“Apa!!! Masa iya gue sih? Nggak.. Nggak..! Kalian tau sendirikan gue itu nggak bisa ngelakuin hal seperti ini!” Ucapnya menolak keputusan rapat tersebut.
“Sel kita percaya kok kalau lo bisa ngelakuin ini, apalagi kita tau kalau lo itu orangnya sangat tegas dan jujur. Jadi, lo harus mau nerima keputusan dari kita!”
“Sel kita percaya kok kalau lo bisa ngelakuin ini, apalagi kita tau kalau lo itu orangnya sangat tegas dan jujur. Jadi, lo harus mau nerima keputusan dari kita!”
Gisel masih tak percaya dengan keputusan rapat tadi. Gisel berjalan menyusuri koridor dengan perasaan bimbang, hingga tanpa sadar ia telah menabrak seseorang yang sedang berjalan di depannya.“Sorry..Sorry gue nggak sengaja, lo nggak apa-apakan?” Ucapnya merasa bersalah.
“Iya nggak apa-apa kok. Lu kenapa sih? Muka kok kusut gitu?”
“Gini Ren gue tadi kan ikut rapat, masa iya sih gue kepilih sebagai ketua panitia penyelenggara MOS? Lo tau sendiri kan, gue itu orangnya suka ceroboh dan pasti gue bakal buat malu diri gue sendiri.” Ucapnya khawatir
“Gisel lo itu harusnya bersyukur karena lo kepilih sebagai ketua panitia. Tapi bukannya Rio yang harus jadi ketua panita yah? Secara diakan ketua osis di sekolah”
“Lo nggak tau sih, si Rio udah dipecat gara-gara udah buat kasus diosis”
“Kasus? Kasus apaan?”
“Duh Rendy!! Lo banyak nanya yah? Udah gue ke kelas dulu” ucapnya meninggalkan Rendy yang saat itu masih memperhatikannya.
“Andai aja lo tau Sel kalau selama ini gue suka sama lo” Batin Rendy sambil terus memperhatikan gadis itu dari jauh.
“Gini Ren gue tadi kan ikut rapat, masa iya sih gue kepilih sebagai ketua panitia penyelenggara MOS? Lo tau sendiri kan, gue itu orangnya suka ceroboh dan pasti gue bakal buat malu diri gue sendiri.” Ucapnya khawatir
“Gisel lo itu harusnya bersyukur karena lo kepilih sebagai ketua panitia. Tapi bukannya Rio yang harus jadi ketua panita yah? Secara diakan ketua osis di sekolah”
“Lo nggak tau sih, si Rio udah dipecat gara-gara udah buat kasus diosis”
“Kasus? Kasus apaan?”
“Duh Rendy!! Lo banyak nanya yah? Udah gue ke kelas dulu” ucapnya meninggalkan Rendy yang saat itu masih memperhatikannya.
“Andai aja lo tau Sel kalau selama ini gue suka sama lo” Batin Rendy sambil terus memperhatikan gadis itu dari jauh.
Keesokan harinya SMA Kartini telah dipenuhi oleh siswa-siswi baru yang berpakaian seperti badut. Gisel berjalan menaiki panggung untuk memberi sedikit arahan kepada semua siswa baru tersebut.
“Oke semua! Hari ini adalah hari pertama kalian menjalani MOS jadi saya harap kalian semua tidak berbuat onar apalagi sampai melawan kepada kakak kelas kalian. PAHAM!!”
“PAAHHHAAMM KAK!!” Semua siswa baru.
“Oke semua! Hari ini adalah hari pertama kalian menjalani MOS jadi saya harap kalian semua tidak berbuat onar apalagi sampai melawan kepada kakak kelas kalian. PAHAM!!”
“PAAHHHAAMM KAK!!” Semua siswa baru.
Setelah apel siswa-siswi mulai dikenalkan tentang sekolah beserta tata tertib sekolah, namun di sudut lain Gisel melihat Rio sedang mengerjai siswa baru.
