengerti, hingga sering kali aku merasa ingin bunuh diri. Akan tetapi, seorang pemuda menahanku dan mengajarkanku apa arti hidup yang sebenarnya.
Ia bernama Rael Bisma Nurkhalif, pemuda yang menahanku untuk bunuh diri. Ia pemuda yang dingin, angkuh tapi ia baik hati. Dia sangat sempurna menurutku, aku menyukainya sejak pertama kali kami bertemu. Tapi, aku tak berani mengungkapkan perasaanku padanya, aku hanyalah beban untuknya. Aku tak bisa apa-apa, hidupku juga tak lama. Hanya satu permintaanku saat ini, aku ingin dia bahagia.
“Rael, kamu kenapa lagi sih? ditembak cewek lagi ya?” Aku bertanya padanya, kulihat ia mendengus dan membuang muka. Aku terkikik pelan, sudah hal wajar saat aku melihatnya dalam keadaan Mood buruk. Kalau bukan diganggu cewek-cewek yang menurutnya merepotkan itu, apa lagi?
“Kamu sudah tau kan? mengapa harus bertanya lagi?” Ia menjawabku dengan nada ketus.
Aku hanya tersenyum, “Wajar sih, kamu kan populer hehe.” Cengirku.
“Hm? terserah apa katamu.” Sahutnya.
“Malam minggu nanti ke pasar malam yuk!” Ajakku dengan semangat.
Ia melirikku bosan, “Hm.” Dehemnya membuatku mencubitnya gemas.
“Aduh, jangan cubit-cubit!” Marahnya. Lagi-lagi aku menjulurkan lidahku mengejeknya.
“Kembali saja ya ke kelas, aku risih di tatap mereka seperti itu.” Ujarnya sembari bangkit dari duduknya.Kami pun kembali ke kelas, kadang aku meliriknya sekilas. Huh, ia memang tampan, tapi kenapa jutek sekali dengan para gadis yang menunggunya untuk dijadikan pacar? Bahkan ia hanya mau dekat denganku saja. Aku tak mengerti, tapi… ya sudahlah.
Seperti janji kami, tepat malam minggu kami berjalan bersama menuju pasar malam. Kulihat pasar malam itu sangat ramai, benar-benar menyenangkan.
“Rael, naik komedi putar yuk.” Rengekku padanya.
“Ayo.” Sahutnya singkat sambil menarik tanganku menuju loket. Setelah membeli tiket, kami menaiki komedi putar tersebut. Aku menikmati momen-momenku bersamanya sebelum waktuku habis.
“Elysia.” Panggilnya.
Aku menoleh dan menghernitkan dahi saat kulihat ia nampak serius, “Ada apa?” Tanyaku.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ujarnya gugup.
“Kau ingin mengatakan apa, Rael?” Tanyaku sambil tersenyum.
Kulihat ia menghela nafas pelan, lalu menggenggam tanganku membuatku tersentak kaget. “Aku mau jujur kalau sebenarnya aku menyukaimu, itu sebabnya aku tak pernah menerima gadis-gadis yang menembakku.”Ucapnya.
Aku ternganga, tak menyangka atas penyataan itu. Rasanya aku ingin mengatakan ‘Aku juga menyukaimu’ tapi tak bisa. Aku tak pantas untuknya.
“Maaf Rael, aku tak bisa menerimamu.” Ujarku lirih.
Kulihat ia terdiam, pandangannya sendu. Matanya menyiratkan kekecawaan padaku.
“Maafkan aku, Rael.” Lirihku sambil melepas genggamannya.
“kenapa? beri aku alasan yang jelas.” Tukasnya.
Aku menunduk, tak sanggup menjawab ucapannya. Badanku gemetar, aku tak ingin dia tau penyakitku, aku masih ingin bersamanya, tapi… aku tak ingin egois.
“APA KAMU SUKA SAMA COWOK LAIN? JAWAB AKU ELYSIA.” Bentaknya.
Aku terisak, menahan sesak di dada. “Bukan begitu… Aku, aku tak pantas untukmu, Rael.” Ucapku.
“Lalu apa Ely, apa yang membuatmu menolakku?” Sahutnya.
Aku mengepalkan tanganku, “Aku punya penyakit, Rael.” Ujarku menatapnya sendu.
“Alasan macam apa itu? kita bisa tetap bersama, dan mengobati penyakitmu itu.” Sahutnya dengan nyalang.
PLAK.
Aku menamparnya keras hingga wajahnya tertoleh ke samping, air mata tak sanggup ku tahan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya.
“AKU SAKIT RAEL, SAKIT YANG NGGAK ADA OBATNYA. HIV RAEL, HIV. KAMU JIJIK KAN SAMA AKU SETELAH TAHU INI. IYA KAN?!” Aku menangis sambil menggoncang-goncang tubuhnya.
Ia terdiam bagai patung, shock atas pernyataanku. Aku tahu, setelah ini pasti ia akan segera meninggalkan aku.
Komedi putar telah berhenti, aku turun dan segera berlari jauh meninggalkannya. Hujan turun dengan deras dan tiba-tiba. Aku tetap menerjang hujan, kudengar samar-samar suara Rael.
“ELYSIA!!!”
Aku berlari, pandanganku mulai kabur tertutup hujan deras. Aku tak ingin bertemu lagi dengannya, tak ingin. “Selamat tinggal Rael…”
BRUAAAAKKK…DUMMM
“ELYSIAAAAAAAAA!!”
Rael, menatap gundukan tanah yang masih baru itu dengan hati sedih. Tak menyangka orang yang dicintainya pergi secepat itu.
“Kenapa? kenapa harus meninggalkanku seperti ini, Elysia. Kita bisa mengulang dan melupakan hal semalam. Kumohon, kembalilah…” Air mata Rael menetes deras dari pelupuk matanya. Di tangannya, ia menggenggam buku biru bertuliskan ‘Diary Elysia’ .
“Kenapa kau tak memberi tahuku bahwa selama ini kau sakit, seburuk apapun, aku tetap mencintaimu, Elysia. Maafkan aku, aku tak berguna.” Isaknya.
Dibukanya diary milik Elysia, ia menatap tulisan rapi itu dengan sendu.
Diary Elysia.
Senin, 23 Mei 2016.
Aku merasa umurku tidak lama lagi, aku masih ingin bersama Rael, Tuhan. Aku tak ingin berpisah darinya, Seseorang yang berarti untukku. Seseorang yang mengajarkanku apa itu arti hidup. Orang yang membuatku tetap semangat menjalani hidupku. Aku mencintainya, aku ingin bahagia walau itu tanpaku.
Rael, I love you now, tomorrow and forever.
Elysia.
Rael memeluk diary biru itu dengan erat, di tatapnya langit biru tanpa awan yang sangat indah itu.
“Kau memang seseorang yang sangat berarti untukku Elysia Farradian. I love you too now, tomorrow and forever.”
END

akhir indaH SEBUAH PENGHIANATAN

Ini adalah kisah 2 orang sahabat yang ada senang dan sedihnya. Mereka adalah mikha dan santi, mereka telah lama bersahabat dan selalu bersama apapun yang terjadi, sejak kecil mereka telah bermain bersama, sekolah di tempat yang sama. Saat ini mereka telah duduk di bangku SMA, di sekolah itu lah mereka mengenal rendy lelaki tampan, smart dan disukai banyak wanita, salah satunya adalah mikha, santi mengetahui itu dan dia membantu mikha untuk mendapatkan rendy.
Pagi ini rendy akan berlatih basket, mikha pun tak ingin tertinggal satu momen pun untuk melihat rendy berlatih.