“Sin lo stay disini dulu yah gue ada urusan sebentar.” Ucapnya berjalan meninggalkan Sinta
“Mau kemana sih tu anak?”
“Mau kemana sih tu anak?”
Gisel berjalan menuju ke arah Rio dengan perasaan kesal.
“Maksud lo apa?” Ucapnya mendorong Rio.
“Gue nggak ada maksud apa-apa? Gue cuma beri pelajaran ke dia karena dia nggak ngehormatin gue!”
“Ingat yah Rio! Lo udah nggak ada hak dalam urusan ini! Jadi, gue minta lo pergi dari sini!!”
“Maksud lo apa?” Ucapnya mendorong Rio.
“Gue nggak ada maksud apa-apa? Gue cuma beri pelajaran ke dia karena dia nggak ngehormatin gue!”
“Ingat yah Rio! Lo udah nggak ada hak dalam urusan ini! Jadi, gue minta lo pergi dari sini!!”
Ketika Gisel sedang berdebat dengan Rio tiba-tiba saja 3 orang cewek datang dan mencapuri urusan mereka.
“Gisel baru jadi ketua panitia udah songong!” Ucapnya membela Rio.
“Wil lo nggak punya urusan yah dengan ini! Jadi mending lo diam!”
Perdebatan terus terjadi sampai akhirnya salah satu guru pembimbing datang menghentikan perdebatan itu, dan suasana kembali seperti semula lagi. MOS hari ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dan bel pulang baru saja berbunyi, semua siswa-siswi baru dibolehkan untuk pulang.
“Gisel baru jadi ketua panitia udah songong!” Ucapnya membela Rio.
“Wil lo nggak punya urusan yah dengan ini! Jadi mending lo diam!”
Perdebatan terus terjadi sampai akhirnya salah satu guru pembimbing datang menghentikan perdebatan itu, dan suasana kembali seperti semula lagi. MOS hari ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan dan bel pulang baru saja berbunyi, semua siswa-siswi baru dibolehkan untuk pulang.
Hari kedua dan terakhir MOS berjalan sangat lancar tanpa ada gangguan sama sekali, Rio dan Wilona hanya bisa memandangi Gisel dan panitia lain dari jauh dengan penuh rasa dendam.
Keesokan harinya saat Gisel berjalan menuju perpustakaan ia melihat Rio dan Wilona berjalan mendekatinya.
“Mau kemana lo?”
“Bukan urusan lo!”
“Eh! Lo jangan mentang-mentang udah ngambil jabatan gue terus lo mau seenaknya yah sama gue!!”
“Inget yah! Gue nggak pernah ngambil jabatan lo! Lo sendiri yang ngasih jabatan itu ke gue!” Ucapnya dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Bukan urusan lo!”
“Eh! Lo jangan mentang-mentang udah ngambil jabatan gue terus lo mau seenaknya yah sama gue!!”
“Inget yah! Gue nggak pernah ngambil jabatan lo! Lo sendiri yang ngasih jabatan itu ke gue!” Ucapnya dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Saat di perpustakaan Gisel bertemu dengan Rendy yang saat itu sedang membaca buku, Gisel mendekati Rendy dan mulai menuangkan perasaan yang sedang ia alami saat ini.
“Jadi lo sekarang maunya gimana?” Tanya Rendy
“Gue nggak tau! Oh yah, lo baca apa sih?”
“Gue kasih tau juga lo nggak bakal ngerti!”
“Yee enak aja! Ya udah deh gue balik yah!”
“Jadi lo sekarang maunya gimana?” Tanya Rendy
“Gue nggak tau! Oh yah, lo baca apa sih?”
“Gue kasih tau juga lo nggak bakal ngerti!”
“Yee enak aja! Ya udah deh gue balik yah!”
Gisel barjalan menyusuri koridor sekolah dan cukup banyak adik kelas yang pengen minta foto sama dia.
Hari-hari seakan berat buat Gisel semenjak ia dipilih sebagai ketua osis di sekolahnya. Rio dan Wilona terus berusaha menjatuhkan pamor Gisel namun usaha mereka hanya sia-sia itu malah menjadikan Gisel semakin terhormat dan disenangi banyak murid. Hingga saat itu ketika Wilona ingin mengerjai gadis itu dengan menumpahkan minuman ke seragamnya Rio dengan spontan mendorong gadis itu dan akhirnya seragam Rio yang jadi basah, Wilona merasa bingung melihat tingkah laku Rio.
“Rio!! Lo kenapa tadi lindungin Gisel?” Tanyanya berjalan mengikuti Rio.
“Apaan sih! Udah yah Wil gue capek terus ngerjain dia. Lo liatkan semakin kita ngerjai dia semakin nama dia itu naik!” Ucapnya meninggalkan Wilona, Wilona yang melihat sikap Rio seperti itu merasa kebingungan.
“Jangan-jangan dia udah mulai suka sama gadis nyebelin itu? Nggak! Itu nggak akan terjadi pokoknya Rio harus jadi pacar gue bukan Gisel” Batin Wilona yang merasa kesal. Telah banyak cara yang dilakukan Wilona untuk bisa dekat dengan Rio, namun sayang Rio hanya mengabaikan dirinya.
“Apaan sih! Udah yah Wil gue capek terus ngerjain dia. Lo liatkan semakin kita ngerjai dia semakin nama dia itu naik!” Ucapnya meninggalkan Wilona, Wilona yang melihat sikap Rio seperti itu merasa kebingungan.
“Jangan-jangan dia udah mulai suka sama gadis nyebelin itu? Nggak! Itu nggak akan terjadi pokoknya Rio harus jadi pacar gue bukan Gisel” Batin Wilona yang merasa kesal. Telah banyak cara yang dilakukan Wilona untuk bisa dekat dengan Rio, namun sayang Rio hanya mengabaikan dirinya.
2 minggu berlalu begitu cepat Rio mulai terlihat mendekati Gisel dan Rendy sadar akan hal itu, Gisel yang saat itu sedang berjalan tiba-tiba terhenti oleh panggilan Rio.
“Eh lo, ada apa?” Ucapnya
“Lo mau ke perpus kan? Hmm bareng yuk.”
“Wait! Sejak kapan lo suka ke perpus?”
“Lo mau ke perpus kan? Hmm bareng yuk.”
“Wait! Sejak kapan lo suka ke perpus?”
Rio hanya menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Gisel menuju perpustakan dan saat di perpustakaan Rio mulai bersikap aneh pada Gisel ia mulai berbicara aneh pada Gisel.
“Sel gue tau gue nggak seharusnya ucapin ini, gue tau gue udah sering buat salah sama lo dan gue nggak tau kenapa semakin gue ngerjain lo semakin gue ngerasa hal aneh seperti ini.” Ucapnya sembari memegang tangan Gisel.
“Rio maksud lo apa sih gue nggak ngerti” ucapnya merasa bingung
“Gue suka sama lo Sel!! Gue mau lo jadi pacar gue”
“Rio maksud lo apa sih gue nggak ngerti” ucapnya merasa bingung
“Gue suka sama lo Sel!! Gue mau lo jadi pacar gue”
Mendengar itu Gisel kaget dan merasa tak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Rio, Rendy yang melihat hal itu merasa tersakiti dan segera pergi meninggalkan perpustakaan. Saat pulang sekolah Rio mengajak Gisel pulang bersama dan itu semakin menyakinkan Rendy kalau mereka telah resmi jadian, Rendy hanya bisa menahan air matanya melihat kedekatan Gisel dan Rio.
Saat weekend tiba Rendy berencana mengajak Gisel pergi menemui anak yatim seperti weekend sebelumnya namun ketika ia ingin menghubungi Gisel ia tersadar bahwa Gisel sekarang telah bersama Rio. Di sisi lain Gisel yang merasa kebingungan karena sikap Rendy langsung menghubunginya.
“Halo Ren! Lo dimana?”
“Gue ada di pantai? Ada apa?”
“Kok lo nanya ada apa sih? Lo kok nggak jemput gue? Lo marah yah sama gue?”