“ayo san kita lihat rendy berlatih” ajak mikha
“iya mikha, kamu duluan aja, aku beli minuman dulu” kata santi
“baiklah” kata mikha
Santi menuju kantin, sewaktu di kantin ia bertemu dengan rendy,
“ehh, maaf kak rendy ya?” kata santi..
“iya, maaf siapa?” tanya santi..
“aku santi, kelas x b”
“ouh, lalu ada yang bisa kakak bantu” kata rendy
“tidak, hanya ingin tau saja” kata santi
“memangnya ada yang aneh dengan aku” kata rendy
“tidak kok” kata santi
“ya sudah, aku ingin berlatih basket” kata rendy
“iya” kata santiSementara itu mikha telah menunggu santi di lapangan sembari menanti rendy. Santi pun menuju ke lapangan, namun dia tak memberi tau mikha bahwa dia bertemu rendy di kantin.
“kok kamu lama sih?” tanya mikha
“maaf tadi sedikit antri” kata mikha
Akhirnya latihan dimulai dan sang bintang pun masuk ke lapangan, seketika itu para wanita pun berteriak nama rendy begitu juga dengan santi, dalam benak mikha ia pun juga mengagumi sesosok rendy, setelah ia bertemu di kantin tadi
Latihan pun selesai, santi menghampiri rendy dengan harapan bisa lebih dekat dengannya,
“hay kak rendy” sapa mikha
“iya, siapa ya?” kata rendy
“emm.. aku mikha, kelas x b” kata mikha
“ouh, ehh kamu yang tadi kan..?” tanya rendy pada santi
“ehh iya kak” jawab santi
“loh kamu sudah kenal sama kak rendy” tanya mikha pada santi
“iya, tak sengaja bertemu tadi di kantin” jawab santi..
“ouh begitu.”
“iya”
“eh ya sudah aku pulang dulu ya” kata rendy
“eh iya kak” jawab mikha
Mikha dan santi pun bergegas pulang, namun mereka tidak bisa pulang bersama, karena santi harus ke toko buku untuk membeli beberapa novel, tak sengaja di toko buku itu santi bertemu kembali dengan rendy, mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya pulang, di dalam perbincangannya rendy sempat meminta nomer telfon santi.
Malam harinya santi mendapat telfon dari rendy, santi meminta agar tidak memberi tau mikha jika ia berkomunikasi dengannya, rendy pun bertanya kenapa harus seperti itu, santi menjelaskan bahwa mikha menyukainya dan santi tak ingin menyakiti perasaan sahabatnya itu, rendy pun mengerti dan tidak memberi tau mikha. Di sela-sela perbincangannya santi menyuruh rendy untuk menelfon mikha namun rendy menolak dengan alasan tidak tau nomornya, maka santi memberikan nomer telfon mikha pada rendy, tak ada alasan lagi bagi rendy untuk menolaknya.
Pagi harinya dengan raut wajah yang gembira mikha menghampiri santi dan bercerita tentang rendy yang menelfonnya, santi pun ikut senang dan tetap mendukungnya, walau dalam hati ia merasakan sedikit tak rela. Sepulang sekolah santi bertemu dengan rendy lagi, namun saat itu ia sedang bersama mikha, karena merasa tidak nyaman santi pun mencoba menjauhi rendy, rendy mengerti dan terus berjalan.
Beberapa minggu berlalu santi dan rendy semakin dekat tetapi hubungan mereka tidak diketahui oleh mikha, santi masih berpura-pura mendukung mikha. Mikha tak pernah berfikiran bahwa sahabatnya itu telah lebih dulu dekat dengan rendy, hingga tiba saatnya mikha mulai merasa ada yang berbeda dengan santi akhir-akhir ini namun ia belum mengerti ada apa dengan santi.
Hari ini adalah ulang tahun santi, ternyata santi mengundang rendy untuk datang ke pestanya namun dengan tetap berpura-pura tidak ada apa-apa antara rendy dan dirinya, mikha mulai bingung dengan kedatangan rendy pada pesta itu, dengan membawa sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang tahun santi, namun saat itu rendy telah terlanjur berbicara pada mikha bahwa dia kekasihnya santi,
“loh kok ada kak rendy?” tanya mikha
“iya kan aku orang terspesial untuk santi” kata rendy
“maksudnya?” tanya mikha
“loh memang kamu tidak tau” kata rendy
“tau apa?” tanya mikha lagi
“aku kan kekasihnya santi” kata rendy
Mendengar itu semua mikha merasa sangat terkhianati, ia tak percaya sahabat yang selama ini ia curhatin tentang rendy tega menusuknya dari belakang, di benak mikha ia menghujat santi, ia pun langsung menghampiri santi dan meminta penjelasannya
“santi, kamu tega sama aku” kata mikha
“memangnya aku kenapa” kata santi
“kamu sudah pacaran sama rendy kan?” kata mikha
“kamu tau darimana” kata santi
Mikha lari dengan rasa hancur, ia tak percaya sahabatnya seperti itu, dalam benaknya ia ingin membalas dendam kepada santi dan mulai hari itu persahabatan mereka putus, santi mencoba menjelaskan namun mikha tak mau mendengarnya dan terus menghujatnya. Santi tak tau lagi bagaimana caranya agar mikha memaafkannya.
Pagi harinya di sekolah santi mencari mikha namun ternyata mikha tidak masuk, santi pun pergi ke rumahnya, ketika disana mikha tak mau bertemu dengannya karena ia masih sangat kecewa, tetapi akhirnya mikha mau bertemu dengan santi setelah santi meminta maaf,
“mikha maafkanlah aku..” kata santi
“maaf?, kamu telah menyakitiku” kata mikha
“iya, aku tau tapi aku juga tak bisa berbohong, jika aku mengagumi rendy” kata santi
“tetapi kenapa kamu tak jujur padaku?” tanya mikha
“aku ingin jujur tapi aku takut” jawab santi
“ahh sudahlah aku tak mau mendengarkanmu lagi” kata mikha
“aku mohon mikha maafkan aku” kata santi
“baiklah, aku memaafkanmu” kata mikha
“benarkah?” kata santi
“iya, sudah aku ingin beristirahat..”
Santi pun pulang dengan rasa gembira, namun tak semudah itu mikha melupakan itu semua, dalam benaknya ia masih sangat kecewa.
Setiap hari mikha harus menahan rasa sakitnya setiap kali melihat santi dan rendy bersama, namun apa daya santi sahabatnya dan akan tetap menjadi sahabatnya apapun yang terjadi.
1 bulan berlalu santi dan rendy semakin dekat, santi tak pernah tau apa yang dirasakan oleh mikha, ia juga tak pernah tau betapa mikha menyayangi rendy namun mikha rela tersakiti asal sahabatnya bahagia.
Hari ini hari yang paling berat untuk santi, ia tidak tau dan tak pernah menyangka di balik senyum mikha tarnyata ada sesuatu, santi tak pernah tau jika sahabatnya itu mengidap penyakit yang berbahaya, hingga mikha tak mampu bertahan, ia pergi membawa cinta rendy untuk selamanya, santi merasa amat sangat berduka, sebelum mikha tiada ia sempat menulis sebuah surat terakhir untuk santi.
“santi, mungkin saat kau membaca surat ini aku telah berada di tempat yang indah, maafkan aku jika aku harus pergi, bukan karena tak ingin menjadi sahabatmu lagi, tapi karena aku tak sanggup lagi, aku titip rendy aku menyayanginya, jaga dia untuk aku, aku rela menderita asal kau bahagia..
dari mikha sahabatmu”
Sampai akhirnya santi lulus SMA dan kuliah, ia menikah dengan rendy, setelah semua itu santi dam rendy hidup bahagia selamanya, santi berterimakasih pada mikha sahabat sejatinya…
Selesai..