“Nggak kok, udah yah gue lagi sibuk”
“Gue ada di pantai? Ada apa?”
“Kok lo nanya ada apa sih? Lo kok nggak jemput gue? Lo marah yah sama gue?”
“Nggak kok, udah yah gue lagi sibuk”
Gisel mulai merasa ada yang tidak beres, ia langsung mengambil tas dan pergi menuju panti asuhan. Saat Gisel sampai di pantai asuhan ia melihat Rendy yang baru saja akan pulang, seketika ia berlari ke arah motor Rendy.
“Ren! Lo kenapa sih?” Ucapnya.
“Ngapain lo disini? Udah lo pulang aja, gue juga mau balik kok!” Ucapnya cuek dan pergi meninggalkan Gisel. Gisel merasa aneh dan kebingungan dengan sikap Rendy barusan.
Tak jauh dari tempat Gisel berdiri terlihat Rendy yang saat itu mengendarai motor dengan kecepatan penuh sehingga membuat Gisel semakin khawatir dan tiba-tiba saja Gisel melihat Rendy bertabrakan dengan motor yang ada di depannya.
“RENDYYY..!!!” Teriak Gisel dan berlari ke arah Rendy.
Gisel langsung meminta tolong dan membuka helm Rendy.
“Ren.. Sadar Ren!! Please!” Ucapnya merasa sangat khawatir. Warga yang ada disana langsung membawa Rendy ke rumah sakit terdekat sedang Gisel mencoba menghubungi keluarga Rendy.
“Ngapain lo disini? Udah lo pulang aja, gue juga mau balik kok!” Ucapnya cuek dan pergi meninggalkan Gisel. Gisel merasa aneh dan kebingungan dengan sikap Rendy barusan.
Tak jauh dari tempat Gisel berdiri terlihat Rendy yang saat itu mengendarai motor dengan kecepatan penuh sehingga membuat Gisel semakin khawatir dan tiba-tiba saja Gisel melihat Rendy bertabrakan dengan motor yang ada di depannya.
“RENDYYY..!!!” Teriak Gisel dan berlari ke arah Rendy.
Gisel langsung meminta tolong dan membuka helm Rendy.
“Ren.. Sadar Ren!! Please!” Ucapnya merasa sangat khawatir. Warga yang ada disana langsung membawa Rendy ke rumah sakit terdekat sedang Gisel mencoba menghubungi keluarga Rendy.
Di rumah sakit Gisel tak henti-hentinya menangis, ia terus berdoa agar tak terjadi apa-apa kepada Rendy. Dari kejauhan terlihat keluarga Rendy yang baru saja datang.
“Nak, Rendy gimana?” Ucap Mami Viona
“Rendy lagi diperiksa sama dokter tante dari tadi dokter belum keluar, Gisel nggak tau apa yang harus Gisel lakukan!! Gisel takut tante” ucapnya
Mami Viona langsung memeluk Gisel dan saat dokter keluar tiba-tiba saja dokter menyuruh Gisel untuk masuk ke ruangan.
“Nak, Rendy gimana?” Ucap Mami Viona
“Rendy lagi diperiksa sama dokter tante dari tadi dokter belum keluar, Gisel nggak tau apa yang harus Gisel lakukan!! Gisel takut tante” ucapnya
Mami Viona langsung memeluk Gisel dan saat dokter keluar tiba-tiba saja dokter menyuruh Gisel untuk masuk ke ruangan.
“Ren! Lo kenapa? Kenapa lo kayak gini?” Ucapnya dengan tangisan kecil
“Ngapain lo nangis? Gisel yang gue kenal nggak kayak gini.” Ucapnya mengusap air mata gadis itu.
“Gue nggak bisa lihat keadaan lo kayak gini!!”
“Sttsssts!! Sel lo tau nggak gue udah 2 tahun kenal sama lo dan lo tau nggak kalau selama ini gue itu merhatiin lo.”
“Gue tau Ren, lo merhatiin gue karena lo nggak mau gue kenapa-kenapa kan?”