takdirlah sutradara

Disepertiga malam, masa seakan berhenti. Seakan semua terkesima mendengar munajatku yang memohon akan cinta.
Kasihku berawal dari perjumpaanku dengan Rahman, kala ia menjadi guru ngajiku.
Rahman istimewa. Ia tuli dari konsonan kata tak bermakna, ia bisu dari ucapan kotor dari bibirnya, ia lumpuh dari jalan mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna. Namun, penglihatan diambilNya, agar ia tak terlena oleh kegelimangan dunia fana.
Aku mencintainya.
Suatu hari, Rahman meminagku. Aku bahagia, hingga aku lelah sendiri agar semesta tau tentang bahagiaku.
Namun kenyataan menumbuhkan ego, kala orangtuaku menolak Rahman, bahkan mencacinya.
“Dasar orang buta! Mau kau kasih makan apa anakku. Hidupmu saja di panti asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya he…”
Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka hingga menumbuhkan penyakit ginjal dalam diriku.
“Jika kita berjodoh, Insyaallah kita akan bertemu sebagai pasangan yang hahal La.”
Ingin hati memeluknya. Menangis, bercerita akan hidupku yang rapuh digerogoti asa yang terlanjur bahagia.
“Aku mencintaimu Mas.”
“Aku pun masih mencintaimu La. Tapi, simpanlah cinta itu untuk pasangan kita kelak.”
“Mas…” aku menunduk. Pandanganku kabur. Gelap.
Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas seakan mencekikku. Setelah operasi ginjal tiga hari lalu, aku siuman.
Sebuah mukena dan tape recorder ada di sebelah tempat tidurku.
“Laila terkasih…
Telah kuterima ketulusanmu dengan cintaku. Jaga ginjalku Lalila. Perkenalan denganmu adalah bahagiaku, aku pergi dengan tenang, kutunggu kau di surga, bersama kebahagiaan cinta kita. Insyaallah.”
Aku terseok mengejar waktu membawa Rahman pergi. Menghampiri hujan uang serasa menjahit kulitku.
Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa Rahman? Aku ingin kebersamaan, bukan ginjal…
Sebuah truk melaju kencang. Aku mematung di tengah jalan. Biar kuakhiri semua disini. Aku siap. Rodanya melaju semakin dekat. Aku memejamkan mata dan… trus itu menembus tubuhku.
Tubuhku terlihat samar. Terasa ringan terangkat ke udara. “Kau tak perlu melakukan itu Ukhti.” suara Rahman lembut, lalu menggandeng tanganku menuju titik terang.
Siti menangis tersedu di atas makam putrinya, Laila. Operasi yang dijalani anaknya gagal. Penyesalannya adalah anaknya meninggal dalam keadaan kecewa akan cinta yang ditentangnya. Ia hanya bisa meratap penuh penyesalan.
“Maafkan ibu nak. Semoga kau bahagia di surga bersama Rahman…” doanya.

piala untukmu

Hari yang cerah, cukup melelahkan. Keringat membuat hampir seluruh tubuhku basah. Handphone berbunyi tanda ada panggilan masuk, panggilan itu dari seseorang yang sangat aku tunggu-tunggu dari tadi pagi, aku pun segera mengangkatnya. “Iya kak” ujarku “put, kakak udah di bandung, putri sekarang dimana?” “Iihh, kok kakak gak bilang-bilang sih kalo mau pulang, putri lagi latihan badminton di tepat latihan biasa.” “Oh gitu yah, ya udah kakak ke situ” “iya kak, emang kakak sekarang dimana?” “Di rumah putri” “tuh gak bilang-bilang lagi mau ke rumah, putri kan bisa izin buat gak latihan, diem disana putri aja yang pulang kak” “gak usah, tungguin aja disana, kakak kesitu, ini lagi di jalan udah dulu.” Telepon terputus.
“Pak saya izin dulu mau ke luar sebentar” kataku kepada pelatih “mau ketemu sama toni yah” ujarnya “emm, iya pak” kataku pelan “tadi toni udah izin sama bapak, silahkan kalo mau pergi sekarang” ujarnya. “0h iya pak, makasih” kataku sambil tersenyum tipis dengan pipi yang sedikit merah. Aku pun segera pergi ke depan untuk menemui orang yang sangat aku sayangi ini.
Tidak lama aku menunggu, mungkin hanya beberapa menit terlihat seseorang yang memakai motor ninja berwarna merah, dengan jaket berwarna merah melaju dari arah barat. Dia berhenti tepat di depanku, dia tersenyum dan berkata “Ayo put!” “Kemana?” Ujarku “Kemana aja, cari makan yu, pasti kamu belum makan yah?” “Emm, tapi (mengerutkan kening)” “tapi apa aku udah izin sama pelatih kamu, lagian cuma sebentar kok put” “iya putri tau, tapi kak masa baju aku kaya gini? Pake kaos tim gini?” “Gak papa biar orang-orang tau kamu atlet badminton” “haha, ya udah deh”. Aku pun menaiki motornya.Motor melaju dengan kencang. Kami berhenti di sebuah cafe, tempat kami biasa makan bersama.
“Mau pesen apa mba, mas?” Kata seorang pelayan “Kamu mau makan apa?” Ujar kak toni “apa aja deh, sama in aja kak” “mba saya pesan spageti dua” ujarnya kepada sang pelayan “minumnya mas?” “Teh lemon panas aja mba” tidak lama pesanan pun datang. Kami makan sambil ngobrol, langit mulai mendung, dan akhirnya turun hujan. Tidak terasa kami mengobrol cukup lama, kurang lebih satu jam setengah, makanan kami pun sudah habis yang tersisa hanya teh lemon panas yang sudah dingin.
“Kak udah jam setengah tiga, pulang yu. Tas aku juga masih ada di gor.” “Iya ayo, eh tapi kan masih gerimis put, lima menit lagi aja ya nunggu hujannya berhenti.” Ujar kak toni “tapi kak,” belum selesai aku bicara kak toni memotong pembicaraan ku “ya udah ayo, ini pake jaket kakak” ujarnya memberikan jaket berwarna merah. “Nggak ah kak, kakak aja” memberikan jaket itu kembali. “Ya udah kalo gak mau gak jadi pulang nih, kakak kan pake baju panjang nah kamu?” “Ya udah deh” memakai jaketnya dengan sedikit terpaksa. Kami pun pergi dari cafe itu, motor melaju dengan cepat, karena hujan turun dengan deras. Beberapa kali aku menarik baju kak toni, dan berkata “kak pelan-pelan aja” tapi mungkin karena dia memakai helm jadi dia tidak mendengarnya. Aku yang saat itu hanya memegang bajunya, karena takut dan dingin aku mempererat pegangan bisa dibilang aku memeluknya.
Rasanya motor ini melaju dengan sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Tiba-tiba rasanya seperti terguncang, dan mendengar suara benturan yang sangat keras, membuat badanku seperti terombang-ambing, mataku sulit terbuka, sejenak berfikir, apakah kami jatuh? Aku mendengar keributan, suara sirine ambulan, dan mobil polisi. Juga suara orang-orang yang tidak terdengar jelas. Aku berusaha untuk membuka mata ini, akhirnya aku bisa membuka mata ini, kulihat di sekelilingku banyak orang, dan ada seseorang yang tergeletak di sisiku, dia dia orang yang sangat aku sayangi dia kak toni, hampir seluruh badannya berlumuran darah, helmnya masih terpasang dan lalu ada orang yang membukanya. tapi mata dia masih terbuka, aku sangat ingin berbicara menanyakan apa dia baik-baik saja tapi ini sulit, aku melihat dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, kami saling menatap entah apa yang ingin ia sampaikan kepadaku, tapi aku sangat mengkhawatirkannya. Tiba-tiba matanya tertutup, datang beberapa orang yang mengangkatnya dan membawanya ke ambulan. aku ingin bangun dan berlari mengejarnya, ada seseorang yang berbicara kepadaku dengan pelan, bahwa dia sudah meninggal entah siapa yang berbicara seperti itu, tapi dunia ini seperti kiamat, dan pandanganku tiba-tiba gelap, lalu aku tidak ingat apa lagi yang terjadi pada waktu itu.
Kubuka mata ini, terlihat seperti kamar, tapi ini bukan kamarku. Apakah ini rumah sakit? Tapi mana mungkin ruangannya seperti kamar anak laki laki dengan beberapa poster dan catnya sedikit gelap, serta terdapat gitar di pojok kamar. Kepalaku diperban, dan infusan ini ada di tanganku. Aku lupa kejadian apa yang telah aku lalui sebelumnya sehingga aku bisa terluka. Lalu ada beberapa orang yang datang ke ruangan ini, lalu mereka duduk di tempat tidur itu, aku tidak kenal dengan mereka, mereka memakai baju hitam dan kerudung hitam. Beberapa orang dari mereka mengolesi leher dan hidungku dengan kayu putih. Salah satu dari mereka berkata “kak, ini aku dewi adiknya kak toni. Kakak ingat kan?” Iya aku mengingatnya dia adiknya kak toni dewi. Mereka yang ada di kamar itu seperti aneh, mereka saling berbisik. Lalu dewi mendekat ke arahku dan bibirnya mendekati telingaku dia berkata kakak yang sabar kak toni udah nggak ada, mendengar itu membuat aku berfikir sejenak dan iya aku ingat semuanya, semua kejadian sebelumnya, kecelakaan yang membuat pacarku itu terluka, dan dia sekarang meninggal? Aku menangis, menjerit, rasanya ini seperti mimpi buruk, seperti kiamat, diriku tidak bisa terkendali aku seperti gila.
Orang-orang datang ke kamar itu, mereka menenangkanku, lalu ibuku datang dan memeluku, setelah itu ibunya kak toni juga datang dia terlihat sangat hancur dia memeluku dengan sangat erat, dia berkata bahwa aku harus kuat, hidupku harus tetap berlanjut. Setelah aku mulai tenang, ibunya kak toni mengajaku untuk pergi ke makam kak toni, dia meminta maaf karena jasadnya kak toni langsung dimakamkan karena aku pada waktu itu tidak kunjung sadar. Beberapa orang menuntunku ke mobil, tidak lama kami pun sampai di pemakaman. Aku tidak mampu berjalan, beberapa orang menyanggaku agar aku tidak jatuh.
Tibalah dimana di depanku terdapat makam seseorang yang sangat aku cintaku dan sayangi, dia yang paling mengerti diriku setelah orangtuaku, dia yang selalu memberiku semangat, dia yang ada ketika dunia menjauh, dialah satu-satunya. Tertulis namanya di batu nisan, bunga yang masih segar dan tanah yang masih basah. Aku hanyut dalam tangisan, lantunan surat Yassin yang dibacakan oleh beberapa orang di tempat itu membuat aku semakin deras meneteskan air mata. Mungkin aku tidak seperti sebelumnya yang sangat histeris, aku mencoba untuk tenang dan menerima keadaan. Karena diamnya aku, mungkin emosi yang tidak keluar itu membuat aku pusing, pandangan menjadi kabur dan bruukkk aku tidak sadarkan diri.
Cahaya itu membuat mataku silau, dan memaksaku untuk membuka mata. Kulihat kamarku seperti biasa. Air mata ini kembali menetes menyadari bahwa hari sekarang berbeda dengan hari kemarin, karena seseorang telah pergi, pergi jauh dan aku tidak bisa menggapainya. Tapi ketika aku ingat dia, ingat semua pesan yang selalu ia sampaikan. Bahwa aku harus maju, harus menjadi orang sukses. Aku berfikir bahwa tuhan pasti memberi jalan yang terbaik untuk hambanya. Aku menghapus air mataku, dan mulai bangkit dari tempat tidur. Terlihat di dinding terbanyak foto kami, foto kami dengan moment yang berbeda. Mencoba untuk ikhlas dan menjadikan dia sebagai motivasi untuk terus maju.
Dengan kembali ke kehidupanku seperti biasa, mungkin berbeda, tapi ini harus dijalani. Emosiku keluar pada saat aku bermain badminton, mengingat dia ingin melihat aku menjadi atlet badminton yang hebat. Aku terus berlatih, mungkin hikmah dari semua ini adalah aku menjadi juara pemain badminton putri tunggal di beberapa kejuaraan, mendapat piala, piagam dan yang lainnya. Piala terbesar dan aku dedikasihkan untuk dia, dia membuat aku seperti ini, dialah kak toni.

akan baik baik saja

Bagaimana rasanya jika kita harus melupakan hal yang paling kita sukai? Sulit bukan? Begitu juga Nandira. Nandira harus melupakan Fathan seorang pria yang sangat dia cintai saat ini. Ibunya tidak pernah menyukainya. “Miskin” itulah yang membuat ibunya fathan tidak menyukai dan bahkan tidak merestui hubunganku dengan anaknya itu. “Seperti langit dan bumi, apa kau tidak sadar?” Itu adalah kata yang ibunya fathan ucapkan ketika dia bertemu dengan ibunya fathan di sebuah pusat pembelanjaan yang saat itu dia sedang bekerja sebagai Office Girl. Sudah berkali-kali dia berkata kepada fathan agar fathan memutuskannya, namun fathan tidak ingin melepaskannya, tak jarang dia berkata akan bunuh diri jika nandira meninggalkannya bahkan fathan berkata kalau nandira meninggalkannya dia akan gila. Ibunya fathan memang tidak pernah menunjukan ketidaksukaannya terhadap nandira di depan fathan, karena dia takut anaknya memberontak.
Nandira tidak ingin terjadi apa-apa dengan fathan, tapi dia tidak ingin terus dihina dan bahkan mendapat banyak masalah. Ibu kostnya menyuruh dia pergi dari tempat kostnya karena dia telat membayar satu hari, padahal sebelumnya dia sering telat membayar bahkan sampai seminggu, tapi ibu kostnya tidak pernah menyuruhnya pergi. Ketika nandira membawa koper ke luar, dia melihat ibunya fathan sedang berbicara kepada ibu kost. Dia yakin sekali ibunya fathan yang berbuat ini kepadanya, membuat dia kehilangan tempat tinggalnya. Kenapa nandira mencurigai ibunya fathan, karena sebelumnya dia dipecat dari pekerjaan lamanya sebagai pelayan cafe karena ibunya fathan. Nandira tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tadinya dia akan pulang ke tempat kelahirannya, karena kedua orangtua dan adiknya tinggal disana. Namun apa yang harus nandira katakan kepada mereka?
Ibunya fathan menghampiri nandira “apa kau menderita saat ini?” “Tidak” jawabnya. “Aku akan memberimu banyak uang, tapi” “aku harus meninggalkan anakmu, hah?” Ucap nandira memotong pembicaraannya. Ibu fathan memberinya cek yang berisi 50 juta, Nandira tetap diam tidak menerimanya “apa ini kurang, aku akan memberimu 2 kali lipat, apa kau mau?” “Kau tidak perlu membayarku, aku akan meninggalkan anakmu jika kau tidak menyukaiku.” Nandira pun meninggalkan wanita yang membuatnya marah dan sedih itu.Nandira berjalan menelusuri jalanan yang sedang macet dengan membawa koper kecil berisi baju-baju. “Nandira!” Nandira menengok ke belakang untuk melihat seseorang yang memanggilnya. Ternyata fathan yang memanggilnya, fathan berjalan ke arah Nandira.
“Sungguh aku merindukanmu nan, selama satu minggu kita tidak bertemu, bahkan kamu tidak memberiku kabar sedikit pun. Apa yang terjadi sayang?”
Dia memeluk gadis itu, namun Nandira hanya terdiam tidak membalas pelukan pacarnya itu. Nandira melepaskan pelukannya lalu fathan menatap Nandira, dia mengangkat dagu gadis itu dengan pelan “apa kau menangis, kau bisa menangis dan bersandar di pundaku. Ayo kita duduk dulu sebentar agar kau tenang.” Ujarnya membawa nandira ke kursi taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Nandira tidak bisa menahannya, menahan air mata yang akan mengalir deras. dia menangis dengan tersedu-sedu, fathan merangkulnya namun kali ini fathan memeluk nandira dengan sangat erat. Dia membelai rambut nandira dan mencoba membuat gadis yang berada di pelukannya itu tenang. Perlahan-lahan tangisan nandira berhenti, nandira merasa sangat nyaman ketika barsama fathan.
“Coba ceritakan sayang, apa yang terjadi?”
“Aku, aku tidak bisa menceritakannya.”
“Nandira, apa kau tidak mempercayaiku? Satu kata pun cukup, aku bisa mengerti'”
“Ibumu,”
“Ya aku tahu, apa yang aku pikirkan ternyata benar. Ayo kita pergi.”
“Tidak fathan kau tidak mengerti, aku akan menceritakannya, asal kau jangan membawaku pergi.”
Aku menceritakan semuanya, dia terlihat marah, namun dia mencoba menyembunyikan kemarahannya.
“Kau tidak usah khawatir, aku akan mencoba berbicara kepada ibuku. Sudah jangan menangis sayang semuanya akan baik-baik saja.” Ucap fathan dengan menghapus air mata Nandira.
Namun setelah fathan pergi, Nandira langsung menaiki kereta untuk menuju kampung halamannya.
Di Rumah Fathan
Fathan datang dengan basah kuyup, dan dia seperti mabuk.
“Apa yang terjadi sayang” ucap ibunya dengan memegangi pipi fathan
“Diam kau, siapa kau. Aku tidak mengenalimu.” Teriaknya
“Itu ibu kita kak. Apa kau gila?” Ucap seorang gadis dengan berteriak.
“Diam kau!” Teriak fathan dengan menunjuk gadis itu.
“Nak.” Ucap ibunya dengan pelan
“Siapa kau? Jika kau ibuku kau tidak akan membuat hidup anakmu menderita. Aku membencimu ibu.” Ucapnya dengan menangis lalu dia terjatuh karena kurang keseimbangan akibat mabuk berat.
Ibu dan adiknya yang bernama syila mencoba membantunya.
“Lepaskan tangan ibu, biar syila yang bantu aku.” Menepis tangan ibunya
“Apa yang terjadi kak.” Ucap syila dengan lembut agar kakaknya tidak terpancing emosi
“Nandiraku meninggalkanku.”
“Kenapa dia meninggalkanmu kak?”
“Dia, dia yang memintanya.” Menunjuk ke arah ibunya
“Ibuuu, kenapa?” Lirih syila
“Maafkan ibu sayang, itu yang terbaik untukmu.” Ibunya berkata dengan menangis
“Iya ini yang terbaik, aku akan mati atau jika tidak aku akan gila. Itu kan yang ibu inginkan?” Suaranya pelan dan dia tersenyum tipis
Ibunya hanya menangis tidak lagi berkata.
Sudah tiga hari fathan tidak ke luar kamar. Ibunya sangat khawatir, selama tiga hari dia berfikir apa yang harus ia lakukan. akhirnya dia menelepon nandira, dia menceritakan semuanya, dia meminta maaf kepada nandira dan memintanya untuk datang ke rumahnya untuk menyelamatkan nyawa anaknya, fathan.
Setelah 3 jam ibunya menunggu gadis yang sangat dicintai oleh anaknya, akhirnya gadis itu datang. Nandira lari ke kamar fathan, tetapi ketika dia mengetuk pintu fathan tidak membukanya, terdengar suara teriakan fathan dan suara benda-benda yang terjatuh. Lalu ibunya meminta bantuan kepada supirnya untuk mendobrak pintu kamar anaknya. Setelah pintu terbuka terlihat fathan sangatlah hancur, banyak darah di tangannya dan dia sekarang sedang memegang pisau. Nandira segera berlari ke arah fathan lalu mencoba mengambil pisau yang sedang fathan pegang. Fathan tidak sadar bahwa yang ada di depannya adalah nandira, Tetapi fathan menarik pisau itu dengan keras, Nandira pun menariknya kembali, ketika sudah di tangan nandira, fathan mencoba untuk menariknya dari tangan nandira, tetapi karena saling menarik akhirnya pisau itu menimpa nandira dan pisau itu tertancap di perut nandira, fathan mencoba bangun, dia melihat orang yang sangat ia cintai berlumuran darah, dia pikir ibunya yang mencoba menarik pisau dari tangannya. Namun, ternyata nandira. Fathan menangis, dia berteriak meminta tolong, mata nandira masih terbuka, dia tersenyum kepada fathan, saat keadaan seperti ini dia masih bisa tersenyum kepada kekasihnya itu.
“Nandira, oh tuhan apa yang aku lakukan. Nandira kau bisa mendengarku.” Ucapnya dengan menagis
Nandira terlihat kesakitan,
“Ibu, syila, Mang Diman (supirnya) tolong nandiraku” teriaknya kembali
“Fathan” ucapnya pelan
“Iya sayang” kata fathan memandanginya penuh kekawatiran
“Aku tidak kuat, aku akan mati”
“Kau akan baik-baik saja, kita akan bersama.”
“Aku akan mati”
“Aku juga akan mati”
“Kau tidak akan mati”
“Aku akan gila”
“Kau akan baik-baik saja”
“Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang, kau akan baik-baik saja. Ini semua salahku, harusnya aku yang mati”
“Tidak, kau akan baik-baik saja …” tidak terdengar lagi suara nandira nafasnya berhenti
“Sayang, kau tidur kan. Cepat bangun aku ada disini bersamamu.” Ucapnya dengan pelan dan tersenyum kepada seakan nandira dapat melihatnya.

tinggal kenangan

Hari memang cerah, tidak mendung seperti biasanya. Namun itu tidak membuatku ingin keluar, aku hanya ingin tetap di tempat tidurku. Mendengarkan musik, agar pikiranku tidak tertuju pada kenangan indah namun menyakitkan yang selalu menghampiriku. Musik terputar dengan acak, sehingga tidak perlu kupindahkan. Lagu yang berjudul “tinggal kenangan” berlagu di headset yang sedang kugunakan. Aku langsung mematikan Lagunya. Aku menangis, lagu itu seakan terus berputar di telingaku walaupun lagunya sudah kumatikan. Kenangan kelam yang telah setahun ini berusaha kulupakan, kembali berputar di otakku. Aku menangis, berteriak, aku seperti orang gila waktu itu.
Ibuku terlihat membuka pintu, lalu bergegas ke arahku.
“Apa yang terjadi adel sayang?” Ucapnya pelan
Aku menangis, berteriak, dengan memegang kedua telingaku.
“Tenanglah sayang, ibu disini, tidak ada apa-apa.” Ucapnya dengan lembut membelai rambutku.
Aku mulai merasa tenang sekarang, lagu itu seakan berhenti mengiang di telingaku.
Aku memeluk ibu, “apa yang terjadi adel?” Ucapnya pelan
“Ibu, aku tadi sedang mendengarkan musik lalu lagu itu berputar.”
“Lagu apa sayang?”
“Lagu kenanganku dengan Adit ibu, aku sudah matikan lagunya, namun lagu itu tetap terngiang di telingaku. Dan aku mengingat adit ibu, dan kecelakan itu ibu. Aku sulit mengendalikan diri bu, aku tidak bisa. Aku takut ibu..” aku menangis dengan tersedu-sedu.
“Tidak apa-apa sayang, lama-lama kau bisa mengendalikan dirimu.”
Aku mengangguk dan tersenyum menutupi kesedihanku.
Setiap melihat benda, foto, atau mendengar lagu kenanganku dengan adit, aku sulit mengendalikan diri. Aku sangat takut ketika mengingat kecelakaan itu, kecelakaan yang membuat kekasihku meninggal. Kami pulang dari lembang, namun dalam perjalan kami bertengkar. Adit tidak fokus, karena aku marah saat itu, dan dia mencoba menenangkanku. Tapi naas, mobil kami jatuh ke jurang. Itu membuatku tidak sadarkan diri selama 2 hari dan ketika aku sadar aku mengetahui aditku sudah tidak ada. Sejak saat itu aku selalu merasa bersalah dan takut ketika kenangan itu menghampiri otakku.
Aku sering datang ke psikiater untuk berkonsultasi tentang diriku. Itu cukup membantuku, aku sudah bisa mengendalikan diriku dengan cukup baik. Aku kembali kuliah, dan hidup seperti sebelum mimpi buruk itu terjadi.Aku berjalan menuju gerbang, karena supirku sudah menunggu di seberang jalan. Aku melihat seorang laki-laki yang mirip sekali dengan adit, aku sedang menyeberang saat itu, aku memperhatikan laki-laki itu, aku tidak menyadari kalau aku sedang menyebrangi jalan, brukkk aku tertabrak mobil.
Di Rumah sakit
Aku terbangun, terlihat ruangan yang serba putih. Ibuku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurku.
“Buuu” ujarku
“Ya tuhan nak, kau sudah sadar?” Menghampiriku. Aku hanya tersenyum
“Bu”
“Iya sayang”
“Adit tidak apa-apa?”
“Hah, sebentar” ibuku keluar dengan wajah yang bingung.
Ibuku datang bersama laki-laki yang sepertinya dia adalah dokter.
“Adel Fitriarini” ujar dokter itu
“Iya”
“Apa yang terjadi sehingga kau di sini?”
“Sepertinya aku dan kekasihku adit mengalami kecelakaan. Apakah kekasihku itu baik-baik saja dok?”
Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku, melainkan ke luar bersama ibuku.
Sepanjang hari aku merasa bete, karena ibuku tak kunjung datang, aku pun tidak mengetahui keadaan adit saat ini. Apa dia baik-baik saja, atau bagaimana.
Ibuku datang bersama adit, kekasihku itu.
“Adit, kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku baik-baik saja del”
“Syukurlah aku yang terluka, bagaimana kalau kau yang terluka. Sepertinya kau tidak terluka sedikitpun dit, aku senang melihatnya.”
Adit hanya tersenyum.
Aku ke luar dari rumah sakit. Seminggu penuh aku menghabiskan hari-hariku dengan adit. Aku sungguh bahagia, karena aku dan adit selalu bersama. Wapaupun aku merasa adit sedikit berbeda, dari bahasa, gaya berpakaiannya, dan dia seperti canggung kepadaku. Suatu hari, kami sedang bermain di taman,
“Adit, aditku cantik banget.” ujarku Tersenyum manja
“Kamu del yang cantik.”
“Apa dit?”
“Iya, kamu yang cantik. Kalau aku ganteng.” Ujarnya tertawa
“Tidak kamu bukan aditt, kamu siapa hah? Kamu hanya mirip dengannya.”
“Aku adit lah, siapa lagi? Kau kenapa adel, aku adit kekasihmu.”
“Tidak tidak, aku mengenali kekasihku. Aditku selalu berkata aku ganteng, dan aku selalu berkata kalau dia cantik. Tapi kau berkata sebaliknya. Tidak-tidak Kau bukan adit..”
Aku berjalan mundur lalu berlari menuju rumah.
Orang itu mengejarku, dia menghentikanku.
“Cukup adel, aku akan menjelaskan. Apapun yang terjadi kamu harus tau”
Dia mengajaku duduk di pinggir jalan
“Apa? Apa yang terjadi?”
“Seperti ini, kamu dan adit mengalami kecelakaan lalu aditmu itu meninggal. Setelah satu tahu lebih, tepatnya 10 hari kebelakang kamu tertabrak oleh mobil ketika menyeberang karena memperhatikan diriku, karena aku mirip dengan aditmu itu. Kepalamu terbentur keras sehingga ingatanmu belakangan tidak bisa kau ingat, namun yang kau ingat adalah kecelakaan itu. Untuk tidak membahayakan nyawamu, aku ‘adam’ saudara kembarnya harus berpura-pura menjadi adit, kenapa? Karena untuk menyelamatkanmu, agar kau tidak gila. Kau pasti ingat kan apa yang terjadi, kau tidak amnesia kau hanya perlu diingatkan untuk ini, dan ini adalah waktu yang tepat.”
Aku hanya menangis, aku ingat, aku ingat semuanya.
“Terimakasih adam, maaf bila aku pernah menyakitimu.”
“Sama-sama del, maaf karena aku sudah berbohong kepadamu. Kau dan aku bisa berteman. kau bisa bercerita tentang apapun kepada diriku, setidanya ketika kau sedih atau merindukan adit kau bisa cerita kepada seseorang, yaitu aku”
“Terimakasih dam, terima kasih banyak. Bolehkah aku memelukmu, sekali saja. Setidaknya aku merasakan pelukan hangat dari sosok yang hampir sama dengan aditku.”
Dia menganguk dan tersenyum tipis.
Aku bahagia, cukup dengan memeluk adam. Tubuh yang seperti kekasihku adit, membuatku nyaman, walaupun rasanya berbeda. Kini, aku dan adit tinggal kenangan. Kenangan yang indah juga menyedihkan. Cinta kami yang terpisah karena takdir, yaitu maut.

yang ditunggu

“Aku mencintaimu, Val.”
Rival menatap Tasya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Pengakuan Tasya ini, membuat Rival tak bisa berkutik. Ingin ia menjawab pernyataan dari Tasya, tetapi lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Tasya menghela nafasnya pelan, tak kuat menahan air matanya ini.
“Sudahlah Val, tidak usah kau pikirkan. Aku hanya gadis bodoh yang tidak seharusnya mengharapkanmu.” Lanjut Tasya
Keheningan melanda mereka berdua. Hanya bunyi semilir angin yang menemani mereka berdua. Hingga dering handphone Rival yang memecahkan keheningan mereka.
Rival mengambil handphone dari saku kemejanya dan langsung melihat nama yang tertera di layarnya. Rival sedikit terkejut melihat nama yang meneleponnya. Dan Tasya tau itu, tapi ia tak peduli. ‘Itu pasti dari pacarnya, Nessa.’
“Aku permisi dulu mau angk—”
“Angkat telepon dari Nessa.”
Rival menggelengkan kepalanya, tetapi Tasya tak melihatnya.
Rival pergi menjauh dari Tasya untuk mengangkat telepon itu. Air mata Tasya langsung meluncur bebas. Dan kali ini Tasya tak menahannya. Biarkan air mata ini keluar sebebasnya agar hatinya tak terlalu merasa perih.
“Kau yang kutunggu, namun kau bukanlah untukku. Jadi percuma saja penantianku.”
Tasya sesegukan dengan erangan yang terdengar menyahat hati.