“No!! Gue merhatiin lo karena selama ini gue suka sama lo! Gue sayang sama lo! Dan lo tau nggak ketika gue tau lo pacaran sama Rio hati terpukul dan gue merasa udah nggak ada gunanya lagi gue hidup. Selama tanpa lo sadar gue udah jadiin lo cinta pertama gue.”
Mendengar itu Gisel terdiam dan tertunduk ia tak dapat menahan air matanya yang terus membasahi pipinya.
“Ngapain lo nangis? Gisel yang gue kenal nggak kayak gini.” Ucapnya mengusap air mata gadis itu.
“Gue nggak bisa lihat keadaan lo kayak gini!!”
“Sttsssts!! Sel lo tau nggak gue udah 2 tahun kenal sama lo dan lo tau nggak kalau selama ini gue itu merhatiin lo.”
“Gue tau Ren, lo merhatiin gue karena lo nggak mau gue kenapa-kenapa kan?”
“No!! Gue merhatiin lo karena selama ini gue suka sama lo! Gue sayang sama lo! Dan lo tau nggak ketika gue tau lo pacaran sama Rio hati terpukul dan gue merasa udah nggak ada gunanya lagi gue hidup. Selama tanpa lo sadar gue udah jadiin lo cinta pertama gue.”
Mendengar itu Gisel terdiam dan tertunduk ia tak dapat menahan air matanya yang terus membasahi pipinya.
“Ren kenapa lo nggak ngomong kalau lo sebenarnya sayang sama gue! Lo pikir cuma lo yang jadiin gue sebagai cinta pertama lo? Gue juga udah suka dari dulu sama lo!! Gue pikir lo nggak bakal suka sama cewek ceroboh kayak gue!”
“Justru sikap ceroboh lo yang buat gue suka sama lo. Sel gue mau lo janji sama gue lo nggak akan pernah ubah sikap lo itu?”
“Iya gue janji sama lo, gue nggak akan berubah! Tapi lo harus janji sama gue lo harus bertahan dan lo nggak boleh lemah”
Rendy hanya terdiam mendengar ucapan Gisel, ia sadar bahwa dia tak akan bertahan lama. Saat itu Rendy meminta tolong pada Gisel untuk memanggil keluarganya masuk ke dalam, dan saat maminya masuk Rendy meminta maminya berjanji.
“Mami nggak bisa Ren, lagian kamu kenapa ngomong kayak gitu? Mami yakin kamu pasti bisa bertahan!!”
“Mi! Hidup Rendy udah nggak lama lagi, Rendy mau mami ngasih CD yang ada dalam laci kamar Rendy ke Gisel. Rendy mohon Mi..” Ucapnya lemah.
“Justru sikap ceroboh lo yang buat gue suka sama lo. Sel gue mau lo janji sama gue lo nggak akan pernah ubah sikap lo itu?”
“Iya gue janji sama lo, gue nggak akan berubah! Tapi lo harus janji sama gue lo harus bertahan dan lo nggak boleh lemah”
Rendy hanya terdiam mendengar ucapan Gisel, ia sadar bahwa dia tak akan bertahan lama. Saat itu Rendy meminta tolong pada Gisel untuk memanggil keluarganya masuk ke dalam, dan saat maminya masuk Rendy meminta maminya berjanji.
“Mami nggak bisa Ren, lagian kamu kenapa ngomong kayak gitu? Mami yakin kamu pasti bisa bertahan!!”
“Mi! Hidup Rendy udah nggak lama lagi, Rendy mau mami ngasih CD yang ada dalam laci kamar Rendy ke Gisel. Rendy mohon Mi..” Ucapnya lemah.
Mami Viona hanya menatap anaknya itu dengan air mata yang terus menerus membasahi pipinya. Tiba-tiba saja jantung Rendy mulai melemah dan Rendy mulai kesulitan bernapas, Papi Rendy segera memanggil dokter namun sebelum dokter datang Rendy sudah tak tertolong lagi.