Kenapa cinta sesakit ini?“Tasya?”
Tasya langsung menghapus air matanya dengan cepat, lalu berusaha tersenyum semanis mungkin.
“K-kau tidak apa-apa?” Rival langsung duduk di sebelah Tasya. Raut wajahnya sangat tampak khawatir, dan ia tak menyembunyikannya seperti biasanya.
‘Kau hanya bisa membuatku kesulitan untuk melupakanmu, Val.’
“Hey, aku tidak apa-apa! Hanya kelilipan saja.”
Rival menatap Tasya sendu. Apa ia harus pergi meninggalkan Tasya sendiri?
“Ak-aku pergi dulu ya sya,” ucap Rival ragu
“Izin dariku tak penting Val. Kalau kamu mau pergi gak apa-apa kok.”
Rival langsung berdiri dari duduknya.
“Ya sudah aku pergi dulu.” “Jaga baik-baik dirimu, Tasya.” lanjut Rival
Rival meninggalkan Tasya lagi disini. Sendirian.
‘Bagaimana aku bisa baik-baik saja, disaat kau meninggalkanku sendirian?’
Tasya pulang kerumahnya dengan wajah yang memerah dan matanya yang sembab. Di kamarnya Tasya langsung menangis sejadi-jadinya. Tangisan Tasya sedikit mereda setelah ibundanya mengetuk pintunya dengan cepat.
“Tasya, keluar dulu nak, ibu mohon.”
Tasya diam tak menjawab permintaan ibunya.
“I-ini tentang Rival, sya,” ketokan ibu Tasya melemah setelah mengucapkan nama Rival. Tasya langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat.
“Rival kenapa bu?!”
‘Kau tau, aku dari dulu sudah mencintaimu Tasya. Bahkan sejak kita pertama bertemu disaat kamu jadi temen sebangku aku di sekolah. Dan aku sangat suka melihat senyuman kamu. Maka dari itu, sifat pendiamku berubah menjadi sifat yang humoris. Karena apa? Karena aku ingin membuatmu selalu tertawa untukku, hanya untukku. Dan itu karenaku.’
Tasya menutup buku harian berwarna biru dongker tesebut. Buku yang menjadi curahan hati Rival selama ini. Tasya mencium batu nisan yang bertuliskan nama Rival tersebut. Sudah setahun semenjak kematian Rival yang dikarenakan kecelakaan. Rival yang saat itu ingin menuju kerumahnya untuk memberi tahu isi hatinya. Tetapi malah maut yang menghentikannya.
“Apa kau tau? Aku disini masih tetap mencintaimu, Val. Mungkin ada benarnya jika cinta sejati tidak akan terpisahkan kecuali maut yang memisahkan mereka. Karena apapun yang terjadi, hati ini hanya untukmu. Dan entah sampai kapan habisnya cinta ini untukmu.”
Air mata tasya keluar dengan sendirinya. Erangan-erangan memilukan membuatnya semakin menyedihkan.
Kenapa cinta harus sesakit ini?
Kenapa?!
Apakah salah jika diriku mencintainya?
Apakah aku harus memendam rasa ini?
Sudahlah, ini semua sudah terlambat.
Karena yang ditunggu kini sudah pergi jauh dariku. Sangat jauh.
The end

atas nama cinta

“Aku cinta padamu Emma.” Ucap Sebastian lirih. “Aku juga cinta padamu, Ian. Tetapi, aku tidak bisa bersamamu. Aku adalah peri Musim Dingin. Sedangkan kamu adalah peri Musim Panas. Kamu tahu kan, Ian. Peri Musim Panas dan Musim Dingin tidak pernah akur. Mereka selalu memperebutkan mana di antara mereka yang paling pantas untuk membuat sebuah musim di bumi. Ditambah lagi, aku adalah putri seorang raja musim Dingin. Aku tak mungkin mempermalukan nama ayahku.” Emma menjawab. Terik siang itu seolah membakar hati Sebastian. Meninggalkan sekubangan air mendidih yang diam diam memakan cintanya. ‘Selalu kehilangan sebuah harapan’ mungkin seperti itulah posisi Sebastian saat itu. Sepasang peri jantan dan peri betina itu duduk di antara dahan pohon yang telah tumbuh dewasa nan kokoh. Emma mulai berkaca kaca lalu ia merintikan air mata. “Sebastian, apakah kau rela mati untukku?” Suara Emma agak bergetar. “Emma… sudahlah jangan menangis. Aku siap untuk apa pun yang menghalangi cinta kita, Emma.” Mereka pun saling berpelukan. Emma tenggelam dalam pelukan Sebastian sambil menangis haru. Mereka tahu, bahwa hari itu adalah hari terakhirnya mereka bertemu sebelum bangsa peri Musim Panas dan bangsa peri Musim dingin berperang. Mereka tahu, mungkin di hari esok salah satu dari mereka akan sirna dan kembali ke dalam pohon jiwa. Pohon jiwa, pohon yang menyimpan jiwa peri peri yang telah sirna. Entah itu Emma atau Sebastian yang akan sirna, mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan kini adalah bagaimana caranya untuk bertahan hidup dan mengukir kisah yang nantinya akan menjadi sebuah sejarah romantis.
Tibalah hari yang diramalkan itu. Hari dimana bangsa peri Musim Dingin dan Musim Panas berperang untuk membuktikan siapa yang paling pantas untuk membuat sebuah musim di bumi. Emma saat ini sedang berlari di koridor istana Musim Dingin. Brrak, “Ayahanda!!” Emma membuka pintu lalu berlari ke arah ayahnya. “Ayahanda, kumohon. Hentikan semua peperangan ini. Semua dapat dibicarakan dengan baik dengan pihak lawan, ayahanda.” Kata Emma perlahan sembari mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal senggal. Plakk, ayah Emma menampar Emma. “Bodoh! bicara apa kamu ini?!! apa kamu tidak sadar juga bahwa ibumu telah dibunuh oleh bangsa mereka!. Jangan bilang ini semua karena peri jantan gelandangan dari pihak musuh kita?!. Kamu memang anak yang benar benar bodoh, Emma! sadarlah! dia hanya memanfaatkanmu!.” Ayah Emma marah besar. “Ayahanda…” kata Emma lirih memegangi pipinya yang panas akibat tamparan ayahnya. Dia menyeka airmatanya yang hanya tinggal di ujung bulu mata. “Itulah mengapa ayahanda tidak pernah mengerti! itulah mengapa ayahanda kehilangan ibunda! itulah mengapa Ayahanda bisa kehilangan semuanya!. Oh, ternyata ramalan kambing tua betina itu benar apa adanya. Bahwa ada seorang raja yang tidak pernah mau memikirkan perasaan orang orang di sekitarnya. Sehingga dia tenggelam dalam kebenciannya sendiri. Dan satu lagi, Ayahanda. Sebastian bukanlah seorang Gelandangan! bahkan ia jauh lebih berharga dibandingan denganmu!” bentak Emma yang menggema di seluruh sudut ruangan ayahnya itu. Lalu Emma bergegas pergi meninggalkan ayahnya begitu saja.
“Persiapan sudah siap, Tuanku.” kata Sebastian. “Bagus.” kata Raja Musim Panas tersenyum puas. “Tetapi, tuanku…” Sebastian tidak berani meneruskan perkataannya itu. “Ada apakah gerangan?” tanya sang raja itu. “Bukankah lebih baik kita berdamai dengan bangsa peri Musim dingin? seperti membuat kesepakatan yang bijak, Tuanku?” kata Sebastian. “Hahahahaha” raja itu malah tertawa terbahak bahak. “Sebastian, dengarlah. Ada hal yang perlu kau ketahui dan ada pula yang tidak. Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Kita harus mempersembahkan kerja keras kita dan membuktikan kepada dunia bahwa perbedaan tidak menjadi halangan. Biarlah mereka tertusuk belati, namun di dalamnya akan ada sesuatu yang tidak pernah sirna.” kata Raja itu. Entah mengapa kata kata itu seperti merasuk ke dalam pikiran Sebastian. Kata kata yang membakar semangat Sebastian. Dia ingin membuktikan kepada dunia bahwa tidak hanya romeo dan juliet saja yang merasakan apa artinya cinta. Mereka, bangsa peri pun juga bisa merasakan cinta.“Bidik!” Suara menggelegar. “Bersiap!” Para prajurit segera menarik pelontar. “Tembak!!” Ribuan anak panah berjatuhan di antara dua belah pihak. Bersamaan dengan itu, pasukan antara dua belah pihak saling menyerbu. Sebastian dengan gagah berani menunggangi kuda dan mulai mengayunkan pedangnya. Mempertaruhkan anatara hidup dan matinya demi Emma. Sementara itu, sebagai seorang wanita, Emma dilarang ikut berperang. Dia tetap tinggal di kamar istana bersama adiknya, Noe.
“Matahari kan bersinar. Menyinari alam. Di dalamnya ada cinta yang selalu terukir indah. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Memperjuangkan cinta. Memperjuangkan hati. Berjuang antara hidup dan mati. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang…” Emma bersenandung. Noe hanya mendengarkan. Adik perempuan Emma itu (Noe) mulai menguap lalu terlelap di atas kaki Emma. “Ian.., Ku kan selalu menunggumu.” Emma pun ikut terlelap.
Di dalam mimpinya Emma seperti berada di sebuah padang ilalang dengan cuaca yang sedikit mendung. Itu berarti Peri musim Panas dan Peri musim dingin sedang berperang. Ia duduk di bawah rindang pohon yang kini terlihat seperti rambut karena mendungnya langit. Emma mulai menangis. Ia menyesali apa yang digariskan oleh dewa untuknya. Ia menyesali perbuatannya saat 2 tahun yang lalu. Seharusnya hari itu dia tidak pergi ke hutan, ia mungkin tidak akan bertemu dengan Sebastian. Jika dia tidak pergi, mungkin Sebastian tidak pernah terjebak keadaan yang seperti ini. Ia mungkin tak pernah terlibat dalam peperangan yang memuakan ini. Ini semua salah Emma yang telah jatuh cinta padanya. Ia menyesali pertemuannya dengan Sebastian 2 tahun yang lalu karena sama saja dia membawa Sebastian menuju bahaya. Di dalam pikirannya hanya terdapat ‘jika dia’, ‘ia mungkin tak akan’, dan penyesalan penyesalan lainnya. Tanpa Emma sadari, munculah seekor kuda dengan penunggangnya yang gagah berani. Tubuhnya tegap. Rahang wajahnya kokoh. Ia berhenti di depan Emma. Tangan yang dingin itu menyentuh Emma. “Emma.. Jangan sesali apa yang pernah kita lakukan. Jangan pernah sesali itu. Mungkin setelah ini akan ada suatu pertanda yang akan membuatmu sadar bahwa aku memang tak pantas untukmu. Aku tidak berhasil Emma. Aku tidak berhasil menjadi Kesatriamu. Maafkan aku Emma.” Kata Sebastian lirih. Saat saat ini adalah saat saat yang sama dengan hari terakhir mereka bertemu lusa lalu. Tangis Emma semakin mejadi jadi. Ia jatuh ke dalam pelukan terdalam Sebastian. Namun kali ini sebastian ikut menangis. Dua sejoli di bawah naungan peperangan dan kehancuran. Hanya ada si awan hitam yang mempunyai pertanda. Mereka menguras seluruh sisa airmatanya. Lalu seketika itu munculah seberkas cahaya perpaduan antara kuning saga dan biru muda. Mereka menangis haru. Tak lagi menyesali apa yang dilalui selama ini. Lalu jatuh dalam hangatnya sentuhan bibir mereka yang sekian lama menanti keajaiban. Bibir yang sudah lama kelu menahan kata kata yang tercekat antara tenggorokan. Bibir yang sudah lama menangis berteriak meronta ronta. Mata mereka yang lelah itu terpejam sesaat. Menikmati setiap inci dari narasi saat ini. Emma tahu ini hanya ilusi. Tetapi tetap saja, ia ingin menumpahkan segalanya disini. Setetes sisa airmata terkhirnya menjadi cerah dan mengalir jatuh tepat di tangan Sebastian. Saat Emma membuka mata, narasi dan ilusi indah tadi telah berakhir. Ia menangis tak henti henti. Ia tersadar bahwa Sebastia telah sirna. Ia kembali ke pohon jiwa. Tak kuasa menahan sedih, Emma kabur dari istana dan menuju titik peperangan. Meninggalkan Noe yang masih tidur dengan lelapnya.
Ketika sampai disana, Emma histeris. Ia seolah tak percaya bahwa pertanda itu benar. Lututnya lemas, bibirnya kembali kelu, ia pun terjatuh tepat di samping mayat Sebastian. Air matanya telah habis, namun ia sedih sekali. Matanya terbelalak. Senada kemudian dia berteriak sekencang kencangnya lalu menangis darah. Darah dari matanya itu memenuhi wajahnya. Peperangan seketika itu berhenti karena teriakan Emma. Semua orang memandang Emma yang memeluk mayat sebstian itu. “S-sebastian…, kumohon… bangunlah. Aku akan menggantikan tempatmu. Sebastian!!” Darah semakin deras mengalir dari pelupuk matanya. Ia tak kuat menahan semua ini. Pikiran nostalgia bersama Sebastian pun muncul di kepalanya. Seperti layar proyektor yang tiba tiba hidup sendiri. Ia semakin tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam. Kubangan di dalam hatinya menjadi semakin besar dan membesar. Wajahnya dipenuhi darah segar dan darah kering. Sejurus kemudian dia mengambil pedang dan bunuh diri tepat di samping mayat sebastian. Brukk, tubuhnya terhantuk tanah. “Matahari kan bersinar. Menyinari alam. Di dalamnya ada cinta yang selalu terukir indah. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Kesatria kan menjemputku dengan gagah berani. Memperjuangkan cinta. Memperjuangkan hati. Berjuang antara hidup dan mati. Entah apa yang kau fikir. Cinta ini tak kan pernah hilang….” Disaat saat terakhirnya Emma bersenandung. Lagu yang menggambarkan kisah cinta mereka yang gagal namun tak pernah padam. Bak Adam dan Hawa dari kalangan peri. Bak Romeo dan Juliet yang menempuh kisah cinta yang haru dan menyakitkan. Emma dan Sebastian pun kembali ke Pohon Jiwa dengan damai dan tenang.
Karena kejadian itu, Raja peri Musim Panas dan Raja peri Musim Dingin berdamai. Mereka memutuskan menyelesaikan semua ini dengan cara yang aman dan kekeluargaan. Maka sejak dari itu, para pemimpin bangsa peri musim membagi waktu dan wilayah atas musimnya sendiri sendiri. Seperti musim panas di indonesia yang muncul pada bulan April – September dan musim dingin di indonesia yang muncul pada bulan Oktober – April. Akhirnya Kisah bak Adam dan hawa, Rama dan Shinta, Romeo dan Juliet, dan juga Ahei dan Ashima dari bangsa peri ini membuat musim musim menjadi berdampingan. Cinta yang tak pernah menjadi warna yang bias dan indah itu memberi bukti bahwa mereka mampu menaklukkan seluruh dunia peri musim karena kisanya.
TAMAT