Keesokan harinya Gisel mendapat telepon dari Mami Viona. Ia kaget mendengar omongan Mami Viona dan Gisel segera bersiap-siap untuk pergi menuju rumah Rendy.
Saat di rumah Rendy, Gisel menatap Rendy dengan penuh penyesalan. Dan saat itu Mami Viona memberikan sebuah CD kepada Gisel.
“Ini apa tan?” Tanyanya
“Itu adalah CD dari Rendy, sebelum dia pergi Rendy sempat bilang buat ngasih ini ke kamu dan ini juga surat terakhir dari Rendy buat kamu.”
Gisel langsung memeluk Mami Viona dan Mami Viona mencoba bersikap tegar walau sebenarnya ia merasa sangat terpukul. Gisel tak dapat membendung air matanya ketika jenazah Rendy akan dimakamkan.
Saat di rumah Rendy, Gisel menatap Rendy dengan penuh penyesalan. Dan saat itu Mami Viona memberikan sebuah CD kepada Gisel.
“Ini apa tan?” Tanyanya
“Itu adalah CD dari Rendy, sebelum dia pergi Rendy sempat bilang buat ngasih ini ke kamu dan ini juga surat terakhir dari Rendy buat kamu.”
Gisel langsung memeluk Mami Viona dan Mami Viona mencoba bersikap tegar walau sebenarnya ia merasa sangat terpukul. Gisel tak dapat membendung air matanya ketika jenazah Rendy akan dimakamkan.
Saat kembali dari pemakaman Gisel segera menuju ke kamarnya dan membuka isi surat dari Rendy.
“Dear: Gisella Anastasia
Sejak aku ketemu kamu, aku merasa hari-hariku sangat berarti. Senyuman dan canda tawamu adalah kebahagian terbesar dalam hidupku..
Gisel aku tahu kita mempunyai perasaan yang sama. Bodohnya aku nggak bisa ngungkapin perasaan aku ke kamu, aku malah keduluan sama Rio.
Aku minta maaf saat kamu buat aku berjanji untuk bertahan aku hanya diam, itu karena aku tahu hidupku udah nggak lama lagi.
Gisel meskipun aku udah nggak ada tapi ingatlah satu hal aku selalu ada di samping kamu. Dan jangan lupa nonton CDnya yah..
I Love You..
Sejak aku ketemu kamu, aku merasa hari-hariku sangat berarti. Senyuman dan canda tawamu adalah kebahagian terbesar dalam hidupku..
Gisel aku tahu kita mempunyai perasaan yang sama. Bodohnya aku nggak bisa ngungkapin perasaan aku ke kamu, aku malah keduluan sama Rio.
Aku minta maaf saat kamu buat aku berjanji untuk bertahan aku hanya diam, itu karena aku tahu hidupku udah nggak lama lagi.
Gisel meskipun aku udah nggak ada tapi ingatlah satu hal aku selalu ada di samping kamu. Dan jangan lupa nonton CDnya yah..
I Love You..
Rendy.”
Gisel tak kuasa menahan air matanya ia terus menangis seperti anak kecil yang baru saja kehilangan permen. Ia mengambil CD dan mulai menonton isi CD itu dan saat melihat isi CD itu Gisel makin tak kuasa menahan air matanya.
“Kenapa lo harus ninggalin gue secepat ini Ren? Gue belum sempat bilang kalau sebenarnya gue nggak pernah jadian sama Rio!! Gue masih nunggu lo buat nembak gue. Hikss.. Hiks.. Hiks..!!”
Hari itu adalah hari ke-7 setelah kepergian Rendy. Gisel berdiri tepat di makam Rendy sambil memegang bunga anggrek kesukaan Rendy.
Gisel menatap ke arah makam Rendy dan menaruh bunga di atas makam Rendy dan tentu saja air mata menetes dari mata Gisel. Gisel segera berdiri dan berjalan meninggalkan makam Rendy…
Gisel menatap ke arah makam Rendy dan menaruh bunga di atas makam Rendy dan tentu saja air mata menetes dari mata Gisel. Gisel segera berdiri dan berjalan meninggalkan makam Rendy…
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar